Perwakilan Tim Kategorisasi AMI, Syaharani, menyampaikan bahwa pihaknya masih mengikuti aturan dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI).
"Kalau dari informasi yang saya dapatkan dari Bapak Aden Dharma (General Manager AMI), sementara ini masih mengikuti ASIRI ya. Jadi untuk secara keseluruhannya masih dalam pembahasan," kata Syaharani di Jakarta Pusat, Senin, 21 September 2026.
Baca Juga :
Daftar Lengkap Nominasi AMI Awards 2026
Kompleksitas Aturan dan Klasifikasi AI
Menurut Syaharani, banyak detail hukum dan teknis yang perlu didiskusikan untuk mengatur penggunaan AI pada AMI Awards."Jadi apakah itu 50 persen liriknya doang, atau misalnya semua musiknya, semua musisinya digantiin oleh AI dan segala macam, itu kan banyak sekali pernik-pernik kecil-kecilnya," ucap Syaharani.
Oleh karena itu, pihak AMI Awards belum bisa menentukan apakah penggunaan AI nantinya masuk ke dalam klasifikasi tersendiri atau tidak.
"Itu masih dalam proses gitu. Karena itu akan menjadi banyak pertanyaan," tutur Syaharani.
Kebutuhan Perangkat Pendeteksi
Selain masalah klasifikasi, Syaharani menjelaskan bahwa penetapan aturan AI di AMI Awards memerlukan perangkat lunak untuk mendeteksi karya yang didaftarkan.
"Perangkat atau software untuk mendeteknya pun kan juga harus modal ya. Nah, itu kan bukannya sesuatu yang bisa didapat dengan dengan apa dengan ada begitu aja," jelas Syaharani.
Ia berharap aturan mengenai AI dapat segera berjalan karena industri musik di seluruh dunia pun sedang memproses permasalahan serupa.
AI sebagai Alat Bantu
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Yayasan AMI, Candra Darusman, menegaskan bahwa AI hanyalah sebatas asisten atau alat bantu."Saya rasa AI tidak bisa kita pungkiri, tidak bisa kita nafikan ya. Tapi saya rasa AI itu hanya sebagai asisten ya, alat bantu ya," ungkap Candra Darusman.
Ia menilai bahwa manusia tetap memegang peran utama dalam proses penciptaan karya musik.
"Jangan lupa bahwa AI itu juga kumpulan dari warna-warna musik yang dibuat oleh manusia juga gitu ya," kata Candra Darusman.
"Jadi bagaimana memadukannya itu kita tidak bisa menutup mata, tapi tetap peran manusia itu lebih dominan daripada mesinnya gitu, daripada teknologinya," pungkasnya.