Avhath (Foto: Medcom/Basuki)
Avhath (Foto: Medcom/Basuki)

Avhath Bicara Regenerasi Skena Musik Keras Indonesia dan Tantangan Menjaga Konsistensi

Basuki Rachmat • 07 Oktober 2026 09:10
Ringkasnya gini..
  • Gitaris Avhath, Prana Yudha, menilai standar kualitas band metal dan hardcore baru di Indonesia saat ini sudah melompat jauh berkat kemudahan akses informasi dan teknologi.
  • Personel Avhath turut mengapresiasi sejumlah unit musik cadas lokal yang menunjukkan kualitas menjanjikan, di antaranya Amerta, Temaram, dan Homebodies.
  • Terkait keberlangsungan karier band, Reynir Fauzan mengungkapkan bahwa Avhath mampu bertahan hingga merilis album karena konsisten menjaga ritme dan fokus merawat ceruk pasarnya sendiri (niche).
Jakarta: Perkembangan skena musik keras di Indonesia saat ini tengah menunjukkan pergerakan yang kian bergairah. Kehadiran karya-karya anyar dari jajaran unit metal, hardcore, hingga berbagai eksplorasi subgenrenya menjadi bukti betapa hidupnya ekosistem musik cadas Tanah Air saat ini. Dinamika ini pun tak luput dari pengamatan kuintet metal/hardcore asal Jakarta Selatan, Avhath.

​Medcom.id berkesempatan mengobrol langsung bersama tiga personel Avhath, yakni Ekrig (vokal), Reynir Fauzan (gitar), dan Prana Yudha (gitar), di Zodiac, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 6 Oktober 2026.

​Menyikapi riuhnya regenerasi di skena musik keras saat ini, Prana Yudha melihat bahwa standar kualitas band-band baru sudah melompat jauh dibandingkan era sebelumnya. Kemudahan akses informasi dan teknologi turut membentuk cara bermusik yang makin matang.

​"Skena musik keras di Indonesia sekarang secara perkembangan lumayan pesat. Saking banyaknya yang tampil bagus, ketika ada band metal baru yang mainnya rapi, kita sudah tidak sekaget dulu," ujar Yudha.

​"Dulu dengan segala keterbatasan dan akses internet yang belum sejelas sekarang, begitu ada band bagus muncul, kita responsnya bisa sampai terkagum-kagum. Kalau sekarang, karena edukasi dan pengetahuan orang-orang sudah makin luas, standar bagus itu sudah jadi hal yang wajar," lanjutnya.

Meski standar kualitas semakin tinggi, Yudha justru melihat banyaknya band berbakat sebagai perkembangan positif bagi keberlangsungan skena musik keras Indonesia. Ia menyebut sejumlah nama yang menurutnya memiliki materi menarik dan menunjukkan kualitas yang menjanjikan.

​"Sekarang kita bisa lihat band-band seperti Amerta, Temaram, sampai Homebodies, semuanya punya materi yang sangat bagus. Dari kacamata itu, saya sangat bersyukur melihat perkembangan skena musik keras di Indonesia hari ini," tutur Yudha antusias.
   

Tantangan Konsistensi dan Filosofi Sustaining Ala Avhath


Di balik perkembangan skena yang semakin ramai, gitaris Avhath Reynir Fauzan melihat ada tantangan lain yang tidak kalah penting bagi sebuah band, yakni menjaga konsistensi dan keberlanjutan dalam jangka panjang.

Menurut Reynir, membuat lagu dan memulai sebuah proyek musik memang bisa menjadi proses yang menyenangkan. Namun, tantangan sebenarnya muncul ketika sebuah karya telah dirilis dan band harus menentukan bagaimana perjalanan tersebut dapat terus berlanjut.

​"Tantangan utamanya sebenarnya ada pada bagaimana cara menjaga keberlanjutan band itu sendiri. Proses penciptaan lagu dan eksekusi awal biasanya terasa sangat seru. Namun setelah itu dieksekusi, bagaimana cara menjaga napasnya ke depan?" ujar Reynir penuh pertimbangan.

​Pengalaman berproses bertahun-tahun di industri musik independen akhirnya membawa Avhath pada pemahaman yang lebih dewasa dalam mengelola ekspektasi serta arah pergerakan band.

Reynir mengatakan, salah satu alasan Avhath mampu bertahan hingga saat ini adalah karena mereka telah menemukan ritme yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan band.

​"Ini juga menjadi salah satu bahan refleksi buat Avhath. Salah satu cara kami bisa bertahan sampai sekarang dengan tetap merasa senang adalah karena kami sudah menemukan cara serta ritme kami sendiri," jelasnya.

Avhath pun menyadari bahwa musik yang mereka usung memiliki ceruk pendengar tersendiri. Karena itu, mereka tidak menjadikan popularitas massal sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

​"Kami sudah menerima kenyataan bahwa kami bergerak di ceruk pasar (niche) sendiri. Musik kami mungkin tidak didengarkan oleh audiens yang terlampau masif, tapi itu memang bukan menjadi fokus atau target utama kami saat ini," sambung Reynir.

Bagi Avhath, pemahaman tersebut menjadi bagian dari proses pendewasaan band. Setelah berhasil menetaskan album studio penuh, mereka memilih menikmati setiap tahapan perjalanan sembari terus menjaga kualitas dan tanggung jawab terhadap karya yang diberikan kepada pendengar.

​"Dari sisi Avhath, kami cukup bahagia dengan pertumbuhan band ini sekarang, sampai akhirnya kami berhasil merilis album. Setiap fase perkembangan Avhath selalu kami nikmati, dan tentunya kami jadi makin bertanggung jawab atas karya yang kami hasilkan," tutup Reynir.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA