Warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh. Foto: AFP
Warga Rohingya yang mengungsi di Bangladesh. Foto: AFP

Akui Pembantaian Rohingya, Nasib Prajurit Myanmar Tak Jelas

Internasional myanmar rohingya
Fajar Nugraha • 09 September 2020 16:07
Den Haag: Pengadilan Kriminal Internasional (International Criminal Court/ICC) menerima video pengakuan dua prajurit Myanmar yang melakukan pembantaian terhadap etnis Rohingya pada 2017 lalu. Tidak jelas nasib dari kedua prajurit itu.
 
Baca: Dua Prajurit Myanmar Akui Bantai Etnis Rohingya.
 
Secara eksplisit kedua prajurit itu mengatakan bahwa mereka menjalankan perintah atasan untuk menembak dan membunuh siapun etnis Rohingya yang tampak di depan mata.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tidak jelas apa yang akan terjadi pada kedua pria tersebut, yang tidak ditahan tetapi secara efektif dalam pengawasan di Pengadilan Kriminal Internasional pada Senin.
 
Mereka bisa memberikan kesaksian dalam proses pengadilan dan ditempatkan dalam perlindungan saksi. Mereka bisa diadili. Kantor kejaksaan pengadilan menolak berkomentar secara terbuka atas kasus yang sedang berlangsung, tetapi dua orang yang mengetahui investigasi tersebut mengatakan bahwa orang-orang tersebut telah diinterogasi secara ekstensif oleh pejabat pengadilan dalam beberapa pekan terakhir.
 
Pengadilan Pidana Internasional biasanya mengejar penuntutan terhadap tokoh-tokoh tingkat tinggi yang dituduh melakukan pelanggaran berat seperti genosida atau kejahatan terhadap kemanusiaan, bukan tentara berpangkat tinggi.
 
Payam Akhavan, seorang pengacara Kanada yang mewakili Bangladesh dalam gugatan terhadap Myanmar di Pengadilan Kriminal Internasional, tidak akan berkomentar tentang identitas kedua pria tersebut. Namun dia meminta pertanggungjawaban untuk mencegah kekejaman lebih lanjut terhadap 600.000 Rohingya yang tetap di Myanmar.
 
“Pengampunan bukanlah pilihan. Sedikit keadilan lebih baik daripada tidak ada keadilan sama sekali,” kata Akhavan, seperti dikutip dari The New York Times, Rabu 9 September 2020.
 
Pengakuan Prajurit Zaw Naing Tun dan Prajurit Myo Win Tun juga akan menambah bobot pada kasus terpisah di Mahkamah Internasional, di mana Myanmar dituduh mencoba untuk "memusnahkan Rohingya sebagai sebuah kelompok, secara keseluruhan atau sebagian, dengan menggunakan pembunuhan massal, pemerkosaan dan bentuk lain dari kekerasan seksual, serta pengrusakan sistematis oleh api di desa mereka."
 
Kasus itu diajukan tahun lalu oleh Gambia atas nama 57 negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Minggu lalu, Belanda dan Kanada mengumumkan bahwa mereka akan memberikan dukungan hukum untuk upaya meminta pertanggungjawaban Myanmar atas genosida, menyebutnya sebagai “masalah yang menjadi perhatian semua umat manusia."
 
Pada Agustus 2017, Batalyon Infanteri Ringan 353 dan 565 melakukan "operasi pembersihan" di daerah-daerah yang menjadi lokasi kejadian yakni, Kota Buthidaung dan Maungdaw. Perwira komandan yang dikatakan Prajurit Myo Win Tun memerintahkannya untuk memusnahkan Rohingya. Para perwira itu diidentifikasi sebagai, Kolonel Than Htike, Kapten Tun Tun dan Sersan Aung San Oo. Pengakuan prajurit, mereka sedang beroperasi di sana pada saat pembantaian.
 
“Ada menara sel di dekat pangkalan Batalyon Infanteri Ringan 552, di pinggiran kota Taung Bazar. Di tempat itu saya membantu menggali kuburan massal,” ujar Prajurit Myo Win Tun.
 
Pangkalan itu terkenal karena, bersama dengan belasan pos penjaga perbatasan, diserang oleh pemberontak Rohingya pada 25 Agustus 2017. Serangan inilah yang memicu operasi militer brutal terhadap warga sipil Rohingya.
 
Pengungsi Rohingya yang tinggal di sebuah desa yang berdekatan dengan perkemahan 552 mengatakan, mereka mengenali Prajurit Myo Win Tun. Mereka mendeskripsikan secara rinci lokasi dari dua kuburan massal di daerah itu. Penduduk yang masih berada di wilayah tersebut, yang berbicara dengan The New York Times, juga mengatakan mereka mengetahui situs pemakaman massal di dekat perkemahan militer.
 
Basha Miya, yang sekarang menjadi pengungsi di Bangladesh, mengatakan neneknya dimakamkan di salah satu kuburan massal di pangkalan itu. Dia dimakamkan bersama dengan setidaknya 16 orang lainnya dari desa tetangga Thin Ga Net, yang dikenal dalam bahasa Rohingya sebagai Phirkhali.
 
“Ketika mengingatnya, saya hanya menangis. Saya merasa tidak enak karena tidak bisa memberinya pemakaman yang layak,” ungkap Miya.
 
“Setelah tentara membuang mayat di dua kuburan di tepi kanal, mereka membawa buldoser untuk menutupi mayat,” kata saksi mata.
 
Prajurit Myo Win Tun mengatakan, dia dan rekan lainnya menguburkan delapan wanita, tujuh anak dan 15 pria dalam satu kuburan.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif