Single ini menjadi pembuka untuk album mini Retlehs yang akan datang. Secara garis besar, "15:19" merupakan lagu tentang rasa depresi terselubung yang mendalam, namun di permukaan orang melihatnya sebagai kemalasan. Dari segi musik, single ini masih memperdengarkan pengaruh alternatif, dan shoegaze. Secara garis besar, Retlehs juga terinspirasi dari musik punk rock era 70-an, hip-hop, hingga jazz.
Judul "15:19" sendiri diambil dari ayat Alkitab, yaitu kitab Amsal yang bersabda tentang kemalasan.
"Bukan hanya rasa malas dalam arti literal, namun kemalasan yang seakan muncul sebagai manifestasi dari depresi. Saat melalui depresi, kita kehilangan motivasi untuk melakukan hal sehari-hari, seperti merawat diri, memenuhi kebutuhan biologis, bahkan hanya bangun pagi. Semua berubah, sementara banyak orang hanya melihat bagian luarnya dan melabel kita sebagai pemalas,” ujar Anatasha (vokal).
Konsep kemalasan atau sloth yang menjadi pesan utama pada lagu ini melengkapi tiga dari tujuh dosa yang telah disampaikan melalui trek-trek pada EP sebelumnya — “Blue” yang mewakili dosa lust (hawa nafsu), “Kaki” mewakili dosa pride (kesombongan), St. Adella mewakili dosa envy (iri hati), sementara “Matahari” yang merupakan rangkuman implikasi dari ketiganya.
“15:19” dirilis bersama dengan sebuah video musik grungy dengan nuansa horor yang mencekam. Dibuka dengan mini-movie, video klip ini menggambarkan depresi dan rasa malas dengan simbolisasi bayangan hitam kembar yang mengekor seseorang. Memerankan sendiri video klip perdana mereka, ketiga personil Retlehs mengungkapkan bahwa trek ini adalah salah satu karya paling pribadi yang diangkat dari kisah mereka sendiri.
Tentang Retlehs
Digawangi oleh Hariara “Hara” Hosea (bas), Faizu Salihi (drum), dan Erlinda Anatasha (vokal), Retlehs adalah unit indie-rock yang dibentuk di Jakarta pada tahun 2021. EP perdananya Satyr’s Satire, dirilis pada pertengahan tahun lalu dan telah mengumpulkan lebih dari 40,000 streams di berbagai platform streaming musik. Judul Satyr’s Satire untuk EP ini mengambil inspirasi dari Satir, makhluk manusia setengah kambing dari mitologi Yunani yang menurut Retlehs punya tabiat buruk hingga tidak berhasil mengendalikan berbagai hasrat dan aksinya yang merugikan makhluk lain. Bagi Retlehs, “sifat-sifat binatang tidak seharusnya dilakukan oleh manusia.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News