Awalnya, Konser Tentang Rasa digelar satu kali pada pukul 19.30 WIB. Tidak sampai satu pekan, tiket konser itu habis. Akhirnya, penyelenggara memutuskan menggelar satu pertunjukkan lagi, pukul 15.30 WIB.
Lani, demikian Leilani disapa, dikenal mengusung nama Frau ketika tampil. Menurut dia, Frau adalah nama ketika dirinya tampil bersama Oskar, sebuah piano elektronik yang selalu menjadi curahannya dalam bermusik. Menarik.
Pertunjukan Frau dimulai ketika Lani menghampiri Oskar di panggung dengan menenteng sebuah lampu klasik. Sebelumnya, tampil lebih dulu duo AriReda yang membawakan musikalisasi puisi secara akustik.
Suasana GKJ mendadak sunyi, sebelum akhirnya dipecahkan oleh denting piano dan vokal Lani membawakan Sembunyi.
Menyimak musik Frau - mau tidak mau - membawa pada perasaan-perasaan tertentu. Rasanya tidak ada yang menyangkal jika detingan piano bernada sendu mengiringi lelagu seputar kegelisahan, kehampaan, dan kehilangan akan memutar kembali memori tentang rasa di benak masing-masing pendengar.
Lani, yang mengambil studi antropologi dan belajar etnomusikologi di Inggris, menyadari betul bahwa pengalaman musikal tidak melulu soal indra pendengar. Tetapi, panca indra memberi sentuhan-sentuhan tersendiri dalam menikmati musik secara utuh. Lani menyebutnya dengan istilah pengalaman musikal yang holistik.
Untuk membangun pengalaman holistik itu, Frau tak sekadar menyuguhkan audio saja. Seluruh indra para penonton distimulan untuk lebih merasakan apa yang terjadi dalam ruang konser itu.
Indra penglihatan tentu disuguhkan sosok Lani yang potongan rambutnya maskulin dan jemarinya menggelitik 'tubuh' Oskar. Sementara, indra pendengaran dimanjakan lantunan nada selama kurang lebih dua jam.
Lalu, bagaimana dengan indra penciuman dan indra pengecap rasa?
Frau dan manajemen secara diam-diam memberi kejutan menebar wewangian di ruang konser. Juga memberi setiap penonton sebotol minuman aneka rasa yang dilabeli tulisan "Minuman Kesegaran Tentang Rasa Tjap Piano." Cerdas.

(Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)
Lani secara khusus meracik berbagai aroma wewangian yang kemudian digunakan sebagai aroma di beberapa lagunya.
"Per dua lagu ganti aroma. Aroma yang dipilih disesuaikan dengan lagunya," kata Lani dalam jumpa pers, satu malam sebelum konser.
Aroma memudahkan Frau membawa pikiran penonton melayang jauh, pada kemungkinan-kemungkinan yang unik.
Misal, andai lagu I'm a Sir itu memang bearoma, bisa saja wanginya seperti sabun mandi. Atau jika lagu Mesin Penenun Hujan bisa dicicipi, rasanya seperti jus jeruk yang dibagikan dalam botol Minuman Kesegaran Tentang Rasa.
Imajinasi itu muncul seiring lantunan repertoar demi repertoar yang juga bercampur dengan pikiran, dan kenangan yang berputar di benak masing-masing penonton.
Soal teknis, nyaris seluruh peralatan didatangkan langsung dari Yogyakarta. Termasuk lampu dan perangkat pengeras suara.
Lani menjelaskan bahwa pengeras suara yang digunakan dalam konser itu dirancang khusus untuk penampilannya, sehingga memiliki standar kualitas yang ideal.
Frau membawakan 16 lagu. Tujuh di antaranya adalah lagu baru yang tidak terdapat di dua album Frau, Starlit Carousel (2010) dan Happy Coda (2013).

(Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)
Dalam beberapa lagu, Frau mengajak musisi lain tampil sebagai pengiring dan rekan duet. Salah satu yang menarik adalah kehadiran vokalis grup musik The Monophones, Alexandria Deni Rosalina, yang membawakan lagu baru Frau, Detik Detik Anu.
Pengalaman musikal kembali dimaksimalkan saat Frau mengajak penonton ikut bernyanyi. Frau mengajak penonton mengisi salah satu bagian vokal di lagu Tukang Jagal. Sebelumnya tiap penonton sudah dibagikan kertas bertuliskan lirik tersebut.
Penggalan lirik yang dinyanyikan oleh penonton terdengar menggelitik, karena menyebut judul serial televisi yang cukup ramai diperbincangan.
"Pak Ar-Rohim yang berhati sabar, suka hatim, juga Jodha Akbar," demikian penggalan lirik Tukang Jagal.
Masuk ke akhir konser, Frau membawakan Sepasang Kekasih yang Bercinta di Luar Angkasa dan Arah.
Sebelum pulang, para penonton yang sebelumnya diberi sebuah pensil dan kertas diminta untuk menceritakan perasaan-perasaan yang dirasa selama pertunjukan.
Sebuah konsep menarik yang belum pernah dilakukan di konser-konser lain.
Jika memang benar Frau memiliki Mesin Penenun Hujan, barangkali gerimis di kawasan Pasar Baru itu bagian dari upaya Lani dan Oskar membangun rasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News