Demikian ia katakan dalam seminar nasional dengan tema "Strategi Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Biologi dalam Menghadapi Persaingan Pasar Farmasi Global melalui Pendekatan Quadruple Helix" yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Program Doktor Ilmu Manajemen (DIM) Universitas Padjadjaran (UNPAD) di Aula MM UNPAD, Jalan Dipatiukur No. 46, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/9/2014).
Artinya, lanjut Ernie, industri farmasi di Indonesia bisa menjadi leader di rumah sendiri. "Kekayaan yang melimpah bisa dimanfaatkan secara bisnis untuk mendukung industri farmasi nasional untuk meningkatkan pangsa pasarnya. Terlebih lagi pada tahun 2015 Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah mulai berjalan, ini artinya pangsa pasar akan bertambah dan industri farmasi kita bisa menjadi leader di rumah sendiri, oleh karenanya pemanfaatan keanekaraaman hayati merupakan salah satu cara untuk meningkatkan industri ini," katanya.
Sekadar informasi, Quadruple Helix merupakan konsep baru, dimana sebelumnya masih dikenal dengan istilah tripple helix yang merupakan kolaborasi antara Academic, Business, Goverment (ABG), kini ditambahkan satu unsur lagi yaitu asosiasi atau organisasi yang menaungi industri farmasi, dalam hal ini adalah Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi Indonesia).
Ketua Panitia Pelaksana Seminar, Dr Erie Febrian, mengatakan seminar ini diselenggarakan untuk mengajakan dan melihat secara bersama-sama mengenai potensi alam Indonesia yang luar biasa. Menurutnya, hal ini bisa dimanfaatkan untuk pembuatan bahan dasar farmasi, seperti tanaman herbal dan biodiversity yang merupakan bahan dasar pembuatan produk biologi.
"Nantinya diharapkan kerja sama dari empat unsur yaitu Akademisi, Bisnis, Pemerintah dan Asosiasi, bisa membawa Indonesia untuk menjadi leader industri farmasi di Indonesia dan Asean," imbuh Erie.
Peran Indonesia di Organization Islamic Cooperation
Peran Indonesia dalan industri farmasi di negara Islam dimulai pada 2013, saat Bio Farma mengajak 57 negara yang tergabung dalam Organization Islamic Cooperation (OIC) untuk membuat vaksin secara mandiri. Dengan kemampuan yang dimiliki Bio Farma, membuka peluang kerja sama untuk transfer teknologi dari Bio Farma kepada negara-negara OIC.
Corporate Secretary Bio Farma, Rahman Roestan, mengatakan kerja sama dengan OIC dilatarbelakangi oleh keinginan negara-negara OIC yang ingin memproduksi vaksin secara mandiri. Karena dari 57 negara anggota OIC, baru Indonesia yang sudah memiliki kemampuan untuk memproduksi vaksin secara mandiri dari hulu ke hilir
"Dari 57 negara anggota OIC, memang sudah ada sekitar sembilan negara (termasuk Indonesia) yang sudah memiliki produsen vaksin, namun baru Indonesia yang memiliki kemampuan untuk memproduksi vaksin dari hulu sampai ke hilir secara mandiri dan sudah tersertifikasi WHO," ungkap Rahman.
Rahman menambahkan, selain Tunisia, negara anggota OIC lain yang sudah bekerja sama dengan Bio Farma untuk membuat vaksin adalah Arabio dan Pasteur Institute of Iran. Untuk negara di luar keanggotaan OIC, ada India dan Thailand yang sudah melakukan transfer teknologi dari Bio Farma.
Dalam seminar ini, Bio Farma mengajak salah satu mitra dari Arab Saudi yang juga memproduksi vaksin yaitu Arabio, untuk memberika pemaparan mengenai Global Vaccine/Biological Market.
Seminar ini juga disampaikan sharing session mengenai sinergi antara riset perguruan tinggi (Fakultas Farmasi UNPAD) dengan industri farmasi (Kimia Farma). Sinergi yang dibahas adalah keberhasilan riset yang dilakukan Dr. Keri Lestari Dandan dari Fakultas Farmasi UNPAD, yang berhasil menemukan pengobatan untuk penderita diabetes dari buah pala (Myristicafragrans). Hasil penelitian yang sudah dipatenkan itu, nantinya akan diproduksi secara massal oleh Kimia Farma sebagai industri farmasi nasional.
Selain buah Pala untuk pengobatan diabetes, tim peneliti UNPAD yang terdiri dari Dr. Tiana Milanda, Dr. Anis Chaerunissa dan Dr. Yasmiwar Susilawaty, berhasil menemukan suplemen kesehatan berupa makanan dan minuman yang berasal dari bunga rosella. Untuk penelitian ini, pihak Fakultas Farmasi UNPAD, tinggal mencari partner industry farmasi yang dapat menindaklanjuti hasil penelitian ini menjadi produk yang dapat digunakan masyarakat.(Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News