Cenglu tampil dalam Riau Global Music International Festival 2022 (Foto: Medcom.id)
Cenglu tampil dalam Riau Global Music International Festival 2022 (Foto: Medcom.id)

Tampil di Riau Global Music Festival, Musisi asal Amerika Ungkap Kecintaannya pada Musik Tradisi Indonesia

Agustinus Shindu Alpito • 24 Agustus 2022 09:05
Pekanbaru: Riau Global Music International Festival resmi digelar untuk ke-dua kalinya, pada 23-27 Agustus 2022, di Komplek Bandar Serai Pekanbaru. Salah satu penampil yang mencuri perhatian penonton pada hari pembukaan adalah Cenglu, trio folk yang terbentuk di Solo, Jawa Tengah.
 
"Cenglu" merupakan singkatan dari bahasa Jawa "bonceng telu" atau dalam bahasa Indonesia "boncengan bertiga." Grup ini terdiri dari Sean Hayward, warga negara Amerika Serikat yang berprofesi sebagai komposer dan peneliti musik. Sean adalah seorang doktor bidang Teori Musik dan Komposisi dari California Institute of the Arts. Erik Tarigan, etnomusikolog dan peneliti musik asal Brastagi yang fokus pada musik Karo, dan Reizki Habibullah, musisi asal Riau yang mendalami musik Melayu dan berprofesi sebagai dosen Etnomusikologi di ISI (Institut Seni Indonesia) Solo.
 
Ketiganya bertemu untuk bermusik pada 2020, dalam situasi pandemi. Dengan ketertarikan pada musik tradisi yang tinggi, ketiganya lantas bersepakat untuk membentuk grup dengan instrumen dasar kulcapi, gambus, dan gitar. Sayangnya, dalam penampilan mereka di Riau Global Music, Erik berhalangan hadir karena mengalami cedera.

Dalam pembukaan Riau Global Music International Festival, Cenglu menyedot perhatian. Tidak lain karena kehadiran Sean, sosok "bule" yang terlihat menarik karena tergabung dalam kelompok musik berbasis instrumen musik tradisi Indonesia. Tampil minimalis, Cenglu membawakan repertoar dari album mini perdana mereka, Kembara.
 
Salah satu nomor memikat yang dibawakan Cenglu berjudul "Membaca Tanda." Cenglu berhasil meramu folk dalam instrumentasi kulcapi yang terdengar dominan, tanpa terkesan asing dan mampu "kawin" dengan gambus dan gitar akustik. Komposisi itu menjadi pondasi kuat dari lirik yang sangat berkarater. Memiliki kekuatan daya tutur cerita dengan diksi dan bahasa yang puitis. "Membaca Tanda" sejauh ini menjadi satu-satunya lagu Cenglu yang memiliki lirik, dan sangat pantas mendapat lebih banyak telinga.
 
 
 
"Kami bertemu tahun 2020 pas pandemi, karena enggak ada kegiatan. Karena latar belakang beda-beda, saya berlatar belakang musik tradisional Melayu, secara akademis belajar musik Barat juga. Kemudian sebelumnya saya pernah bermain untuk Riau Rhytm. Sean sendiri basic-nya metal, kemudian Erik etnomusikologi dari USU (Universitas Sumatera Utara), Medan. Pertama, Sean dan Erik bermain dengan formasi gitar akustik dan kulcapi, kemudian saya ikut. Awalnya saya diminta main cello, kemudian saya melihat mereka semua instrumen petik, kemudian saya bawa gambus. Kami saling menstimulasi satu sama lain," jelas Reizki Habibullah di belakang panggung.
 
Tampil di Riau Global Music Festival, Musisi asal Amerika Ungkap Kecintaannya pada Musik Tradisi Indonesia
(dari kiri ke kanan: Reizki Habibullah, Sean Hayward, dan Erik Tarigan. Foto: dok. Cenglu)
 

Sean sendiri saat di atas panggung sempat menjelaskan awal ketertarikannya kepada musik tradisi Indonesia. Dia mengaku pintu pertama datang melalui gamelan. Kecintaannya pada gamelan membuat Sean datang ke Indonesia pertama kali pada 2015 dengan tujuan memperdalam karawitan.
 
"Sebelum pindah ke sini 6 tahun main gamelan di Amerika. Pertama kenal gamelan pas main gitar di kampus. Suka dan mendalami, lalu pindah ke Solo dan setelah ke Solo, musik tradisi indonesia lebih luas dari gamelan," jelas Sean yang sudah fasih berbahasa Indonesia.
 
Saat ditemui di belakang panggung, Sean menjelaskan bahwa secara garis besar musik Cenglu bisa disebut folk. Meski menggunakan kulcapi, dan gambus yang identik dengan musik tradisi Melayu, Cenglu enggan mendefinisikan musik mereka sebagai sebuah musik yang berangkat dari etnik tertentu. 
 
"Konsep musikal, kami main musik folk. Kami enggak berusaha jadi modern atau lari ke jazz," jelasnya.
 
Riau Global Music International Festival 2022 menghadirkan 18 grup musik berbasis musik tradisi. Mereka adalah Riau Rhytm (Pekanbaru), Pura Mahligai (Dumai), Bathin Galang (Meranti), Djangat Indonesia (Pekanbaru), De Tradisi (Sumatera Utara), Armarosa (Rokan Hilir), Omok (Siak), Taman Bunga (Sumatera Utara), Cenglu (Solo, Amerika Serikat), WS Trio (Indra Giri Hulu), Limuno (Kuantan Singingi), Kober (Pelalawan), Blacan Aromatic (Bengkalis), Sendayung (Kampar), Geliga (Pekanbaru), Shaziva (Kep. Riau), Rumah Seni Balai Proco (Rokan Hulu), Martha & Syndicate (Indragiri Hilir).
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA