Rudal S-400 buatan Rusia yang dibeli oleh Turki. (Foto: AFP).
Rudal S-400 buatan Rusia yang dibeli oleh Turki. (Foto: AFP).

Trump Resmi Depak Turki dari Program Jet Tempur F-35

Internasional amerika serikat turki
Arpan Rahman • 18 Juli 2019 11:27
Washington: Donald Trump secara resmi mendepak Turki dari program jet tempur F-35 pimpinan Amerika Serikat. Keputusan diambil setelah Ankara menerima pengiriman sistem pertahanan udara Rusia, padahal Amerika keberatan.
 
Turki membeli sistem rudal tipe darat-ke-udara Triumf S-400 Rusia, meskipun AS berulang kali memperingatkan bahwa itu akan memungkinkan Kremlin mengumpulkan data intelijen pada salah satu pesawatnya yang paling canggih. Ankara juga menghadapi sanksi potensial AS atas pembelian sistem Rusia, yang telah memperparah keretakan antara kedua sekutu NATO.
 
Juru Bicara Gedung Putih berkata, sekarang "mustahil" bagi Turki terus menjadi bagian dari F-35, program senjata terbesar Pentagon dalam sejarah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bulan lalu, Pentagon menyurati Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar untuk menguraikan rencana AS mendepak Turki dari rantai pasokan manufaktur untuk F-35. F-35, sebuah pesawat tempur siluman bermesin tunggal, akan menggantikan armada F-16 yang ada di banyak negara NATO kini.
 
Pentagon juga memerintahkan pilot pelatihan Turki di F-35 di AS agar meninggalkan negara itu pada akhir bulan ini. Turki telah membeli sekitar 100 unit F-35 dan merupakan bagian dari program pengembangan pesawat tempur multinasional sejak awal lebih dari 25 tahun lalu.
 
“Mengalihkan produksi suku cadang F-35 buatan Turki ke pemasok lain akan menelan biaya antara USD500 juta hingga USD600 juta,” ujar seorang pejabat tinggi Pentagon, Ellen Lord, seperti dikutip Financial Times, Kamis, 18 Juli 2019.
 
Kendati Gedung Putih mengatakan S-400 menjadi "platform pengumpulan intelijen Rusia" yang merusak komitmen sekutu NATO. AS menegaskan akan tetap menjadi sekutu strategis Turki.
 
"Sebagai sekutu NATO, hubungan kami multiguna, dan tidak semata-mata fokus pada F-35," kata pernyataan Gedung Putih.
 
"Hubungan antar kami kuat, dan kami akan terus bekerja sama dengan Turki secara luas, mempertimbangkan kendala karena kehadiran sistem S-400 di Turki," sambungnya.
 
Seiring kemunduran dari program F-35, Turki menghadapi ancaman sanksi berdasarkan CAATSA, Undang-Undang Melawan Penentang Amerika Melalui Sanksi, yang menghukum pembelian persenjataan buatan Rusia secara signifikan. Undang-undang itu disahkan pada 2017 dalam upaya memastikan Trump tidak bisa bersikap lunak terhadap Moskow.
 
Ada dukungan kongresional bipartisan yang luas untuk sanksi AS terhadap Turki. Menurut legislasi yang tertunda di Capitol Hill atau Kongres AS, potensi pengabaian presiden kemungkinan menghadapi oposisi yang keras di Kongres.
 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berkata pada Minggu, mengharapkan Trump untuk "menemukan kompromi" atas pembelian tersebut. Alasannya bahwa Trump dapat "mengesampingkan atau menunda sanksi".
 
Beberapa hari terakhir, Trump mengulangi pernyataan simpatik atas argumen Turki bahwa mereka tidak punya pilihan selain membeli sistem S-400.
 
Pada Selasa, Trump menyalahkan pemerintahan Obama karena tidak menjual baterai rudal Patriot Turki daripada S-400, menggambarkan situasi Turki sebagai "tidak benar-benar adil".
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif