Ibu Imigran Mengadu ke Pengadilan AS untuk Dapatkan Anaknya Kembali

Arpan Rahman 29 Juni 2018 10:32 WIB
amerika serikat
Ibu Imigran Mengadu ke Pengadilan AS untuk Dapatkan Anaknya Kembali
Ilustrasi (Foto:Medcom/M Rizal)
Chicago: Imigran berusia 27 tahun asal Brazil, Lidia Karine Souza, berjuang sekuat tenaga untuk dapat bersatu kembali dengan anak laki-lakinya yang baru berumur sembilan tahun, Diogo, yang kini dalam tahanan pemerintah Amerika Serikat (AS) akibat kebijakan imigrasi ekstrim yang dijalankan Presiden AS Donald Trump.

"Ini adalah mimpi buruk," katanya, seperti dilansir Associated Press, Kamis 28 Juni 2018.

Ibu dan anak tersebut dipisahkan setelah menyebrangi perbatasan pada akhir Mei. Souza dibebaskan dari sebuah fasilitas imigrasi pada. Awalnya, dia hanya diminta mengisi hampir 40 halaman dokumen untuk mendapatkan hak asuh. Namun kemudian, dia disebut membutuhkan anggota keluarga yang telah tinggal di Negeri Paman Sam tersebut.


Pada Selasa, pengacara Souza mengajukan gugatan terhadap pemerintahan Donald Trump untuk menuntut putranya segera dibebaskan. Menurut pihak pengacara, Diogo sudah menghabiskan empat pekan di sebuah tempat penampungan di Chicago. Dia dilaporkan menderita penyakit cacar air selama karantina. Dia baru-baru ini merayakan ulang tahunnya yang ke-9 tanpa sang ibu.

"Kami berjuang dan terus percaya pada titik ini," sebut pengacara bernama Jesse Bless yang merupakan anggota dari tim legal yang membela Souza.

Selama berhari-hari dan berminggu-minggu sekarang, beberapa dari ratusan orang tua berpisah dari anak-anak mereka di perbatasan Meksiko oleh pemerintahan Trump. Mereka telah berjuang melawan salah satu sistem imigrasi paling rumit di dunia untuk menemukan anak-anaknya dan mendapatkan sang buah hati kembali.

Bagi banyak orang, itu adalah pertempuran yang berat sebelah, dan yang memilukan dan menyakitkan. Sebagian besar tidak bisa berbahasa Inggris. Banyak yang tidak tahu tentang keberadaan anak-anak mereka. Beberapa orang mengatakan bahwa panggilan mereka ke layanan informasi 1-800 pemerintah tidak dijawab.



(WAH)