Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Korea Selatan, Asma Nadia langsung mengenang pengalaman masa lalunya yang kurang mengenakkan. Kala itu Asma Nadia mengaku diteriaki "teroris" karena dia mengenakan hijab.
"Jujur saja, Korea hari ini sangat berbeda dengan pengalaman saya saat berkunjung 20 tahun lalu. Saya masih ingat betul, ketika baru keluar dari gerbang sebuah museum, seorang nenek tiba-tiba menyoraki saya yang mengenakan jilbab. 'Teroris! Teroris!' teriaknya. Begitu buruknya citra Islam di mata mereka saat itu. Namun, waktu membuktikan bahwa kebencian bisa luluh oleh pemahaman," kata Asma Nadia.
Dua dekade berlalu, Asma Nadia melihat perubahan besar wisata Korea Selatan yang dia anggap lebih ramah orang Muslim. Salah satunya peringatan atau label mana makanan haram dan halal untuk wisatawan Muslim.
"Pemandu wisata kami awalnya sempat waswas, 'Hati-hati saat sarapan di hotel. Hindari sosis, hampir pasti itu babi'. Tapi ternyata, pihak hotel di Korea kini jauh lebih peka. Di meja prasmanan, label makanan tidak lagi sekadar nama. Mereka memberi tanda khusus untuk setiap hidangan yang mengandung babi (pork), bahkan pada saus yang terlihat 'aman' sekalipun," jelas Asma Nadia.
"Saat kami bertanya tentang minyak goreng, mereka dengan sigap menjelaskan penggunaan minyak kacang kedelai. Meski jumlah penduduk Muslim di Korea Selatan hanya sekitar 200.000 jiwa (sekitar 0,4% dari 51 juta penduduk), mereka sangat menghargai ledakan turis Muslim yang datang setiap tahunnya," lanjutnya.
Asma Nadia berlibur ke Korea Selatan bersama sejumlah penulis lain yang tergabung dalam KBM App seperti Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, dan Lebah Ratih. Asma merasa senang sebagai wisatawan Muslim, dia dan rekan sejawatnya Korea Selatan menunjukkan perubahan besar.

"Di pasar kuliner malam yang riuh ini, banyak pedagang kaki lima yang sudah sadar wisata dengan memasang label 'Halal' pada dagangannya. Banyak toilet di bandara dan hotel kini menyediakan bidet (semprotan air), bukan sekadar tisu kering. Saya sangat salut melihat tempat wudhu di bandara," katanya.
Dengan perubahan itu, Asma pun berharap makin banyak warga Muslim yang tak perlu cemas lagi ketika berpergian ke Korea Selatan. Dia ingin sikap penih toleransi itu terus tumbuh agar hidup terus harmonis.
"Melihat perubahan besar dari diteriaki 'teroris' hingga disediakan fasilitas ibadah yang mumpuni, saya sadar bahwa Korea Selatan telah bertransformasi menjadi negara yang ramah Muslim. Mereka tidak hanya menjual mimpi lewat drama, tapi juga memberikan rasa aman bagi siapa pun yang datang. Semoga transformasi ini terus berlanjut, dan kita bisa belajar bagaimana sebuah bangsa bisa berubah dari penuh prasangka menjadi penuh toleransi," jelas Asma Nadia lagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News