AS Waspadai Taktik Baru ISIS di Wilayah Perairan

Arpan Rahman 06 Oktober 2018 20:03 WIB
isis
AS Waspadai Taktik Baru ISIS di Wilayah Perairan
Kapal Penjaga Pantai AS berpatroli di perairan New York dekat Patung Liberty, 27 Agustus 2018. (Foto: AFP/Getty/Drew Angerer)
New York: Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coastguard) telah menghadapi berbagai ancaman di wilayah perairan. Namun saat ancaman itu datang dari kapal tanpa pengemudi, maka AS harus mempersiapkan pendekatan baru.

"Muncul laporan di Timur Tengah bahwa ISIS mulai menggunakan kapal berisi bahan peledak yang dikemudikan dari jarak jauh. Kapal seperti itu merupakan tantangan signifikan bagi kami," ucap Letnan Komodor Devon Brennan, Komandan Tim Keselamatan dan Keamanan Penjaga Pantai AS (MSST) di New York, Jumat 5 Oktober 2018.

Brennan merujuk pada kelompok militan Islamic State yang beroperasi di Irak, Suriah dan wilayah sekitarnya.


MSST ditugaskan menjaga keamanan di pelabuhan serta terusan di seantero AS. Unit ini dibentuk pada 2002, dengan tugas utama merespons serangan terorisme, melindungi industri perkapalan dan infrastruktur perairan.

Seperti dikutip dari kantor berita Business Insider, tim Brennan mendemonstrasikan cara menghentikan kapal tak dikenal. Pendekatan Brennan dimulai dari peringatan verbal hingga ke tembakan peringatan.

Jika pengemudi kapal itu tidak juga merespons, maka MSST akan menembak bagian mesin dengan menggunakan peluru kosong.

Namun saat yang datang adalah kapal tanpa pengemudi, maka ancaman tersebut bersifat asimetrik.

Baca: Menhan Inggris Sebut ISIS Ancaman bagi Britania Raya dan Eropa

"Biasanya taktik kami adalah bagaimana agar nakhoda bisa menghentikan kapal dan mengikuti arahan. Tapi jika kapal itu dikendalikan dari jauh, dan pengendalinya tentu saja tidak khawatir mengenai keselamatannya, maka itu akan menjadi situasi yang sulit bagi kami," ungkap Brennan di atas kapal Sikinak.

"Kami punya taktik tersendiri untuk menghadapi jenis kapal seperti itu," tambah Brennan. Namun ia mengingatkan kemungkinan terburuk, "jika kapal itu berisi bahan peledak, dan kami melepaskan peluru tajam, maka ledakan pun akan terjadi."

Setelah mencoba mendirikan kekhilafahan di Irak dan Suriah pada 2014, kekuatan ISIS saat ini sudah melemah akibat operasi besar-besaran yang dilancarkan kedua negara tersebut.



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id