Bendera PBB berkibar di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP).
Bendera PBB berkibar di markas besar PBB di New York, Amerika Serikat (AS). (Foto: AFP).

Satu dari Tiga Pekerja PBB Dirundung Pelecehan Seksual

Internasional pbb
Arpan Rahman • 17 Januari 2019 15:55
New York: Satu dari tiga pekerja Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah dilecehkan secara seksual dalam dua tahun terakhir. Hal ini terungkap dalam sebuah laporan PBB.
 
Sebanyak 30.364 staf dan kontraktor mengikuti survei pada November -- 17 persen dari jumlah total yang memenuhi syarat untuk melakukannya.
 
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan laporan itu-,dan tingkat responsnya ‘cukup rendah’,- menjadi tanda bahwa mereka "masih harus menempuh jalan yang panjang".

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laporan ini muncul di tengah gerakan global #MeToo melawan pelecehan seksual, perselingkuhan, dan penyerangan.
 
Guterres mengatakan jumlah peserta yang relatif rendah dalam survei bisa menjadi tanda "rasa ketidakpercayaan yang berkelanjutan, persepsi tidak ada yang bertindak, dan kurangnya akuntabilitas" di PBB.
 
“Survei tersebut memuat "beberapa statistik yang serius serta bukti apa yang perlu diubah guna membuat tempat kerja yang bebas pelecehan menjadi nyata bagi kita semua,” ujar Guterres, seperti disitir dari laman BBC, Rabu, 16 Januari 2019.
 
"Sebagai organisasi yang didirikan atas dasar kesetaraan, martabat, dan hak asasi manusia, kita harus meneladani dengan memberi contoh dan menetapkan standar," katanya.
 
Apa bunyi laporan itu?
 
Menurut survei, yang dilakukan Deloitte, lebih dari setengah dari mereka yang mengalami pelecehan seksual di PBB mengatakan aksi itu terjadi di lingkungan kantor, sementara 17,1 persen lainnya mengatakan itu terjadi di sebuah acara sosial terkait pekerjaan.
 
Lebih dari seperlima -- atau 21,7 persen -- mengatakan bahwa mereka diceritakan lelucon seksual yang tidak pantas.
 
Sementara 14,2 persen lainnya menerima komentar ofensif tentang penampilan, tubuh, atau aktivitas seksual mereka, dan 13 persen meminta para kolega ke dalam diskusi seksual yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
 
Dan 10,9 persen menjadi sasaran gerakan seksual atau peragaan gestur yang menyinggung atau mempermalukan mereka. Sekitar sepersepuluh -- 10,1 persen -- orang yang merespons disentuh secara tidak tepat.
 
Dua dari tiga pelecehan diperbuat laki-laki, kata laporan itu. Hanya satu dari tiga pekerja yang mengalami pelecehan seksual yang mengambil tindakan setelahnya.
 
Laporan itu muncul ketika kepala badan PBB untuk HIV dan AIDS bersiap-siap mundur pada Juni, enam bulan sebelum akhir masa jabatannya. Dia mundur karena adanya klaim intimidasi.
 
Panel independen menemukan bahwa "kepemimpinannya yang cacat" telah menoleransi "budaya perundungan, termasuk pelecehan seksual, penindasan, dan penyalahgunaan kekuasaan".
 
PBB juga dilanda serangkaian tuduhan pelecehan seksual dalam beberapa tahun terakhir, terutama ditujukan terhadap misi penjaga perdamaian di negara-negara Afrika.
 
Pada 2017, seorang penjaga perdamaian di Republik Demokratik Kongo dicopot menyusul klaim bahwa ia menjadi ayah seorang anak dari gadis di bawah umur. Dia adalah satu dari lima penjaga perdamaian yang dituduh melakukan pelecehan dan eksploitasi seksual dalam tiga bulan pertama tahun itu.
 
Setahun sebelumnya, pada 2016, lebih dari 100 penjaga perdamaian PBB dipulangkan dari Republik Afrika Tengah menyusul investigasi terhadap klaim pelecehan seksual.
 
Sebagai tanggapan, PBB telah berupaya meningkatkan transparansi dan memperkuat cara menangani berbagai tuduhan. Misalnya, dengan mengadopsi kebijakan 'mengumumkan nama pelaku dan mempermalukan' negara asal dari para pekerja yang dituduh melakukan pelecehan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi