Arie Kriting (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)
Arie Kriting (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Kisah Arie Kriting Menghadapi Konflik Intoleransi Beragama

Hiburan Film Bumi Itu Bulat
Purba Wirastama • 14 Maret 2019 13:30
Jakarta: Arie Kriting mengisahkan pengalamannya berada di konflik horizontal pada masa lalu karena provokasi sentimen perbedaan agama. Komedian, aktor, dan penulis kelahiran 1985 ini khawatir kejadian serupa akan terjadi jika kasus intoleransi beragama dibiarkan begitu saja.
 
Cerita ini diungkap Arie ketika mengenalkan proyek film Bumi Itu Bulat kepada wartawan di kawasan Kemang, belum lama ini. Arie menjadi salah satu penggagas proyek film ini bersama GP Ansor, produser Robert Ronny, aktris Christine Hakim, serta desainer fashion populer Jenahara Nasution.
 
Bagi Arie, intoleransi adalah masalah serius dalam bangsa yang hidup dengan keberagaman agama dan etnis.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya pernah hidup di mana konflik itu ada di depan mata saya. Saya berhubungan langsung dengan itu," kata Arie.
 
"Oom saya mati di tangan orang lain, tante saya ditembak orang lain. Meninggal? Meninggal – hanya gara-gara isu agama yang dihembuskan oleh orang-orang tidak bertangung jawab. Saya pernah ada di titik itu," ungkapnya.
 
Menurut pria kelahiran Kendari ini, masjid tempatnya sholat dan mengaji pernah diledakkan dengan bom. Pelakunya, kata Arie, "bukan orang agama lain, tetapi oleh orang agama kami sendiri hanya untuk menciptakan konflik. Saya lihat langsung itu. Saat maghrib, kami baru pergi, tiba-tiba meledak, orang-orang berlari ke hutan. Pelakunya orang-orang itu sendiri."
 
"Konflik itu bakal ada di depan mata kita kalau kita tak waspada mulai dari sekarang, kalau kita tidak mencoba menghembuskan toleransi itu seperti apa," imbuhnya
 
Menurut pemilik nama lengkap Satriaddin Maharinga Djongki, toleransi perbedaan etnis dan agama hanya bisa terwujud jika orang-orang berlaku adil. Misalnya, setiap orang mendapatkan tanggung jawab atas dasar kemampuan dan bukan karena apa agama atau sukunya.
 
"Menurut saya, bangsa kita susah maju gara-gara itu. Lihat ini anaknya siapa, suku dari mana, agamanya apa, wah pusing! Akhirnya, orang-orang yang punya kemampuan tidak berada pada tempat yang seharusnya," tutur Arie.
 
Gagasan proyek film Bumi Itu Bulat menarik untuk Arie terlibat karena fokus utama cerita adalah isu toleransi perbedaan. Dia merasa film tersebut bisa menjadi jendela bagi khalayak untuk melihat kembali, bahwa perbedaan adalah rahmat yang harus disyukuri.
 
"Kadang kita tidak bersyukur, kita malah menjadikan itu alasan untuk terpecah belah, dan menurut saya, itu tidak asyik," kata Arie.
 
"Saya orang Timur, saya senang bermain dengan teman-teman agama dan suku lain. Kami suka lari sama-sama di lapangan, tekling orang, kadang berakhir dengan perseteruan, tetapi tidak apa-apa. Setidaknya itu masih menyenangkan karena kita tidak melihat perbedaan, kita menikmati perbedaan," pungkasnya.
 
Bumi Itu Bulat akan dirilis di bioskop pada 16 April 2018.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi