Bentrokan pendemo di Myanmar dengan pasukan keamanan. Foto: AFP.
Bentrokan pendemo di Myanmar dengan pasukan keamanan. Foto: AFP.

Pasukan Keamanan Myanmar Bentrok dengan Kelompok Antijunta

Internasional konflik myanmar Myanmar Kudeta Myanmar Protes Myanmar
Marcheilla Ariesta • 22 Juni 2021 18:46
Mandalay: Pasukan keamanan Myanmar bentrok dengan kelompok milisi yang baru dibentuk di kota Mandalay. Dua orang dilaporkan menjadi korban dalam bentrokan dengan pasukan keamanan yang didukung kendaraan lapis baja tersebut.
 
"Pertempuran telah dimulai akan ada lebih banyak perkelahian," kata seorang anggota milisi yang diidentifikasi sebagai Kapten Tun Tauk Naing, dilansir dari Channel News Asia, Selasa, 22 Juni 2021.
 
Hingga saat ini, pertempuran yang melibatkan milisi bersenjata ringan hanya terjadi di kota-kota kecil dan daerah pedesaan. Namun, sebuah kelompok baru, Pasukan Pertahanan Rakyat Mandalay mengatakan anggotanya merespons usai militer menyerbu salah satu pangkalan mereka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Suara tembakan senjata berulang kali terdengar dalam rekaman video yang diambil salah seorang penduduk di desa itu. Sekitar 20 orang dari militer melakukan serangan terhadap kelompok yang memicu baku tembak tersebut.
 
Pejabat lain dari kelompok milisi mengatakan enam anggota mereka ditangkap dan dua lainnya tewas. Juru bicara junta belum berkomentar terkait hal ini.
 
Myawaddy Television (MWD) milik tentara, dalam sebuah laporan di saluran pesan Telegram, mengatakan pasukan keamanan telah menggerebek sebuah rumah dan "teroris bersenjata" yang melawan dengan senjata kecil dan bom.
 
Baca juga: Sambangi Rusia, Pemimpin Junta Myanmar Komitmen Kerja sama Keamanan
 
Mereka melaporkan empat "teroris" tewas dan delapan lainnya ditangkap. Sementara itu, beberapa pasukan keamanan terluka parah.
 
Penguasa militer Myanmar mencap pemerintah bayangan, Pemerintah Persatuan Nasional yang menentang junta, sebagai kelompok teroris. Mereka menyalahkannya atas pengeboman, pembakaran, hingga pembunuhan.
 
Majelis Umum PBB pada Jumat lalu menyerukan penghentian aliran senjata ke Myanmar. Mereka mendesak militer Myanmar menghormati hasil pemilihan umum pada November lalu, dan membebaskan tahanan politik, termasuk pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif