Debat bakal calon Presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden menggebrak. Foto: AFP
Debat bakal calon Presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden menggebrak. Foto: AFP

Joe Biden Makin Garang Hadapi Pilpres AS 2020

Internasional joe biden Pilpres AS 2020
Arpan Rahman • 13 September 2019 17:08
Houston: Bakal calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, Joe Biden melakukan serangan ofensif dalam debat Demokrat ketiga dari perlombaan ke Gedung Putih 2020. Ia berseteru dengan para saingan utamanya mengenai masalah perawatan kesehatan di Amerika dan menangkis serangan dari para penantang yang kurang berbakat.
 
Di bawah tekanan untuk memimpin,-dan menepis keraguan tentang staminanya,-Biden yang berusia 76 tahun menyerang sengit tokoh liberal Bernie Sanders dan Elizabeth Warren dalam pertarungan hampir tiga jam di Houston, Texas.
 
Sementara 10 anggota Partai Demokrat yang mengincar nominasi partai mendapatkan titik temu dalam tekad mereka menggulingkan Donald Trump, dan atas urgensi menanggulangi perubahan iklim, perbedaan mereka terlihat saat menyangkut reformasi perawatan kesehatan -- prioritas yang dinyatakan bagi mereka semua.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Trio pemungutan suara teratas terbelah dalam sorotan, Biden menyambar waktu yang paling banyak berbicara, tatkala kandidat lain berjuang untuk mendapatkan oksigen di panggung.
 
Sepanjang kampanye, Demokrat telah memisahkan antara pendukung pergolakan revolusioner dan perubahan bertahap, dan debat Kamis tidak berbeda. Dalam bentrokan ketat, Biden yang berhaluan moderat menuduh sesama lansia 70 tahunan, senator Sanders dan Warren, mendorong mimpi mengalir tanpa rencana untuk mendanai mereka.
 
"Saya menjelaskan bagaimana saya bisa membayarnya, bagaimana saya bisa menyelesaikannya, dan mengapa ini lebih baik," kata mantan wakil presiden itu tentang rencana kesehatannya, yang dibangun berdasarkan Undang-Undang Perawatan Terjangkau yang dikenal sebagai Obamacare.
 
Warren, bintang yang sedang naik daun di perlombaan, dan Sanders, fitur liberal dari kampanye 2016, masing-masing memasang pertahanan yang bersemangat.
 
"Saya tahu apa yang rusak, saya tahu cara memperbaikinya dan saya akan memimpin perjuangan untuk menyelesaikannya," janji Warren, disitat dari AFP, Jumat 13 September 2019.
 
Mengenai reformasi perawatan kesehatan, dia bersumpah "mereka yang berada di puncak" akan menanggung akibatnya, sementara Sanders berjanji untuk memastikan "setiap orang Amerika memiliki perawatan kesehatan sebagai hak asasi manusia."
 
Pertarungan tiga arah mereka mengawali maraton verbal, ketika saingan Demokrat menyoroti perbedaan pada imigrasi, tarif perdagangan, dan perang di Irak dan Afghanistan.
 
Tetapi mereka berdiri bersatu pada satu titik kunci: menyingkirkan Trump -- yang diserang beberapa kandidat sebagai rasis -- dari Gedung Putih.
 
"Ada peluang besar, sangat besar - begitu kita menyingkirkan Donald Trump," kata Biden.
 
Semua mata tertuju pada Biden untuk debat ketiga tentang apa yang tampak sebagai siklus pemilu yang menyakitkan, setelah musim panas kesalahan verbal menimbulkan keraguan tentang usia dan kejernihan mentalnya.
 
Tetapi Biden menghindari kesalahan yang memalukan di Houston dan menangkis serangan dari orang-orang seperti Sanders, yang menuduhnya melakukan "kesalahan besar" dalam memilih perang di Irak.
 
Biden mempertahankan cengkeramannya pada posisi terdepan dengan dukungan 26,8 persen, meskipun baru-baru ini turun, menurut rata-rata jajak pendapat yang disusun oleh RealClearPolitics.
 
Sanders, 78, membuntuti dengan dukungan 17,3 persen, sedikit di depan Warren 70 tahun yang meraup 16,8.
 
Biden menikmati dukungan kuat dari komunitas Afrika-Amerika dan dari orang kulit putih kelas pekerja yang menghargai daya tarik kerah birunya dan percaya bahwa ia mampu mengalahkan Trump.
 
Sementara Biden secara luas dianggap telah melampaui harapan, ada kinerja yang solid dari Senator Kamala Harris, mantan anggota kongres Beto O'Rourke, dan mungkin yang paling penting Warren -- yang membentuk sejumlah detail kebijakan terkait dengan anekdot pribadi.
 
"Elizabeth Warren secara diam-diam menghasilkan kinerja terbaik," profesor sejarah Universitas Princeton, Julian Zelizer menulis di CNN.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif