Soal Tuntutan Hukuman Tio Pakusadewo, Dewi Irawan Konsultasi ke Humas BNN

Purba Wirastama 10 Juni 2018 18:51 WIB
selebritas dan narkoba
Soal Tuntutan Hukuman Tio Pakusadewo, Dewi Irawan Konsultasi ke Humas BNN
Dewi Irawan (Foto: Metrotvnews/Cecylia)
Jakarta: Aktris Dewi Irawan menilai tuntutan Jaksa Penuntut Umum Yaman terhadap Tio Pakusawo, terkait kasus penyalahgunaan narkoba, terlalu berlebihan. Sebagai salah satu langkah dukungan, dia berkonsultasi dengan Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional Kombes Pol Sulistiandriatmoko. 

"Berat, berat pembicaraannya tadi," kata Dewi di kantor BNN Cawang, Jakarta Timur, Minggu, 10 Juni 2018.

"Tadi dijelaskan kenapa JPU menuntut sampai segitunya, enam tahun (penjara) dan denda Rp800 juta subsider enam bulan. Ini sama kayak temannya Jedun (Raditya Argiebie) dituntut lima tahun. Kayaknya memang benar, harus dicari keadilan bersama Tio Pakusadewo," lanjut Dewi.


Sebagai informasi, Jennifer Dunn alias Jedun mendapat tuntutan delapan bulan penjara atas kepemilikan sabu 0,221 gram. Raditya, rekannya yang juga ditangkap karena narkoba, dituntut lima tahun penjara. Raditya terbukti memiliki sabu 0,016 gram.

Dewi enggan merinci bagaimana tanggapan Sulis. Dia juga menyebut pertemuan tersebut tidak mewakili BNN secara kelembagaan, melainkan hanya personal. 

"Ini hari Minggu, BNN tutup, jadi kami sekadar diskusi saja, apa saran-saran dari beliau (Sulis) – sebagai pribadi ya, kami bukan omong sebagai lembaga, untuk menghadapi sidang selanjutnya. Semoga (hasilnya) yang terbaik karena proses (hukum) masih berjalan. Jadi kami upayakan (dukungan)," ujar Dewi. 

Tio ditangkap di rumahnya di kawasan Ampera, Jakarta Selatan pada Desember 2017. Dari rumahnya, petugas menyita barang bukti berupa sabu seberat total 1,06 gram. 

Setelah dua kali ditunda karena JPU belum menyiapkan berkas, sidang tuntutan untuk Tio digelar di PN Jakarta Selatan pada Senin pekan lalu. Dalam sidang itu, JPU menuntut Tio dengan hukuman enam tahun penjara dan denda Rp800 juta subsider enam bulan kurungan. 

Berikutnya ada sidang pledoi, yang seharusnya digelar pada Kamis, 7 Juni, tetapi diundur sampai 28 Juni karena majelis hakim tidak datang. 

Menurut Dewi, dia dan teman-teman dari asosiasi Rumah Aktor Indonesia telah sepakat membantu Tio agar mendapat keringanan hukum. Mereka membantu menyiapkan pledoi untuk sidang berikutnya. 

Selain itu, mereka juga membuat gerakan khusus agar aspirasi mereka terdengar "kalangan atas" serta menggandeng sejumlah komunitas anti narkoba, seperti Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN) dan Generasi Peduli Anti Narkoba (GPAN).

"Supaya bagaimana gaungnya ini sampai, terdengar, bisa jadi perhatian, terutama hakim yang nanti memutuskan, kenapa JPU bisa sampai menuntut seperti itu, alasannya apa," ungkap Dewi.

"Nanti kami akan perbesar lagi gerakannya, semoga pihak yang lebih atas lagi bisa mendengar, bisa ada gaungnya," imbuhnya.



(DEV)