Kehadiran vaksin amat dinantikan untuk melawan pandemi covid-19. Foto: AFP
Kehadiran vaksin amat dinantikan untuk melawan pandemi covid-19. Foto: AFP

Tiga Cara ASEAN untuk Raih Akses Vaksin Covid-19

Internasional asean covid-19 vaksin covid-19
Fajar Nugraha • 24 November 2020 16:12
Hanoi: Pandemi covid-19 turut memukul negara-negara anggota ASEAN. Vaksin kini menjadi harapan agar kondisi normal terbentuk kembali.
 
Namun keberadaan vaksin di era pandemi ini tentu menjadi rebutan tiap negara yang ingin menyembuhkan keadaan. ASEAN sebagai sebuah organisasi internasional turut berupaya untuk memperoleh vaksin tersebut.
 
Tetapi apa yang bisa dilakukan oleh ASEAN agar bisa menjami ketersediaan vaksin bagi warganya yang mencapai lebih dari 600 juta itu. Dr Eduardo Banzon, spesialis kesehatan dari Asian Development Bank (ADB) memaparkan beberapa mekanisme agar ASEAN bisa mengamankan pasokan vaksin.

1. Covax

Mekanisme global yang disebut COVAX disediakan untuk negara-negara yang kurang mampu membeli vaksin covid-19. Covax juga mengatur cara subsidi pengadaan vaksin covid-19, baik untuk negara berkembang di asean seperti Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos dan Vietnam serta Myanmar. Negara dengan pendapatan menengah seperti Thailand, Singapura dan Malaysia juga bergabung dengan COVAX.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dr Banzon mengatakan, kalau tidak salah, seluruh negara ASEAN sudah tergabung dalam iniasiatif COVAX. “Jadi COVAX mencoba untuk meraih kesepakatan vaksin sebanyak dua miliar dosis, mereka tidak berniat untuk memperoleh satu miliar dosis,” ujar Dr Banzon, dalam ASEAN Media Forum yang berlangsung secara virtual, Selasa 24 November 2020.
 
“Itu satu cara. ASEAN harus dukung COVAX, semakin kuat fasilitasnya maka makin banyak dosis yang bisa diperoleh untuk negara berkembang. Tetapi COVAX hanya bisa memberikan vaksin kepada negara hingga 20 persen dari populasinya,” sebut Banzon.
 
Skema COVAX merupakan inisiatif yang dibentuk oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama GAVI dan negara-negara besar serta produsen vaksin. Inisiatif ini dimaksudkan untuk memastikan vaksin covid-19 bisa tersebar merata ke seluruh dunia.

2. Produksi vaksin

Jika ASEAN memfasilitasi produksi vaksin covid-19, entah apapun jenis vaksin itu, seperti dari AstraZenica, Pfizer ataupun Moderna, maka kemungkinan memiliki vaksin lebih besar.
 
“Jadi, daripada dunia saling bersaing untuk pasokan yang terbatas, lebih baik kita membangun pasokan itu lebih banyak,” ucap Dr Banzon.
 
“Kita tahu (beberapa negara) ASEAN mampu untuk membuat vaksin, baik itu di Indonesia, Vietnam, Thailand dan Singapura. Jadi jika ada cara dari ASEAN untuk memfasilitasi negara ini membantu produksi vaksin, diharapkan dosis tambahan itu bisa disalurkan untuk ASEAN,” tegasnya.

3. Pesan kolektif

Dr Banzon menilai ASEAN bisa memesan vaksin sebagai bentuk organisasi kawasan seperti halnya Uni Eropa dengan pengecualian Inggris.
 
“UE bersatu dalam aliansi dan kemudian memberikan uang pangkal untuk pemesanan vaksin. Mereka tidak menawar dalam bentuk satu negara individu,” tutur Banzon.
 
“Ini salah satu cara yang bisa dilakukan ASEAN, terutama melalui skema COVAX di luar batas dosis 20 persen dari populasi sebuah negara. Sayangnya Indonesia telah melakukan pembelian sebagai individu. Tetapi itu wajar terjadi,” ungkapnya.
 
Namun Banzon menilai, seharusnya ASEAN bisa duduk bersama dan mengupayakan cara menambah pasokan vaksin dengan memproduksi sendiri. ASEAN jauh lebih baik dalam hal ini.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif