Gema Kolintang di Paris (Foto: dok. Franki Raden)
Gema Kolintang di Paris (Foto: dok. Franki Raden)

Suara Minahasa di Jantung Paris: Kolaborasi Bersejarah Kolintang dan Balafon Afrika Mengguncang UNESCO

Agustinus Shindu Alpito • 06 Oktober 2026 15:05
Ringkasnya gini..
  • Rhythm of Minahasa membawa musik kolintang ke markas UNESCO di Paris dan berkolaborasi dengan maestro balafon Afrika Barat.
  • Kolintang Minahasa dan balafon Afrika bertemu melalui kolaborasi yang mempertemukan tradisi Indonesia dengan Mali, Burkina Faso, dan Pantai Gading.
  • Rhythm of Minahasa membawakan lagu Nusantara, “La Vie en Rose”, “Alla Turca”, hingga “Winter Game” dalam pertunjukan di UNESCO Paris.
Jakarta: Di dalam ruang sidang Markas Besar UNESCO di Paris, ensembel musik tradisi Indonesia bergema ketika grup musik Rhythm of Minahasa (RoM) di bawah arahan music director Franki Raden, Ph.D., mengambil tempat di hadapan Dirjen UNESCO Khaled El-Enany dan Duta Besar RI untuk Prancis Mohamad Oemar, untuk memperdengarkan salah satu kekayaan tradisi kita yang distingtif. Di tempat itu, musik RoM yang memperdengarkan kolintang bertemu dengan instrumen balafon dari Pantai Gading (Ivory Coast), Burkina Faso, dan Mali.

Dari sudut pandang etnomusikologi, kolaborasi ini menyimpan kedalaman filosofis yang luar biasa. Baik kolintang maupun balafon adalah instrumen perkusi bilah kayu (wooden idiophones) yang lahir dari rahim kearifan lokal masyarakat agraris. Keduanya menggunakan prinsip organologi yang serupa bilah-bilah kayu khusus yang disusun di atas "tubuh" penopang dan dipukul untuk menghasilkan frekuensi nada tertentu.
 


Namun, dalam sejarah panjang musik dunia, kedua instrumen ini berkembang dalam isolasi ekosistem budaya masing-masing. Balafon Afrika Barat yang akar tradisinya telah lebih dulu diakui oleh UNESCO membawa karakter ritmis yang organik, perkusi yang poliritmik, serta kedekatan spiritual dengan tradisi griot (pencerita sejarah lisan). Di sisi lain, kolintang Minahasa telah bertransformasi dari sekadar alat musik ritual tradisional menjadi ensembel harmonis berskala diatonis yang mampu membawakan karya-karya klasik hingga kontemporer.

Ketika para maestro balafon dari Mali, Burkina Faso, dan Ivory Coast memadukan pukulan bilah kayunya dengan formasi RoM (yang digawangi oleh Ferdi, Aldy, Randy, Denny, Rafly, dan Depi), tercipta sebuah hibriditas bunyi yang menakjubkan. Ini adalah dialog antarbangsa yang melampaui sekat bahasa; bunyi kayu beresonansi dengan memori kolektif tentang tanah, hutan, dan leluhur.
 

Menembus Kanon Musik Universal

Kejeniusan sebuah ensembel etnik tidak hanya diukur dari seberapa murni mereka merawat tradisi, tetapi juga dari keberanian mereka membuka diri terhadap dunia luar. Di Paris, RoM membuktikan fleksibilitas estetika tersebut.

Repertoir yang dibawakan malam itu adalah sebuah manifesto lintas genre: mulai dari medley lagu-lagu daerah Nusantara, sentuhan romantis chanson Prancis “La Vie en Rose”, hingga mahakarya agung musik klasik Barat seperti “Alla Turca” karya Wolfgang Amadeus Mozart dan komposisi modern “Winter Game” karya David Foster.

Bagi seorang etnomusikolog, apa yang dilakukan RoM bersama para maestro balafon Afrika adalah dekolonisasi panggung konser global. Selama berabad-abad, musik tradisi kerap dipinggirkan sebagai eksotisme masa lalu, disimpan rapi di dalam museum antropologi. Namun, di hadapan para pengambil kebijakan dunia di UNESCO, kolintang dan balafon menunjukkan bahwa tradisi bukanlah artefak mati yang beku. Tradisi adalah entitas yang bernyawa, lentur, adaptif, dan memiliki kapasitas intelektual serta estetika yang setara dengan musik simfoni barat.
   

Pengakuan Peradaban dan Tonggak Sejarah PINKAN

Keberhasilan panggung di Paris ini tentu tidak lahir dalam ruang hampa. Di baliknya, ada kerja kultural dan institusional yang panjang. Perjuangan membumikan kolintang hingga mendapatkan pengakuan resmi sebagai bagian dari Warisan Budaya Tak-Benda (Intangible Cultural Heritage) dunia oleh UNESCO merupakan buah dari advokasi masif yang digerakkan oleh PINKAN (Persatuan Insan Kolintang Nasional) di Jakarta, di bawah kepemimpinan Ketua Umum Ibu Penny Marsetio.

Kehadiran fisik kolintang di jantung markas UNESCO, beriringan dengan gema balafon Afrika Barat, mengukuhkan status musik tradisi Indonesia sebagai pilar penting peradaban musik global. Ini adalah pengingat bahwa kekayaan kultural Nusantara memiliki daya jangkau universal.


 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA