Siapa sangka, lagu humor yang sempat meledak di era 80-an itu ternyata sarat pesan dan kritik sosial. “Judul-judulan itu kritik sosial juga, saya enggak nyakitin hati. Saya dengan cara halus dan humor, tapi yang tersinggung itu karena merasa. Seperti (kata) ‘kumpul kebo’ (dalam lagu Judul-Judulan), pada saat itu musim kumpul kebo."
"Menteri banyak kebonya, Jendral juga, apalagi staf-stafnya. Terus saya di lampu merah berhenti lihat pengemis minta 50 perak, mintanya 100, saya kasih lagi, jadi saya ngasih 150. Saya jadi mikir ini anak orang blangsak atau jangan-jangan anak menteri. Siapa tahu dia anak dari orang atas. Nah anak ini yang namanya anak-anakan, sudah kecil dilepas cari makan. Cuma kami halus di humor,” ujar sang empunya lagu, Jhoni Madu Mati Kutu, penggawa OM PMR.
Jhoni yang diwawancarai Metrotvnews.com di kediamannya di kawasan Sentul, Jawa Barat, mengatakan bahwa musik humor yang dibawakan OM PMR bukan sekedar humor selintas tawa saja. OM PMR telah merancang betul lirik-liriknya ditujukan untuk apa.
“Caranya (OM PMR membuat lagi) kami arahkan dulu, arahkan kemana nih? Ke pemerintah atau orang kaya? Kalau ‘Topan’ (Topan singkatan dari Tato atau Panu, merupakan lagu Posesif milik Naif yang telah diganti liriknya) itu untuk orang-orang yang penyakitan. Yang sok preman, tato bukan malah kayak panu. Arahnya dulu yang penting,” papar Jhoni.
Setelah vakum selama lebih dari lima belas tahun, kini OM PMR yang rata-rata usia para personelnya di atas 50 tahun itu kembali merilis album baru di akhir 2014. Album dengan 12 lagu itu berisikan lagu-lagu milik Naif, Efek Rumah Kaca, Seringai, hingga The Upstairs, yang telah diubah liriknya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News