Sekelompok prajurit Myanmar di Yangon. (Foto: AFP)
Sekelompok prajurit Myanmar di Yangon. (Foto: AFP)

Myanmar Blokade Ratusan Situs Berita dan Ancam Jurnalis

Internasional konflik myanmar
Arpan Rahman • 01 April 2020 18:00
Yangon: Pemerintah Myanmar memblokade ratusan situs berita dan juga tetap memutus akses internet di sejumlah wilayah di negara tersebut. Tidak hanya itu, Myanmar juga mengancam sejumlah jurnalis dengan berbagai hukuman, termasuk vonis penjara seumur hidup.
 
Selasa kemarin, Myanmar mendakwa seorang jurnalis dengan menggunakan pasal terorisme. Jurnalis itu didakwa karena menerbitkan sebuah wawancara dengan Arakan Army, sebuah grup pemberontak yang meminta perluasan otonomi untuk wilayah Rakhine. Arakan Army telah dilabeli Myanmar sebagai organisasi teroris.
 
Nay Myo Lin, pemimpin redaksi Voice of Myanmar, terancam hukuman penjara seumur hidup. Situs berita telah diblokade, begitu juga dengan sejumlah media lainnya yang meliputi situasi seputar Rakhine, rumah bagi jutaan Muslim Rohingya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Phil Robertson, Wakil Direktur Human Right Watch untuk wilayah Asia, menyebut dakwaan terhadap Nay Myo sebagai sesuatu yang absurd.
 
"Sudah jelas mereka (Pemerintah Myanmar) ingin menyingkirkan bentuk peliputan apapun yang tidak bisa mereka kendalikan," kata Robertson, dinukil dari Guardian, Rabu 1 April 2020.
 
Militer Myanmar telah berulang kali menggugat media atas peliputan tertentu, terutama mengenai Rakhine. Myanmar juga telah menginstruksikan layanan operator seluler untuk memblokade 221 situs berita, dengan klaim ratusan kantor berita tersebut telah menyebar berita bohong yang berpotensi menggoyang stabilitas negara.
 
Langkah keras Myanmar terhadap media semakin meningkatkan kekhawatiran mengenai apakah negara tersebut patuh terhadap putusan terbaru pengadilan internasional, yang meminta agar pemerintahan Aung San Suu Kyi mengimplementasikan "sejumlah langkah" untuk melindungi Rohingua di Rakhine.
 
"Meski Sekretaris Jenderal PBB telah menyerukan gencatan senjata global sehingga masyarakat dapat memerangi covid-19, militer di Myanmar justru bertindak lebih keras dalam mencegah munculnya informasi independen dari Rakhine," ungkap Robertson.
 
"Hal ini mengindikasikan militer Myanmar tidak mendengarkan apapun yang diucapkan Sekjen PBB," lanjutnya.
 
Mengenai covid-19, jumlah infeksi di negara tersebut mencapai 15 dengan satu kematian per Rabu ini.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif