Kepergian Guruh meninggalkan warisan panjang di bidang musik, tari dan kebudayaan. Salah satu gagasan yang terus ia bawa sepanjang perjalanan berkesenian adalah pentingnya menjaga akar kebudayaan Indonesia.
Dalam wawancara eksklusif bersama Shindu's Scoop, Guruh mengungkap kegelisahannya melihat kesenian Indonesia semakin kehilangan tempat di tengah kuatnya pengaruh budaya asing.
Kegelisahan Guruh terhadap Seni Indonesia
Kegelisahan itu, menurut Guruh, telah muncul sejak dirinya masih muda. Ia melihat perubahan tersebut terutama setelah masuknya Orde Baru, ketika pengaruh kebudayaan Barat semakin kuat di tengah generasi muda."Saya melihat keadaan negara ini sudah apa ya secara umum gitu sudah apa ya banyak sekali pengaruh-pengaruh dalam banyak hal yang dari barat. Dalam hal ini ya Amerika, Eropa gitu. Terutama di bidang musik dan di generasi muda gitu saya melihat mulai apa jadi sangat kebarat-baratan gitu."
Guruh bahkan melihat perubahan tersebut tidak hanya terjadi dalam musik. Tari, seni rupa dan arsitektur juga menurutnya mulai semakin dipengaruhi kebudayaan Barat.
"Mereka malah tidak mengenal mulai tidak mengenal tari apa namanya kesenian dalam hal ini misalnya seni pertunjukan yang tradisi Indonesia gitu."
Kegelisahan tersebut kemudian menjadi salah satu latar gagasan Guruh Gipsy pada 1970-an. Bersama para personel Gipsy, Guruh mempertemukan musik modern dengan berbagai unsur musik tradisional Indonesia, termasuk gamelan.
Menurut Guruh, karya tersebut pada dasarnya merupakan sebuah peringatan.
"Nah ini yang makanya di Guruh Gipsy itu semua lagunya deh saya rasa itu ke arah apa ya Waktu itu kami hanya bisa bikin kayak warning aja ya gitu. Kita harus waspada bahwa kalau kita terus terhanyut sama kebudayaan barat, kebudayaan Indonesia ini bisa punah gitu."
Kekhawatiran tersebut ternyata tidak berhenti pada era ketika Guruh Gipsy dibentuk. Ia mengatakan persoalan serupa masih relevan hingga sekarang.
"Banyak sekali lagu-lagu yang sudah punah. Baik itu dari musik Bali, Jawa, Sunda ataupun mungkin dari Minang."
Menurutnya, persoalan terbesar adalah banyak pengetahuan kebudayaan yang hilang sebelum sempat didokumentasikan.
"Guru-guru yang sudah tua makin banyak yang sudah meninggal. Kalau di musik lagu-lagu tradisionalnya tuh punah lah gitu. Dan belum keburu dicatat. Diarsipkan atau direkam atau apa."
Guruh juga melihat krisis tersebut dalam penggunaan bahasa dan busana sehari-hari. Baginya, identitas kebudayaan tidak hanya hidup di panggung seni, tetapi juga dalam keseharian masyarakat.
"Jadi makin hal-hal yang Indonesiawi itu makin banyak yang punah."
Guruh mengaitkan kegelisahan itu dengan gagasan Trisakti yang diperkenalkan Bung Karno, terutama prinsip "berkepribadian di bidang kebudayaan".
"Jadi kepribadian kita tuh makin lama makin terkikis. Nah itu kita harus kembalikan sekarang gitu."
Meski demikian, Guruh tidak menganggap Indonesia harus menutup diri dari pengaruh luar. Ia justru melihat pertemuan dengan kebudayaan lain sebagai sesuatu yang telah berlangsung sejak lama.
"Kita bisa aja ambil unsur dari luar. Memang warna dari kebudayaan Indonesia tuh kan adalah banyak unsur-unsur dari luar."
Yang menurutnya penting adalah kemampuan mengolah pengaruh tersebut menjadi sesuatu yang tetap memiliki karakter Indonesia.
"Di bidang seni tarik ambil unsur dari luar tapi diolah lagi lebih kental Indonesianya. Di bidang musik juga begitu. Di bidang tekstil, di bidang kuliner, gastronomi juga begitu."
Pada akhirnya, bagi Guruh, modernitas tidak seharusnya membuat Indonesia kehilangan identitas.
"Pada intinya tidak melupakan identitas roots-nya gitu ya. Akar dari kebudayaan kita gitu ya. Malah lebih dimajukan, lebih dikemukakan, ditaruh di muka."