Jakarta: Vintonic menghadirkan sisi yang lebih reflektif melalui single terbaru mereka yang berjudul "Di Garis Senja". Lagu ini tidak hanya menawarkan nuansa city pop yang hangat, tetapi juga membawa pesan tentang waktu, kebersamaan, dan cara manusia menghargai orang-orang yang hadir dalam hidup.
Menariknya, proses kreatif "Di Garis Senja" justru berbeda dari kebiasaan Vintonic dalam membuat lagu. Jika sebelumnya ide lagu dapat dimulai dari melodi atau vokal kemudian dikembangkan menjadi aransemen, kali ini mereka memulai semuanya dari musik.
"Bedanya lagu ini sama lagu-lagu yang sebelumnya itu di workflow utamanya ya. Biasanya itu kita lagu ada entah ada melodi, ada nyanyian terus udah gitu lalu di aransemen. Ini kebalikannya kita bikin aransemen dulu baru bikin lagunya," kata Heston dalam program Musik Medcom.
Perbedaan cara kerja tersebut membuat "Di Garis Senja" memiliki karakter yang terasa mengalir. Musik lebih dulu membangun suasana sebelum lirik memberikan makna terhadap emosi yang muncul dari aransemen.
Bagi Vintonic, senja menjadi simbol penting dalam lagu tersebut. Mereka melihat senja sebagai sesuatu yang indah, tetapi hanya hadir dalam waktu yang singkat. Keindahan tersebut kemudian mereka hubungkan dengan kehidupan manusia yang juga memiliki batas waktu.
"Pengingat buat kita semua sih kayak senja itu kan selalu indah dan senja itu selalu kayak ada rasa gimana ya. Mungkin ada sedikit misteri dunia yang kayak ini kok bisa indah banget gitu. Dan tapi sayangnya senja itu kan sementara ya," kata Nicho Benito sang vokalis.
Dari pemaknaan tersebut, "Di Garis Senja" berkembang menjadi lagu tentang cara memperlakukan orang-orang yang dicintai. Vintonic tidak hanya membicarakan hubungan romantis, tetapi juga keluarga, sahabat, dan orang-orang yang memiliki tempat penting dalam kehidupan.
"Kita pengen mengingat semuanya bahwa kalau ya semua orang yang kita kasihi. Baik itu pasangan kita, keluarga kita itu sebaiknya kita kenang seperti kita mengenang senja. Jadi kita selalu kasih yang terbaik, selalu kasih kenangan-kenangan dan momen yang terbaik untuk mereka semua," lanjutnya.
Pesan tersebut membuat senja dalam lagu Vintonic bukan sekadar latar romantis. Senja menjadi pengingat bahwa sebuah momen tidak selalu dapat diulang. Karena itu, kebersamaan yang sedang dijalani perlu dinikmati sebelum berubah menjadi kenangan.
"Senja itu ya cuman beberapa menit doang kayak lewat gitu tiba-tiba udah gelap. Jadi ya pengen ngingetin juga ya jangan sampai kayak seperti hidup kita ini yang cuman sebentar," ujar Heston.
Vintonic merupakan trio electro-pop asal Jakarta yang beranggotakan Nicho Benito sebagai vokalis, Ravin Kalindra pada gitar, serta Heston Prasetyo yang menangani keyboard dan produksi. Grup ini terbentuk pada 2019 setelah pertemuan dan sesi jamming para personelnya. Heston dan Ravin sebelumnya menempuh pendidikan musik di Boston, Amerika Serikat.
Dalam perjalanan bermusiknya, Vintonic dikenal memadukan karakter city pop dengan electro pop, synthesizer, serta sentuhan R&B. Salah satu karya mereka yang mendapat perhatian adalah "Semesta Asmara" yang menjadi bagian dari perjalanan Vintonic sebelum memasuki babak baru lewat "Di Garis Senja".
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan