Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno. (KBRI Berlin)
Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno. (KBRI Berlin)

RI-Jerman Bertukar Pengalaman dalam Hadapi Covid-19

Internasional indonesia-jerman
Marcheilla Ariesta • 29 September 2020 07:08
Jakarta: Pandemi virus korona telah menjangkiti lebih dari 30 juta warga dunia, termasuk warga Indonesia dan Jerman. Karenanya, kedua negara saling bekerja sama dengan bertukar pengalaman dalam menghadapi pandemi covid-19 ini.
 
Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegroseno menuturkan bahwa Indonesia dan Jerman sebenarnya sudah saling bekerja sama di bidang kesehatan sejak kurang lebih 500 tahun lalu.
 
"Sudah sejak 500 tahun lalu, kedua negara saling bekerja sama di bidang kesehatan. Dan saat ini, menurut saya ada tiga cara bagaimana kita bisa menghidupkan kembali kerja sama tersebut di tengah pandemi seperti saat ini," ujar Havas, dalam webinar CSIS, Germany-Indonesia Strategic Dialogue 'The Future of International Cooperation in Public Health', Senin, 28 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tiga cara itu antara lain pemerintah dan pemerintah, industri dan industri, serta akademis dan akademis.
 
Untuk pemerintah dan pemerintah, Havas mengatakan sebenarnya sudah ada regulasi kerja sama yang tertuang di Jakarta Declaration. Namun, harus ada diskusi lagi mengenai hal tersebut.
 
Dalam industri dan industri, Havas menuturkan bahwa Jerman perlu melirik Biofarma milik Indonesia. Perusahaan manufaktur vaksin itu sudah diakui dunia dan kapasitas Biofarma untuk memproduksi vaksin juga sangat besar.
 
Sedangkan cara ketiga adalah akademis dan akademis. Lewat cara ini, para peneliti, akademisi, dan pelajar Indonesia bisa saling bertukar pengalaman dan kemampuan untuk bersama-sama atasi pandemi tersebut.
 
Baca:RI-Jerman Jalin Kerja Sama Pengembangan SDM
 
Sementara itu, di kesempatan yang sama, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof mengatakan bahwa Jerman dinilai sebagai salah satu negara yang berhasil menahan laju infeksi covid-19.
 
Schoof menjelaskan hal ini bisa terjadi karena Jerman memperbanyak uji swab bagi warganya. Dengan demikian, kata dia, bisa terlacak dengan benar mereka yang terinfeksi.
 
"Kapasitas tes itu bisa menjadi strategi kedepannya apa yang harus dilakukan negara kita. Yang terpenting adalah virus berada di bawah kendali kita, dengan begitu baru bisa kita atasi," serunya.
 
Selain itu, kata dia, sejak awal pandemi Negeri Bavaria telah memercayai para peneliti mereka. "Kita jadi tahu bagaimana sains bisa sangat berpengaruh dalam menghadapi pandemi seperti sekarang ini," ujarnya.
 
Per hari ini, angka kematian global akibat covid-19 telah melampaui satu juta kasus. Sementara itu, total kasus covid-19 di dunia telah melampaui 33 juta.
 
Sedangkan jumlah pasien yang telah dinyatakan sembuh mencapai lebih dari 22 juta orang.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif