Suasana pemakaman personel Koesplus, Kasmuri alias Murry Koes Plus, di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu, (1/2/2014). Pencipta lagu Bujangan tersebut tutup usia pada umur 64 tahun. ANTARA FOTO/Teresia May
Suasana pemakaman personel Koesplus, Kasmuri alias Murry Koes Plus, di TPU Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu, (1/2/2014). Pencipta lagu Bujangan tersebut tutup usia pada umur 64 tahun. ANTARA FOTO/Teresia May

Ini Hari Koes Plus Nasional

Coki Lubis • 19 Januari 2016 20:43
medcom.id, Jakarta: “Jangan seperti kawan-kawanmu, Koes Bersaudara. Masih banyak lagu-lagu Indonesia kenapa mesti Elvis-elvisan?” ucap Presiden RI pertama Ir. Soekarno saat berpidato di hadapan mahasiswa pada 17 Agustus 1965.
 
Menurut penulis biografi Koes Plus, Dandhy Dwi Laksono, ketika Bung Karno ucapkan kalimat itu dalam pidatonya, keempat personil Koes Bersaudara itu sudah hampir dua bulan mendekam di penjara Glodok (Jakarta). Mereka menghuni sel nomor 15, berukuran 2 x 2 meter, bersama tiga tahanan lainnya.
 
Koestono (Tonny), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), dan Koesroyo (Yok) ditangkap pada 29 Juni 1965 lantaran menyanyikan lagu The Beatles: “I Saw Her Standing There” di rumah seorang kolonel. Di tahun-tahun tersebut, barang siapa yang menggandrungi lagu-lagu Barat, dianggap kontra-revolusi dan terindikasi terlibat kegiatan subversif yang merong-rong budaya nasional.

Pada titik inilah sejumlah kalangan menganggap Koes Bersaudara bukan hanya soal karya besar dan melegenda, namun bagian dari sejarah bangsa.
 
Sehari sebelum peristiwa 30 September 1965, tanpa alasan jelas Koes Bersaudara dibebaskan. Pada 1969, posisi Nomo sebagai drummer digantikan oleh Kasmuri (Murry), yang bukan dari keluarga Koeswoyo. Grup ini pun berubah nama menjadi Koes Plus. 
 
Selepas dipenjara oleh Bung Karno, karya-karya Tonny dan grupnya terlihat berbeda. Meski pop dan rock n roll masih melekat, namun Koes Plus mulai sering membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri. Lagunya pun dibanjiri lirik-lirik beraroma nasionalis, pemujaan terhadap 'Nusantara', hingga merilis sejumlah album pop berbahasa Jawa.
 
Seperti biasa, lagu-lagu Koes Plus sukses besar dipasaran. Bahkan lagu-lagu Pop Jawa-nya kerap menjadi lagu daerah yang populer dan menjadi 'Landmark' tembang jawa, salah satunya lagu 'Tul Jaenak'.
 
Senjakala Koes Plus terjadi pada era 1980-an. Sejumlah analisa mencuat terkait faktor penyebab. Di antaranya, selera musik Tanah Air yang berubah, kematian Tonny Koeswoyo, sebagai penggagas dan motor grup, lelahnya Yok dan penyakit yang diidap Murry, juga persoalan hidup tanpa royalti atas penjualan CD/kaset.
 
Kini, meski tak ada konser besar berpenonton ribuan orang, namun Koes Plus masih ada. Dari jajaran personil awalnya, sepeninggal Murry, hanya tersisa Yon. Ia muncul dari panggung kecil ke panggung kecil bersama personil baru dengan usia yang terpaut jauh.
 
Lebih dari 50 tahun, Koes Plus kini tetap berdiri. Lagu-lagunya pun masih bersemayam dalam tubuh penggemarnya, yang menyatukan diri dalam sebuah komunitas bernama 'Jiwa Nusantara'.
 
Bila Anda berpikir komunitas ini hanya berisi penggemar berusia tua, salah besar. Kenyataannya, para pelestari musik Koes Plus ini juga didominasi usia muda, bahkan pelajar dan mahasiswa. Sejumlah grup tribute yang membawakan lagu-lagu Koes Plus pun berpersonil muda. Sebut saja "TiKoes" dan "Sim Plus", yang setiap pertunjukannya dipenuhi para penggemar Koes Plus baik tua maupun muda.
 
Komunitas pelestari Koes Plus dan Koes Bersaudara inilah yang mendeklarasikan 'Hari Koes Plus Nasional' pada 2010 silam. Alasannya sederhana, seperti hari Batik yang bertujuan melestarikan Batik, ribuan lagu Koes Plus pun perlu dilestarikan. Penetapan tanggal 19 Januari sebagai Hari Koes Plus Nasional dipilih karena bertepatan dengan tanggal ulang tahun Tonny Koeswoyo.
 
Selamat Hari Koes Plus Nasional bagi para penggemar!
 

 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)




TERKAIT

BERITA LAINNYA