Hampir 30 Ribu Prajurit Afghan Tewas Sejak 2015
Sekelompok polisi bersiaga di Kabul, Afghanistan, 21 Agustus 2018. (Foto: AFP/WAKIL KOHSAR)
Washington: Kematian di kalangan pasukan keamanan Afghanistan mencapai hampir 30 ribu sejak awal 2015. Pernyataan disampaikan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dalam konferensi video di Johns Hopkins School of Advanced International Studies di Washington, Amerika Serikat.

Angka kematian ini dicatat usai pasukan Afghanistan menggantikan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam menangani sektor keamanan negara tiga tahun lalu.

"Sebanyak 28.529 prajurit Afghanistan telah kehilangan nyawa dan menjadi martir bagi kebebasan," tutur Ghani, seperti dilansir dari kantor berita AFP, Jumat 16 November 2018.


Dalam kurun waktu yang sama, 58 prajurit AS di Afghanistan juga tewas. "Saya salut terhadap patriotisme pasukan keamanan Afghanistan. Mereka semua relawan," ungkap Ghani.

"Tidak ada wajib militer di Afghanistan, tidak ada satu orang pun yang dipaksa menjadi prajurit. Jika tidak ada patriotisme, saya rasa tidak ada orang yang mau mempertaruhkan nyawa hanya untuk gaji USD200 (hampir Rp3 juta)," lanjut dia.

Baca: Gelombang Kekerasan di Pemilu Afghanistan Tewaskan 170 Orang

Tingginya angka kematian ini menggarisbawahi rapuhnya situasi keamanan di Afghanistan, di mana kelompok pemberontak Taliban terus beraksi dari waktu ke waktu. Sejumlah pihak juga mempertanyakan klaim Amerika Serikat yang menyebut pasukan Afghanistan sudah semakin efektif dalam beroperasi.

Lebih dari 17 tahun usai invasi yang dipimpin AS ke Afghanistan, konflik masih terus berkecamuk di negara tersebut. Pemerintahan Ghani dan juga AS terus mencari solusi agar konflik bisa segera berakhir.

Utusan AS untuk Afghanistan Zalmay Khalilzad berharap dapat memulai proses dialog damai dengan Taliban. Delegasi Taliban pernah bertemu Khalilzad di Doha pada Oktober lalu untuk mendiskusikan solusi dari konflik Afghanistan.



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id