Mahathir Mohamad (kanan) dan Anwar Ibrahim. (AFP/Anadolu Agency/Adli Ghazali)
Mahathir Mohamad (kanan) dan Anwar Ibrahim. (AFP/Anadolu Agency/Adli Ghazali)

Mahathir Nilai Anwar Ibrahim Tak Bisa Menjadi PM yang Baik

Internasional anwar ibrahim politik malaysia mahathir mohamad
Willy Haryono • 14 November 2020 17:25
Kuala Lumpur: Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menilai bekas anak didiknya, Anwar Ibrahim, tidak akan bisa menjadi PM yang baik. Pernyataan disampaikan Mahathir dalam wawancara bersama Malaysian Insight yang dirilis pada Sabtu, 14 November 2020.
 
Padahal Mahathir pernah berjanji akan menyerahkan kekuasaan kepada Anwar usai menang dalam pemilu di Malaysia pada 2018.
 
Baca:  Anwar Ibrahim Mengaku Terbuai Janji Mahathir Mohamad

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Anwar tidak akan bisa menjadi PM yang baik, karena dia tidak melakukan tugasnya dengan benar dalam rentang waktu dua bulan di tahun 1997," ujar Mahathir, merujuk pada Krisis Finansial Asia pada tahun tersebut.
 
Saat terjadi krisis kala itu, Mahathir sempat cuti sejenak dari pekerjaannya selama dua bulan. Anwar, yang saat itu merupakan wakil PM, menggantikan tugas Mahathir untuk sementara.
 
Menurut Mahathir, performa Anwar saat menggantikan dirinya di tahun 1997 tidak sesuai ekspektasinya.
 
"Saya menguji kemampuannya saat saya masih menjadi perdana menteri. Saya berlibur selama dua bulan, dan Anwar mengambil alih kekuasaan. Kami sedang mengalami krisis ekonomi saat itu, dan anjuran-anjurannya tidak membantu memulihkan kondisi finansial negara," sebut Mahathir, dilansir dari laman Mothership.
 
"Itulah mengapa saya harus mengambil alih tugas menteri keuangan dan mengusulkan rencana-rencana untuk menyelamatkan negara dari krisis ekonomi. Saya tidak tahu bagaimana masyarakat melihat hal ini, tapi sudah jelas saat krisis finansial 1997, Anwar tidak mampu menanganinya," sambung dia.
 
Pada 1997, Mahathir sempat berselisih paham dengan Anwar terkait penanganan krisis ekonomi, terutama mengenai anjuran dari Dana Moneter Internasional (IMF). Kala itu, Mahathir memecat Anwar yang kemudian menjadi kepala Parti Keadilan Rakyat (PKR).
 
Juni lalu, Anwar membuat tulisan panjang mengenai responsnnya terhadap krisis 1997. Ia membela kinerjanya kala itu, dan mengkritik pendekatan Mahathir.
 
Menurut laporan Malay Mail, Anwar mengaku tidak langsung menerima rekomendasi IMF. Namun ia menegaskan melihat rekomendasi IMF sebagai kesempatan untuk mereformasi sistem pemerintahan yang dipenuhi tindakan korupsi.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif