Petugas penyelamat di lokasi tambang yang dipenuhi air dan membuat pekerja tenggelam. Foto: AFP
Petugas penyelamat di lokasi tambang yang dipenuhi air dan membuat pekerja tenggelam. Foto: AFP

113 Penambang Giok Tewas Tertimbun Lumpur di Myanmar

Internasional myanmar tambang runtuh
Fajar Nugraha • 02 Juli 2020 14:23
Yangon: Mayat dari 113 penambang batu giok dikeluarkan dari lumpur pada Kamis 2 Juli. Para penambang tewas setelah tanah longsor terjadi di wilayah tambang Myanmar.
 
Hujan di saat angin muson memperburuk kondisi yang sudah mematikan. Puluhan orang meninggal setiap tahun saat bekerja di industri batu giok yang sangat menguntungkan, tetapi tidak disertai dengan regulasi baik.
 
Para pemilik tambang umumnya yang menggunakan pekerja migran bergaji rendah untuk mengikis permata yang sangat didambakan di Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Tanah longsor melanda Kamis pagi di dekat perbatasan Myanmar dan Tiongkok di negara bagian Kachin setelah hujan lebat,” kata Departemen Pemadam Kebakaran Myanmar di Facebook.
 
"Para penambang giok dihantam oleh banjir lumpur. Proses pencarian dan penyelamatan masih berlangsung,” ujar pernyataan itu, seperti dikutip AFP, Kamis, 2 Juli 2020.
 
Para pekerja sedang mencari batu permata yang berharga di daerah pegunungan yang tajam di Kota Hpakant, di mana alur-alur dari penggalian sebelumnya yang telah membuat tanah semakin rawan.
 
Foto yang diposting di halaman Facebook menunjukkan tim pencarian dan penyelamatan mengarungi lembah yang tampaknya dibanjiri oleh tanah longsor.
 
Tambang batu giok terbuka telah menandai area terpencil Hpakant dan membuat permukaan tanah seperti halnya dataran bulan. Tanah longsor yang fatal di daerah itu biasa terjadi, dan para korban seringkali berasal dari komunitas etnis miskin yang mencari sisa-sisa yang ditinggalkan oleh perusahaan besar.
 
Watchdog Global Witness memperkirakan bahwa industri ini bernilai sekitar USD31 miliar pada 2014, meskipun sangat sedikit yang mencapai kas negara.
 
Sumber daya alam Myanmar yang melimpah -,termasuk batu giok, kayu, emas, dan kuning,- membantu membiayai kedua sisi perang saudara selama puluhan tahun antara pemberontak etnis Kachin dan militer Myanmar.
 
Pertarungan untuk mengendalikan tambang dan pendapatan yang mereka bawa sering menjebak warga sipil setempat berada di tengah konflik.

 

(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif