KBRI Tak Miliki Data Akurat WNI Pencari Suaka di AS
Duta Besar RI untuk AS, Budi Bowoleksono (Foto: Sonya Michaella).
Jakarta: Banyaknya Warga Negara Indonesia (WNI) yang ingin mencari suaka dan berpindah-pindahnya WNI di Amerika Serikat (AS) tentu kerap menyulitkan pihak pemerintah, yaitu KBRI dan KJRI.
 
Menjadi pencari suaka berarti mereka berstatus tidak legal selama menunggu untuk mendapatkan status pengungsi. Sementara, kerap kali ditemukan WNI tak lapor ke KBRI atau KJRI jika akan berpindah negara bagian atau kota.
 
Duta Besar RI untuk AS, Budi Bowoleksono mengakui tim KBRI Washington DC dan KJRI New York tak memiliki data akurat soal banyaknya pencari suaka Indonesia yang masuk ke AS.
 
"Kita tidak punya data soal itu. Yang masuk removal list (daftar deportasi) juga kita tidak tahu persis. Pihak imigrasi AS tidak ada kewajiban untuk memberitahu kita," ucap Dubes Sony, akrab dia disapa, kepada awak media di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis 15 Februari 2018.
 
"Nah maka dari itu kita harus membangun jaringan baik dengan pihak imigrasi. Kadang-kadang sudah ada yang dipulangkan tapi ya kita tidak tahu karena yang bersangkutan mau untuk segera dipulangkan," lanjut dia.
 
Namun, ujar dia, saat ini KBRI Washington sedang mengembangkan sistem smart embassy di mana semua WNI yang ada di Amerika akan terdata sehingga memudahkan pihak pemerintah.
 
Menurut catatan KBRI Washington per 5 Februari 2018, terhitung ada 158.962 WNI yang tinggal dan tersebar di seluruh Amerika. 30 ribu di antaranya berada di bawah kendali KJRI New York.
 
"Yang sulit itu mendata WNI yang kerja informal di Amerika, misalnya mengasuh anak, bersihin rumah, bawa anjing jalan-jalan," tukas dia.
 
Mimpi sebagian WNI untuk mendapatkan hidup yang layak di AS memang tak mudah. Kini, proses untuk masuk Negeri Paman Sam seolah diperketat sejak Donald Trump jadi presiden dengan sederet perintah eksekutifnya yang menyerang para imigran.




(FJR)