Dari Kepulauan Kei ke Korea Selatan, Eastern Indo Collective membawa musik dan tarian Indonesia Timur ke Round Festival. Dok. SMN
Dari Kepulauan Kei ke Korea Selatan, Eastern Indo Collective membawa musik dan tarian Indonesia Timur ke Round Festival. Dok. SMN

Dari Kei ke Korea, Membawa Irama Timur Menembus Dunia

A. Firdaus • 18 Oktober 2026 15:26
Ringkasnya gini..
  • Dari Kepulauan Kei ke Korea Selatan, Eastern Indo Collective membawa musik dan tarian Indonesia Timur ke Round Festival.
  • Mimpi itu berangkat dari Indonesia Timur, melewati keterbatasan fasilitas dan panjangnya perjalanan, hingga akhirnya membawa mereka ke Incheon, Korea Selatan.
  • Perjalanan panjang itu tidak ditempuh sendirian. Dalam persiapan di Yogyakarta, ARTOTEL Group membantu menyediakan fasilitas latihan dan akomodasi bagi para anggota EIC.
Yogyakarta: Ada mimpi yang harus diperjuangkan lebih jauh dari sekadar perjalanan menuju panggung. Bagi Silet Open Up, Juan Reza, Jacson Zeran, Diva Aurel, dan Official Genas, mimpi itu berangkat dari Indonesia Timur, melewati keterbatasan fasilitas dan panjangnya perjalanan, hingga akhirnya membawa mereka ke Incheon, Korea Selatan.

Pada Sabtu, 7 November 2026, Stadion Namdong di Incheon akan menjadi saksi perjalanan para talenta muda tersebut. Mereka bersiap tampil dalam Round Festival, festival musik tahunan hasil kerja sama negara-negara ASEAN dan Korea Selatan, bersama Eastern Indo Collective (EIC), kolektif musik yang digagas oleh Joshua Matulessy atau JFlow.

Mereka datang bukan sekadar untuk menyanyikan lagu atau menghibur penonton. Ada irama dari tanah kelahiran yang ingin dibawa, ada identitas budaya yang ingin diperkenalkan, dan ada cerita tentang anak-anak muda yang terus melangkah meski jalan menuju panggung dunia tidak selalu mudah.
 

Dari Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, hingga Korea Selatan, perjalanan itu dirangkum dalam sebuah semangat: From Kei to Korea.
 

Ketika Irama Timur Menjadi Bahasa Dunia


Indonesia Timur memiliki kekayaan bunyi, gerak, dan tradisi yang tumbuh dari kehidupan masyarakatnya. Di tangan generasi muda, kekayaan itu menemukan cara baru untuk menjangkau pendengar yang lebih luas, berbaur dengan musik modern tanpa kehilangan karakter asalnya.

Gagasan tersebut menjadi napas penampilan Eastern Indo Collective. Dalam pertunjukan berdurasi sekitar 25 menit, EIC akan merangkai unsur tradisional, perkusi, aransemen modern, dan tarian menjadi satu sajian yang berkesinambungan.

Penampilan dibuka dengan nuansa etnik yang kemudian berkembang menuju medley lagu-lagu populer Indonesia Timur. DJ Chito Deona bertugas meracik musik, sementara Official Genas membawa energi tarian yang selama ini dikenal melalui tren dance viral.
 
Tabola Bale AG2
JFlow punya pesan kuat: budaya tidak harus diam di tempat untuk tetap memiliki akar


Konsepnya sederhana, tetapi punya pesan kuat: budaya tidak harus diam di tempat untuk tetap memiliki akar. Ia bisa bergerak mengikuti zaman, bertemu dengan bunyi-bunyian baru, dan menemukan penonton di belahan dunia lain.

Bagi JFlow, kolektif ini juga menjadi cara untuk membuka ruang bagi lebih banyak talenta Indonesia Timur. Keterlibatannya dalam ASEAN Korean Music Committee (AKMC) memberinya kesempatan untuk memikirkan bagaimana Indonesia dapat tampil dengan pendekatan yang berbeda di panggung pertukaran musik ASEAN dan Korea Selatan.

Jika sebelumnya Indonesia mengirimkan penyanyi untuk tampil di festival tersebut, kali ini JFlow menawarkan sebuah kolaborasi. Bukan hanya satu nama, melainkan sejumlah penyanyi, musisi, dan penari yang membawa warna berbeda dalam satu pertunjukan.

Gagasan itu sempat menghadapi tantangan karena penyelenggara pada awalnya mengalokasikan satu slot penampil untuk setiap negara. Namun, konsep EIC menawarkan sesuatu yang lebih luas: sebuah panggung yang merangkum keberagaman ekspresi musik dan budaya Indonesia Timur.
 

Satu Panggung untuk Cerita Tabola Bale


Di antara rangkaian penampilan yang disiapkan, ada satu momen yang terasa istimewa: pertemuan Silet Open Up, Juan Reza, Jacson Zeran, dan Diva Aurel untuk membawakan Tabola Bale bersama-sama.

Lagu tersebut telah meraih sekitar 580 juta penayangan di YouTube berdasarkan keterangan dalam rilis. Angka itu menggambarkan luasnya jangkauan lagu yang membawa warna musik Indonesia Timur ke telinga banyak orang.

Namun, popularitas lagu tidak serta-merta membuat keempat penyanyinya mudah dipertemukan dalam satu panggung. Sejak lagu itu dirilis, mereka belum pernah tampil bersama untuk membawakannya secara langsung dalam satu pertunjukan.

Round Festival di Incheon pun menjadi kesempatan yang dinantikan. Empat penyanyi yang selama ini dikenal lewat lagu yang sama akan berbagi panggung, membawa energi yang selama ini dinikmati pendengar melalui rekaman dan layar.

Kehadiran Official Genas turut melengkapi cerita tersebut. Kreator dance asal Kepulauan Kei ini dikenal lewat tarian yang ikut menyebarkan popularitas Tabola Bale. Bersama lima penari lainnya, ia akan membawa gerakan yang menjadi bagian dari perjalanan lagu itu kepada penonton di Korea Selatan.

Musik dan tarian pun bertemu dalam satu cerita. Lagu yang dikenal luas menjadi pintu masuk, sedangkan orang-orang di baliknya memperlihatkan bahwa sebuah karya memiliki perjalanan panjang yang melibatkan kreativitas, kebersamaan, dan kerja keras.
 

Perjalanan Panjang yang Tak Terlihat di Atas Panggung


Sebelum lampu panggung menyala di Incheon, ada perjalanan panjang yang harus dilalui para anggota EIC. Bagi rombongan dari Kepulauan Kei, jarak bukan sekadar angka di peta, melainkan waktu, biaya, dan tenaga yang harus dikumpulkan demi sebuah kesempatan.

Untuk menuju Yogyakarta, tempat mereka menjalani persiapan, rombongan menempuh perjalanan laut selama sekitar lima hari. Mereka singgah di sejumlah wilayah, termasuk Banda Neira, Ambon, dan Makassar, sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan Yogyakarta.

Keterbatasan pilihan transportasi membuat mereka harus berangkat jauh lebih awal. Sementara itu, biaya perjalanan dari Kepulauan Kei menuju Jakarta dapat mencapai sekitar Rp10 juta hingga Rp11 juta, menurut JFlow.

Bagi talenta yang berasal dari wilayah kepulauan, kesempatan tampil di luar negeri tidak selalu dimulai dengan tiket pesawat dan jadwal latihan.

"Ada perjalanan yang harus direncanakan dengan cermat, kebutuhan yang perlu dipenuhi, serta dukungan yang mesti dicari agar mimpi tidak berhenti sebelum sampai ke tujuan," kata JFlow saat dihampiri 40 Media dari Sindikasi Media Network.

Bagi sebagian anggota, perjalanan ini bahkan menjadi pengalaman pertama naik pesawat, mengunjungi Jakarta, dan bepergian ke luar negeri.

Di tengah semua keterbatasan itu, mereka tetap berlatih. Mereka menyatukan gerakan, menyelaraskan irama, dan mempersiapkan diri agar setiap menit di atas panggung dapat memberikan kesan bagi penonton.

Enam penari yang tergabung dalam rombongan Official Genas juga memiliki hubungan darah. Ikatan keluarga itu menjadi bagian dari kisah perjalanan mereka, yang kini membawa nama Kepulauan Kei ke panggung internasional.

From Kei to Korea akhirnya bukan sekadar slogan perjalanan. Di dalamnya tersimpan cerita tentang jarak yang ditempuh, kesempatan yang diperjuangkan, dan keyakinan bahwa anak-anak muda dari daerah juga berhak memiliki panggung.
 

Ketika Dukungan Membuka Jalan


Perjalanan panjang itu tidak ditempuh sendirian. Dalam persiapan di Yogyakarta, ARTOTEL Group membantu menyediakan fasilitas latihan dan akomodasi bagi para anggota EIC. Dukungan juga datang dari Bank BTN, DANA, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, HMNS Perfume, dan mitra lainnya.

Chief Operating Officer (COO) ARTOTEL Group, Eduard Rudolf Pangkarego, memandang dukungan terhadap EIC sebagai bagian dari upaya memberikan ruang bagi talenta lokal untuk berkembang dan memperkenalkan potensi Indonesia kepada dunia.

"Kekayaan budaya dan sumber daya manusia Indonesia perlu mendapat kesempatan untuk tampil di tingkat internasional. Cerita para anggota EIC yang berjuang dari wilayah kepulauan menjadi salah satu alasan penting untuk mendukung inisiatif tersebut," kata pria yang akrab disapa Edu.
 
Edu2
Menurut Edu, kekayaan budaya dan sumber daya manusia Indonesia perlu mendapat kesempatan untuk tampil di tingkat internasional. Dok. SMN


Fasilitas latihan yang tersedia di Yogyakarta membantu para anggota menyatukan konsep pertunjukan. Mereka yang sebelumnya terpisah oleh jarak dan kesibukan kini memiliki ruang untuk berlatih bersama, menyempurnakan aransemen, serta memastikan unsur musik dan tarian dapat menyatu.

Dukungan semacam ini memperlihatkan bahwa perjalanan menuju panggung dunia bukan hanya soal bakat individu. Kesempatan juga membutuhkan ruang untuk berlatih, akses perjalanan, dukungan pendanaan, dan kepercayaan dari orang-orang yang bersedia membuka jalan.

Bagi para anggota EIC, kesempatan tersebut menjadi bagian dari perjuangan yang lebih besar: membuktikan bahwa keterbatasan akses tidak harus membatasi jangkauan karya.
 

Membawa Pulang Kebanggaan, Mengirimkan Cerita ke Dunia


Dalam Round Festival, EIC dijadwalkan tampil pada jam utama atau prime time, satu slot sebelum penampilan terakhir. Mereka akan membawa perpaduan musik dan tarian Indonesia Timur ke hadapan penonton internasional, dengan harapan memperkenalkan kekayaan budaya yang tumbuh jauh dari pusat-pusat industri hiburan.

Penampilan itu mungkin hanya berlangsung sekitar 25 menit. Namun, cerita yang dibawanya telah dimulai jauh sebelum rombongan tiba di Korea Selatan.

Cerita itu tumbuh dari pulau-pulau yang dipisahkan laut, dari perjalanan panjang menuju tempat latihan, dari lagu yang menemukan pendengarnya, dan dari anak-anak muda yang terus berkarya meski fasilitas di tempat asal belum selalu memadai.

Bagi mereka, panggung di Incheon bukan garis akhir. Ia adalah satu langkah untuk memperluas kesempatan, memperkenalkan identitas, dan membuka kemungkinan bagi talenta daerah lainnya untuk mengikuti jejak serupa.

Ketika musik mulai dimainkan dan tarian bergerak mengikuti irama, yang dibawa EIC bukan hanya hiburan. Ada suara dari timur Indonesia yang ingin didengar, ada kebudayaan yang ingin dibagikan, dan ada kebanggaan yang tumbuh dari perjalanan panjang.

Dari Kei ke Korea, mereka membawa lebih dari sekadar lagu. Mereka membawa cerita tentang mimpi yang menolak berhenti di batas geografis, sebuah irama dari timur yang kini bersiap menemukan gema baru di panggung dunia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA