Adikara (Foto: dok. Gaia Music Festival)
Adikara (Foto: dok. Gaia Music Festival)

Adikara Cerita Nikmatnya Jadi Musisi Indie dan Tantangan Menulis Lagu

Basuki Rachmat • 17 Agustus 2026 07:27
Ringkasnya gini..
  • Adikara sukses debut di Gaia Music Festival 2026 dengan membawakan sejumlah lagu, termasuk Primadona yang populer di media sosial.
  • Adikara tampil dengan warna jazz-pop retro 1980-an dan suara khasnya, membawakan lagu dari album Klise hingga kolaborasinya bersama Andien.
  • Usai debut di Gaia Music Festival, Adikara berbagi cerita tentang kebebasan menjadi musisi indie dan harapannya terhadap perkembangan musik Indonesia.
Bandung: Penyanyi sekaligus penulis lagu Adikara sukses menjalani debutnya di panggung Gaia Music Festival 2026. Musisi yang dikenal lewat warna jazz-pop bernuansa retro 1980-an itu tampil di Amphitheatre, The Gaia Hotel, Bandung, akhir pekan kemarin.
 
Setelah penampilan grup musik jazz Love Is, dia membuka aksinya dengan membawakan lagu "Kisah Tanpa Pisah" yang dirilis pada 2020, kemudian dilanjutkan dengan "Katakan Saja" dari album debutnya, Klise (2025).
 
Setelah dua lagu pembuka, Adikara menyapa penonton dan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Gaia Music Festival. Ia juga memperkenalkan lagu "Rindu", yang merupakan kolaborasinya bersama salah satu penyanyi favoritnya, Andien.

"Thank you so much everybody. Lagu pertama tadi adalah 'Kisah Tanpa Pisah' dan lagu terakhir adalah 'Katakan Saja'. Thank you Gaia, thank you so much for tuning in," tutur Adikara dari atas panggung.
 
"Lima nama bersatu dalam momen yang spesial ini. Kali pertama saya juga untuk manggung di acara Gaia Music Festival. Selamat malam dan ini adalah sebuah lagu berjudul 'Rindu'," lanjutnya.
 
Suara berat dan karakter vokal maskulin Adikara, berhasil menghangatkan suasana di venue Amphitheatre. Para penonton pun terlihat syahdu menimati penampilan dari Adikara sembari duduk menikmati pertunjukan ditemani semilir angin malam di kawasan lembah Bandung tersebut.
 
Tanpa banyak berbasa-basi, Adikara melanjutkan penampilannya dengan sejumlah lagu dari album Klise. Beberapa di antaranya adalah "Seketika", "Makna", "Nirwana", dan "Love Again".
 
"Saya paling tidak jago ngomong di atas panggung. Jadi kita lanjut lagi ya, lanjut aja langsung ke lagu primadona. Let's go!" ujar Adikara.
 
Penampilan tersebut kemudian ditutup secara klimaks lewat lagu "Primadona". Lagu tersebut sebelumnya sempat populer dan banyak digunakan sebagai backsound berbagai konten di media sosial.

Adikara Ungkap Pengalaman Menjadi Musisi Indie

Adikara Cerita Nikmatnya Jadi Musisi Indie dan Tantangan Menulis Lagu
Adikara (Foto: Medcom/Basuki)
 
Usai tampil, Medcom.id berkesempatan berbincang dengan Adikara di belakang panggung Gaia Music Festival 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia turut membagikan pengalamannya menjalani karier sebagai musisi independen.
 
Sebelum memilih jalur independen pada 2022, Adikara diketahui sempat bernaung di bawah label Trinity Optima Records. Setelah keluar dari label tersebut, ia membangun manajemen sekaligus label musiknya sendiri, Pagoda House dan Pagoda Records.
 
Ketika ditanya mengenai perbedaan menjadi musisi di bawah naungan label dengan musisi independen, Adikara menilai tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Namun, ia mengaku lebih menikmati kebebasan dalam mengatur aktivitas sebagai musisi indie.
 
"Musisi indie tuh kayak gue tuh semenjak baru 2022 ya, itu resmi menjadi artis indie. Bedanya nggak banyak sih, cuman enaknya mungkin jadwal lo atur sendiri kali ya. At your own schedule semuanya gitu," tutur Adikara.

Tantangan Menulis Lagu dalam Bahasa Inggris dan Indonesia

Sepanjang kariernya, Adikara juga dikenal menghadirkan karya dengan lirik berbahasa Inggris maupun Indonesia. Menurutnya, kedua bahasa tersebut memiliki tantangan tersendiri ketika digunakan dalam penulisan lagu.
 
Untuk lirik berbahasa Inggris, Adikara merasa tantangannya terletak pada bagaimana membuat lagu tetap terdengar natural tanpa kehilangan identitasnya. Sementara dalam bahasa Indonesia, pemilihan diksi menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan agar lirik tetap terasa kuat.
"Kalau Bahasa Inggris itu lirik Bahasa Inggris terdengar banget kalau misalnya kita lagi mencoba untuk tidak terdengar kebarat-baratan banget gitu. Dan sekali kalau Bahasa Indonesia, kalau diksinya kurang bagus atau kurang gimana, biasa mungkin kita kurang pede. Jadi sebaiknya standar-standar ganda itu yang harus dihilangkan," tutur Adikar.
 
Dalam proses kreatifnya, Adikara juga mengaku gemar memperhatikan karya musisi lain sebagai salah satu referensi dalam mengembangkan penulisan lirik.
 
"Gue suka lihat lirik-lirik orang banget sih, suka nyontek deh, bercanda sih hahaha, kalau penulisan lirik gue sendiri aja sih," ungkapnya.
 
Menutup perbincangan, Adikara berharap industri musik Indonesia terus berkembang dengan menghadirkan karya yang semakin beragam dan mudah diakses oleh masyarakat luas. Ia juga berharap semakin banyak festival yang memberikan ruang bagi musisi Tanah Air untuk berkembang.
 
"Harapannya buat musik Indonesia pastinya lebih beragam dan makin accessible lagi buat semua orang. Terus makin sering ada acara-acara seperti Gaia Jazz Festival untuk encourage musisi-musisi Indo untuk terus memberikan yang terbaik," tutup Adikara.
 

 

 

 

 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA