Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) berpose bersama Presiden Venezuela Evo Morales dalam sebuah acara di Santa Cruz de la Sierra, 24 November 2017. (Foto: AFP/AIZAR RALDES)
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) berpose bersama Presiden Venezuela Evo Morales dalam sebuah acara di Santa Cruz de la Sierra, 24 November 2017. (Foto: AFP/AIZAR RALDES)

Venezuela dan Kuba Kecam Kudeta di Bolivia

Internasional bolivia
Willy Haryono • 11 November 2019 07:17
Caracas: Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengecam keras berlangsungnya "kudeta" di Bolivia, yang berujung pada mundurnya Evo Morales dari kursi kepresidenan pada Minggu 10 November.
 
Unjuk rasa di Bolivia dipicu tudingan kubu oposisi bahwa proses penghitungan suara dalam pemilu bulan lalu dipenuhi kecurangan.
 
"Kami mengecam kudeta terhadap saudara kami di Bolivia," ujar Maduro via Twitter, dikutip dari AFP. Ia menyerukan digelarnya gerakan politik dan sosial untuk melindungi kehidupan etnis pribumi di Bolivia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Maduro, sejumlah suku asli di Bolivia selama ini telah menjadi korban rasisme. Morales adalah presiden pertama Bolivia yang berasal dari etnis pribumi.
 
Seperti Venezuela, Kuba juga mengecam keras terjadinya kudeta di Bolivia. Morales mengaku mengundurkan diri dari jabatan presiden Bolivia karena tidak mau lagi melihat oposisi "menyakiti saudara-saudara saya semua."
 
Morales merujuk pada aksi kekerasan yang hampir selalu terjadi di tengah gelombang protes.
 
"Kuba berdiri tegak di belakang saudara kami, Presiden Evo Morales," kata Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez di Twitter. Ia menambahkan bahwa Morales adalah "seorang protagonis dan simbol dari perjuangan etnis pribumi di benua Amerika."
 
Sementara Meksiko menawarkan suaka kepada Morales. Penawaran disampaikan usai 20 pejabat Bolivia yang juga telah mundur, mencari perlindungan di Kedutaan Besar Meksiko di La Paz.
 
"Meksiko, sesuai dengan kebijakan suaka dan non-intervensi, telah menerima 20 pejabat Bolivia di La Paz. Jadi, kami juga menawarkan suaka serupa kepada Evo Morales," tutur Menlu Marcelo Ebrard di Twitter.
 
Jalanan kota La Paz mendadak dipenuhi selebrasi usai mundurnya Morales. Para demonstran menyalakan kembang api sembari mengibarkan bendera Bolivia yang berwarna merah, kuning dan hijau.
 
Keputusan mundur diambil Morales setelah dirinya kehilangan dukungan dari militer dan juga kepolisian.
 
Meski mundur, Morales menegaskan dirinya tidak lari dari tanggung jawab. "Saya tidak melarikan diri. Saya tidak mencuri apapun," tegasnya.
 
Ia berkukuh pemerintahannya selama ini telah menghasilkan sejumlah pencapaian sosial.
 
Bank Dunia mencatat pemerintahan Morales memang berjasa dalam menurunkan tingkat kemiskinan di Bolivia dari 45 persen di tahun 2010 menjadi 35 persen pada 2018.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif