Butet Kartaredjasa dan Paus Leo XIV di Vatikan (Foto: KBRI untuk Takhta Suci)
Butet Kartaredjasa dan Paus Leo XIV di Vatikan (Foto: KBRI untuk Takhta Suci)

Butet Kartaredjasa Serahkan 14 Lukisan Jalan Salib Versi Jawa ke Paus Leo XIV

Rafi Alvirtyantoro • 19 Juni 2026 19:21
Ringkasnya gini..
  • Budayawan Butet Kartaredjasa menyerahkan 14 lukisan kaca Jalan Salib versi Jawa dengan karakter Punakawan kepada Paus Leo XIV di Vatikan.
  • Momen sejarah ini menjadi kali pertama bagi seniman Indonesia yang bisa menyerahkan karya seninya secara langsung kepada seorang Paus.
  • Penyerahan lukisan kaca ini dirintis sejak era Paus Fransiskus tahun 2025 sebagai bagian dari misi diplomasi budaya Indonesia di Vatikan.
Jakarta: Budayawan dan seniman asal Yogyakarta, Butet Kartaredjasa, menyerahkan 14 lukisan kaca Jalan Salib versi Jawa kepada Paus Leo XIV pada Rabu, 17 Juni 2026.
 
Butet Kartaredjasa mengatakan bahwa lukisan-lukisan yang diserahkan dalam audiensi umum itu menggambarkan tokoh Punakawan, kelompok pewayangan Jawa dan Sunda yang berperan sebagai abdi, penasihat, sekaligus penghibur bagi para kesatria.
 
“Lukisan yang digambarkan dengan tokoh - tokoh Punakawan: Semar, Gareng, Petruk dan Bagong tersebut dibuat dengan tujuan untuk mendekatkan sosialisasi nilai - nilai yang lebih dekat dengan masyarakat” kata Butet Kartaredjasa dikutip dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, pada Jumat, 19 Juni 2026.

Makna Filosofis Punakawan dalam Jalan Salib

Butet menyampaikan bahwa kedekatan tokoh-tokoh tersebut menjadi inspirasi di balik karya lukis yang diserahkan kepada Paus Leo XIV. Ia meyakini dalam tradisi masyarakat Jawa ada kekuatan dari Punakawan yang sangat bersahabat dengan masyarakat untuk menyampaikan pesan kebaikan.

“Tokoh Punakawan sering ditemui di rumah-rumah masyarakat Jawa dalam bentuk lukisan kaca kecil,” tutur Butet.
 
“Yesus-nya saya gambarkan Semar karena Semar itu merupakan titisan Dewa lalu tokohnya bisa diganti-ganti pada setiap frame dan jadilah 14 stasi itu,” tambahnya.
 
Lukisan Jalan Salib yang dibuatnya menceritakan tentang peristiwa pertama saat Yesus dijatuhi hukuman mati sampai dengan peristiwa ke-14 saat Yesus dimakamkan.
 
Dengan lukisan tersebut, Butet ingin banyak orang lebih mengenal nilai mendalam yang tersimpan di balik Jalan Salib.
 
“Saya melihat jalan salib itu memiliki nilai yang sangat dalam, tetapi yang mengenal hanya kalangan terbatas terutama hanya umat Katolik. Padahal, jika diasosiasikan dengan tokoh Punakawan yang sangat bersahabat dengan masyarakat mungkin lebih gampang dipahami” jelas Butet.  

Inisiasi Diplomasi sejak Era Paus Fransiskus

Rencana untuk menyerahkan lukisan kaca yang menggambarkan Jalan Salib itu sudah dirintis oleh KBRI Takhta Suci sejak kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia pada tahun 2025.
 
Meski dengan kepergian Paus Fransiskus, upaya penyerahan lukisan tersebut tetap dilakukan dengan harapan agar Paus Leo XIV bersedia menerimanya.
 
Duta Besar RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, akhirnya mengusulkan kepada Takhta Suci, melalui bantuan Sekretaris Negara Kota Vatikan, Kardinal Pietro Parolin, agar Paus Leo berkenan menerima lukisan kaca Jalan Salib versi Jawa yang dilukis oleh Butet Kartaredjasa.
 
"Saat kami bertemu Kardinal Parolin di kantornya, kami tunjukkan kepadanya lukisan itu. Kardinal Parolin sangat senang melihatnya serta mengatakan akan membantunya," ungkap Michael Trias Kuncahyono.
 
Kemudian, Dubes Trias menerima pemberitahuan dari Vatikan bahwa Butet dan istri mendapatkan kesempatan untuk menyerahkan lukisan itu pada saat audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada 17 Juni 2026.  

Momentum Bersejarah Seniman Indonesia

Momen tersebut diklaim sebagai pertama kalinya seniman Indonesia bisa menyerahkan karyanya secara langsung kepada seorang paus.
 
“Yang lebih menyenangkan Butet dapat menyerahkan langsung. Saya kira, setahu saya, ini peristiwa pertama, seorang seniman Indonesia menyerahkan karyanya sendiri, langsung ke Paus saat audiensi umum di Vatikan,” jelas Trias.
 
Ia menambahkan bahwa, “Ini sangat membanggakan, bukan saja bagi pelukisnya, Butet, tetapi juga bagi kita warga negara Indonesia.”
 
Penyerahan lukisan kaca Jalan Salib kepada Paus Leo ini juga merupakan bagian dari diplomasi budaya Indonesia di Vatikan. Kota Vatikan merupakan salah satu pusat koleksi karya seni dunia dengan jumlah sekitar 70.000 karya, yang mana sekitar 20.000 di antaranya dipamerkan dalam Museum Vatikan.
 
“Lukisan ini hanya dibuat dalam 200 cetakan untuk setiap setnya” ucap Butet.
 
Dari 14 stasi, lukisan yang diserahkan langsung kepada Paus secara simbolis saat audiensi adalah lukisan nomor 9. Terdapat alasan khusus di balik pemilihan lukisan tersebut.
 
“Nomor 9 itu Angka mujur, dan kebetulan di dalam frame ke-9, tokoh Puno kawannya dimana keempat-empatnya ada semua. Jadi itu menggambarkan sosok Punakawan itu komplit, ada dalam satu frame” pungkas Butet.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA