Ridho Hafiedz. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Ridho Hafiedz. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Ridho "Slank": Sekarang Label Indie yang Berkuasa

Hiburan slank Musik Indie
Cecylia Rura • 08 Maret 2019 10:33
Jakarta: Gitaris band Slank Ridho Hafiedz melihat industri musik Indonesia tengah dikuasai oleh pasar musik indie. Musisi yang merintis karier secara independen kini dinilai jauh lebih menarik.
 
“Sekarang indie label yang berkuasa menurut gua. Itu kita survive masing-masing sebetulnya,” kata Ridho kepada Medcom.id belum lama ini.
 
Sebagai salah satu penggagas seri konser Liztomania, Ridho Hafiedz menganggap panggung musik yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) itu sebagai wadah para musisi indie sekaligus melestarikan GKJ sebagai bangunan seni bersejarah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia juga menyinggung soal RUU Permusikan yang sempat menjadi polemik di kalangan penggiat musik yang tidak ada kaitan sama sekali untuk melestarikan musik Indonesia.
 
“Kalau gua bilang konser ini (Liztomania) bagian dari preservasi musik Indonesia, karena bahkan yang lagi ramai-ramainya RUU (Permusikan) segala macam sebetulnya enggak ada pahamnya juga sama kreativitas, ataupun dari indie-nya sendiri, enggak ada hubungan,” sambungnya.
 
Bagi pria kelahiran Ambon itu, bermusik adalah soal tata krama. Bagaimana bermusik terutama untuk indie ditekuni sebagai karier untuk masa depan.
 
“Gua sendiri penginnya lebih melihat band indie karena bukan masalah banyaknya fans tapi bagaimana kariernya, bagaimana attitude-nya. Musik adalah attitude. Jadi yang bikin kita bisa survive lama adalah musik,” kata Ridho.
 
Slank sendiri sejak era 90-an sudah bergerak sebagai musisi indie. Mereka bahkan berani melakukan aksi protes terhadap fenomena sosial termasuk karya lagu Gossip Jalanan sebagai bentuk dukungan kepada KPK. Slank juga merilis lagu Lapindo untuk mengkritisi peristiwa Lumpur Lapindo di Sidoarjo.
 
Sebagai bentuk dukungan kepada band indie, konsep Liztomania memberi kebebasan untuk musisi tamu menyumbangkan sebagian besar ide mereka.
 
“Bikin Liztomania ini sebenarnya pelajaran kita dulu. Bagaimana caranya bikin show yang proper, bikin show yang benar-benar melibatkan artis. Liztomania melibatkan artis. Ini kalau dibilang kerjaan kita 75 persen kerjaan mereka (Fourtwnty) sebenarnya,” kata Ridho.
 
“Niatnya dari awal kita bikin kerjasamanya bareng-bareng. Kalian punya ide apa kita punya ide apa barengin, dengan biaya yang seperti apa minim tapi bisa kita maksimalin jadinya seperti ini,” lanjutnya.
 

 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif