Festival Tepi Sawah (Dok. Festival Tepi Sawah)
Festival Tepi Sawah (Dok. Festival Tepi Sawah)

Kembali Digelar, Festival Tepi Sawah Hadirkan Balawan

Hiburan Festival Tepi Sawah
Cecylia Rura • 07 Juli 2019 08:00
Jakarta: Festival Tepi Sawah kembali digelar. Memasuki tahun ketiga, festival ini mempertahankan tema menjaga kelestarian lingkungan, menggandeng sejumalah musisi lokal di antaranya Balawan, Endah Laras, Kayu Jati Band, Nita Aartsen, dan Dayu Ani.
 
Festival Tepi Sawah menggelar workshop bertema kesenian, mentor Rumah Kelima, Erick Est, Made Bandem, dan Arum Christina. Untuk workshop diadakan setiap pukul 12.00 hingga 16.30 WITA dalam dua hari pada 6-7 Juli 2019.
 
Hari pertama dimulai dengan workshop foto bercerita dan pojok sketsa oleh Rumah Kelima. Sesi foto bercerita dimentori Vifick, dengan harapan anak-anak kecil dapat memahami visual stroytelling. Andri, rekan mentor lain mengajarkan sketsa gambar dan membangun cerita.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Anak-anak sekarang kan dekat dengan visual, apalagi dengan adanya media sosial. Jadi kami mengajari bagaimana agar mereka bisa membangun cerita baik dari gambar maupun foto," kata Vifick dalam keterangan resmi.
 
Erick Est, sineas yang telah lama berada di dunia perfilman selama dua dekade mengisi sesi workshop selanjutnya selama 45 menit. Peserta anak-anak diajarkan teknik dasar di dunia perfilman seperti membuat skenario, mengambil gambar, dan perkenalan dengan aplikasi sunting gambar di ponsel.
 
"Yang penting tahu apa, siapa, dan masalah apa yang narasinya akan dibangun dalam film," kata Erick.
 
Jelang pembukaan di sore hari, Made Bandem melanjutkan acara dengan irama dan tari Bali kepada pengunjung, yang didominasi wisatawan asing. Made Bandem menjelaskan, ada tiga genre dalam tarian Bali.
 
Pertama Wali atau tarian sakral, kedua Bebali atau tarian upacara, dan ketiga Bebalihan atau tarian hiburan untuk tontonan. Made menambahkan, ada sembilan tari yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda. Satu di antaranya Tari Renjang, dipraktikkan langsung sang istri, Suasthi Widjaja Bandem, dengan irama gamelan yang dibunyikan dari bibir Made Bandem.
 
Penampilan Kayu Jati Band dan Mustiko Woro ikut mewarnai Festival Tepi Sawah hari pertama. Woro adalah seorang sinden muda yang dikenal melalui progran Di Atas Rata Rata besutan Erwin dan Gita Gutawa. Cengkok suara Woro berpadu dengan alunan gitar jazz fushion. Kayu Jati Band ikut membentuk remake lagu khas dari musisi legendaris Chrisye, Kala Cinta Menggoda.
 


 

(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif