Prajurit Ukraina berpatroli di wilayah Lugansk. (AFP)
Prajurit Ukraina berpatroli di wilayah Lugansk. (AFP)

AAYG Ajak Dunia Tidak Tutup Mata Soal Pengembangan Senjata Biologis AS

Internasional Amerika Serikat ukraina rusia Rusia-Ukraina Perang Rusia-Ukraina
Marcheilla Ariesta • 19 April 2022 19:07
Jakarta: Presiden Asian African Youth Government (AAYG) Saddam Al-Jihad mengecam indikasi pengembangan senjata biologis Amerika Serikat (AS) di berbagai kawasan. Salah satunya berada di Ukraina.
 
Saddam menjelaskan, indikasi adanya aktivitas pengembangan senjata biologis dan beracun AS di Ukraina bertentangan dengan Biological Weapon Convention (BTWC). Jika dibiarkan, maka dunia berada di ambang kehancuran.
 
"Sebagai generasi muda, kita mencita-citakan kehidupan yang lebih damai, tentram, aman, dan maju. Namun, impian itu kapan saja direnggut oleh keegoisan sebuah negara yang tidak mematuhi aturan main dunia internasional seperti Amerika yang ditemukan telah mengembangkan senjata biologis dan beracun di Ukraina," ujar Saddam di Jakarta, Selasa, 19 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Saddam, Science and Technology Center in Ukraina (STCU) berada di bawah kepentingan Washington dengan menjadi pusat distribusi dana hibah penelitian, termasuk pengembangan senjata biologis. STCU tersebut berpusat di Kiev dan memiliki cabang di Baku, Kishenev, Tbilisi, Kharkov dan Lviv.
 
"Dalam beberapa tahun belakangan ini, Amerika telah menghabiskan 350 juta dolar AS atau setara dengan 5 triliun rupiah dalam merealisasikan proyek-proyek STCU. AS berlindung dibalik penelitian yang memiliki tujuan ganda," ucapnya.
 
"Hasil penelitian STCU berpotensi menciptakan kondisi biologis yang tidak diharapkan, tidak hanya di wilayah Federasi Rusia, tetapi juga di Laut Hitam, Laut Azov, di negara-negara Eropa Timur lainnya seperti Belarus, Moldova dan Polandia. Tentunya ini juga berpotensi menyebar ke wilayah lain, dan sangat mengerikan ketika itu benar-benar terjadi," sambung Saddam.
 
Ia juga mengutip beberapa sumber lain terkait indikasi keterlibatan para ilmuwan AS dari Laboratorium di Merefa, Ukraina. Di sana, kata Saddam, mereka menguji obat biologis yang mengancam keamanan pasien rumah sakit jiwa klinis antara 2019 dan 2021.
 
"Pasien rumah sakit jiwa tersebut dipilih untuk uji coba. Hasil dari uji coba tidak dimasukkan ke dalam sistem rumah sakit, sedangkan staf rumah sakit dilarang mengungkapkan informasi dari hasil tes," tuturnya.
 
Selanjutnya, Saddam berharap masyarakat internasional tidak menutup mata atas kegiatan-kegiatan AS soal pengembangan senjata biologis tersebut. Ia pun meminta negara-negara lain dan PBB menyoroti hal ini secara serius.
 
Baca:  AS Bantah Klaim Rusia Terkait Laboratorium Senjata Biologis di Ukraina
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif