Korban Penembakan Florida Geruduk Gedung Pemerintah
Siswa dari Marjory Stoneman Douglas hampiri para pejabat di Florida (Foto: AFP).
 Tallahassee: Berkaus hitam ‘Parkland Strong’, 40 remaja hati-hati memasuki ruang komite di gedung negara bagian Florida, Capitol, pada Rabu 21 Februari. Mereka tidak diundang dan anggota parlemen mereka ganggu sedang bersidang.

Malu-malu karena belum disilakan, mereka berdiri tegak. Dan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan: kesempatan untuk berbicara.

Itu mungkin tindakan pertama pembangkangan sipil yang pernah dilakukan oleh siswa sekolah menengah yang hidupnya tersentak sekitar satu pekan sebelumnya oleh tembakan yang menewaskan 17 teman dan guru mereka. Para remaja dengan sopan berdiri dan menceritakan kisah mereka kepada para politisi. Beberapa di antara pendengarnya sehari sebelumnya bersuara menentang larangan senjata.


"Saya harus melarikan diri demi menyelamatkan hidup saya," kata Erika Rosenzweig, siswa 15 tahun yang berambut gelap di Marjory Stoneman Douglas High School, Parkland. 

"Saya harus mendengarkan saat kematian dilaporkan. Saya tidak tahu di mana teman saya berada. Ini tidak bisa terjadi lagi," tegasnya, seperti dilansir AFP, Kamis 22 Februari 2018.

Ketika pengatur acara pertama kali mengumumkan bahwa mereka akan mengarahkan siswa ke ibukota negara bagian untuk melobi undang-undang senjata yang lebih ketat, hanya tersedia 100 tempat duduk, dan bus dengan cepat terisi. Rosenzweig dan sekitar 44 siswa lainnya melakukan perjalanan sekitar tujuh jam ke Tallahassee dengan dukungan sinagoga Parkland. 

Menjelang malam berakhir Rabu, para remaja akan bergabung dengan teman-teman sekelas mereka lainnya, yang menggelar demonstrasi bertajuk ‘Jangan Pernah Lagi’. Tapi ketika mereka pertama kali tiba, mereka tidak dapat sambutan. Mata-mata yang masih mengantuk setelah perjalanan jauh, para siswa berjalan menyusuri koridor panjang gedung ibu kota. Para staf cepat-cepat menyisih dari jalur untuk membiarkan mereka lewat. Banyak yang berterima kasih atau menghibur mereka.

Para siswa berhenti di lorong labirin untuk melihat jadwal dan peta bangunan, lalu menggeruduk kantor anggota dewan, Barrington Russell, seorang Demokrat yang mendukung kontrol senjata.

Aria Siccone, siswa 14 tahun di Stoneman Douglas, memegang sebuah tanda yang berbunyi: "Larang Senjata Pembunuh Sekarang." Kukunya dicat hitam, dan dia berkalung liontin kecil di lehernya. Dia berada di kelas yang ditembaki oleh penyerang. Pelaku diidentifikasi sebagai siswa berusia 19 tahun mantan siswa Stoneman Douglas, Nikolas Cruz.

"Saya melihat tiga teman sekelas saya saat itu di lantai dan mereka tidak bergerak," kata gadis itu, tersendat, hampir tidak mampu menyudahi ceritanya.

Anggota parlemen itu, penduduk asli Jamaika yang mengaku bahwa dia pernah diancam di bawah todongan senjata lebih dari sekali dalam hidupnya, bangkit dari kursinya. Ia merangkul Siccone.

"Untuk beberapa alasan, NRA (Asosiasi Senjata Nasional) memiliki cengkeram yang kuat terhadap beberapa rekan saya yang mencegah mereka melakukan hal yang benar," katanya.

Beberapa saat kemudian, para siswa, yang penuh percaya diri, keluar gedung Capitol, mengangkat slogan mereka, dan berjalan lurus ke depan, sambil berteriak, "Kami adalah MSD (Marjory Stoneman Douglas)! Kami akan membuat sejarah! "

Akhirnya mereka menghilang ke kerumunan, bergabung dengan pengunjuk rasa lainnya dan ribuan orang yang berkumpul untuk mendukung mereka.



(FJR)