Komunitas ini didirikan pada 2018 oleh Pratisna Sibag atau yang akrab disapa SiBagz. Ia menjelaskan bahwa lahirnya Petani Punk berangkat dari kegelisahan anak-anak muda yang melihat minimnya regenerasi petani di masa depan.
Dalam sebuah cerita yang dibagikan melalui akun Instagram mereka @petanipunk_gk pada Kamis, 16 April 2026, SiBagz pun mengenang awal mula gerakan tersebut yang lahir dari tongkrongan para anak punk.
"Terjun di pertanian di sini adalah berawal dari teman-teman jalanan, teman-teman punk yang saat itu dari beberapa luar kota datang ke tempat kami, ke rumah saya, dan saat itu kita ragu tidak ada tempat untuk nyantai dan akhirnya kita nyantai di salah satu tempat, di Bajo (Taman Kehati Bajo)," kenang SiBagz.
Dalam masa itu, mereka mengakui masih menjalani kehidupan tanpa arah yang jelas. Bahkan, dalam kondisi setengah sadar, mereka sempat menertawakan para petani tua yang tengah bekerja di sawah. Namun, momen tersebut justru menjadi titik refleksi yang mengubah cara pandang mereka.
"Biasa anak-anak punk, perjamuan ritual di situ, dan kita setengah teler, kita menertawakan sesepuh-sesepuh petani-petani tua yang ada di lahan, kita menertawakan itu," ungkapnya.
Sepulang dari tongkrongan tersebut, SiBagz pun sadar, bahwa tanpa keterlibatan generasi muda, masa depan pertanian bakal terancam oleh minimnya petani.
"Akhirnya saat kita pulang ke rumah, kita tersadar ternyata 10-20 tahun yang akan datang pasti tidak akan ada petani, kalau pemuda kita tidak ada yang datang ke sawah untuk sekedar tahu bagaimana caranya nyemprot, macul, dan lain-lain, mumpuh, dan lain-lain," ungkapnya.
Kesadaran tersebut mendorong langkah besar yang penuh risiko. Demi memulai perjalanan bertani, SiBagz bahkan nekat menggadaikan sertifikat rumah orang tuanya senilai Rp25 juta.
Keputusan itu diambil dengan penuh kecemasan. Ia mengakui, ada ketakutan besar jika gagal membayar cicilan tersebut yang bisa berdampak pada kondisi orang tuanya menjadi luntang-lantung di jalan.
"Nah, itulah awal kami, dan akhirnya kami saat itu menggadikan sertifikat tanah milik orang tua saya pribadi yang di atasnya ada tanggungan rumah untuk kami belajar bertani. Dan saat itu kami juga benar-benar juga takut karena kalau sampai tidak bisa mengangsur, pasti orang tua kami juga akan menjadi suram pangan, menjadi gembel juga di jalan," ungkap SiBagz.
Namun, kerja keras mereka rupanya membuahkan hasil. Pada tahun pertama, komunitas ini berhasil menanam, memanen, sekaligus menyelesaikan tanggungan yang ada.

(Foto: Instagram @petanipunk_gk)
Kini, gerakan Petani Punk terus berkembang. Dari yang awalnya hanya diikuti sekitar 40 anak jalanan, komunitas ini telah menaungi lebih dari 120 pemuda di kawasan Padukuhan Kalangan untuk terjun ke dunia pertanian dan menghasilkan berbagai komoditas pangan.
"Saat itu kami berhasil, kami berhasil di tahun itu, kita berhasil menanam, kita berhasil untuk menyelesaikan tanggungan kami, dan akhirnya bahwa kami itu ternyata bisa bertani," tutup SiBagz.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News