Dok. GIK-Monolog Cut Nyak Dien
Dok. GIK-Monolog Cut Nyak Dien

Galeri Indonesia Kaya, Terobosan Pelestarian Budaya

Kesturi Haryunani • 11 April 2014 17:08
medcom.id, Jakarta: Galeri Indonesia Kaya (GIK) bermula dari kepedulian terhadap perkembangan seni budaya Indonesia yang kian dilupakan, juga kurangnya ruang publik di Jakarta sebagai sarana ekspresi dan edukasi. Maka dibuatlah ruang edukasi berbasis budaya Indonesia yang diresmikan pada 10 Oktober 2013 oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu.
 
Dengan memanfaatkan ruang di area Grand Indonesia, pembangunan GIK dimulai awal 2012. Diharapkan GIK mampu menjadi ruang publik bagi para seniman untuk berekpresi dan dapat dinikmati masyarakat luas.
 
"GIK merupakan wadah pertukaran informasi mengenai seni dan budaya Indonesia. Berlokasi di pusat perbelanjaan pusat kota, ruang publik ini diharapkan bisa menjadikan seni dan budaya sebagai gaya hidup masyarakat masa kini, khususnya generasi muda dan insan kreatif serta dapat memperkaya mereka dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan Indonesia," ujar Renitasari.

GIK memakai beberapa elemen tradisional Indonesia, seperti rotan, batok kelapa, motif parang, bentuk bunga melati. Terdapat pula batik dari 12 daerah sebagai ornamen. Dengan konsep berbasis teknologi multimedia yang interaktif dan menyenangkan, GIK juga dilengkapi berbagai macam panel digital yang menarik, terutama untuk generasi muda yang kebanyakan dekat dengan teknologi dan menganut gaya hidup dekat dengan aplikasi digital.
 
Memasuki area GIK, pengunjung akan disambut panel `Sapa Indonesia` berupa tiga layar multimedia yang menampilkan pemuda-pemudi Indonesia berbaju adat dari berbagai daerah di Nusantara. Mereka akan menyapa pengunjung ketika memasuki dan meninggalkan GIK.
 
Selanjutnya, pengunjung bisa menonton video mapping dengan bentuk wayang kulit yang menceritakan penggalan-penggalan Mahabarata tentang kiprah Pandawa melawan Kurawa. Video mapping yang pertama kali dikembangkan dalam seri ini adalah kisah Bharata Yuda yang berisi tentang perang utama Pandawa dan Kurawa.
 
Kemudian, ada dua panel penting yang menyuguhi pengunjung dengan pengetahuan budaya Indonesia. Pertama adalah `Kaca Pintar Indonesia`, berupa panel touch screen yang membahas seluk beluk budaya Indonesia dari sisi geografis, kebiasaan, dan asal usul. Kedua, adalah `Jelajah Indonesia` yang dibagi menjadi tiga yaitu Kaya Alam, Kaya Budaya, dan Kaya Kuliner. Panel ini merupakan panel kontributor, dimana semua orang dapat mengirimkan karya mereka yang berhubungan dengan budaya, untuk kemudian dikurasi dan ditampilkan.
 
Aplikasi `Selaras Pakaian Adat` telah menjadi salah satu panel favorit pengunjung. Dengan aplikasi `Selaras Pakaian Adat`, pengunjung dapat berfoto dengan pakaian adat digital dari seluruh Nusantara. Aplikasi ini terhubung dengan sosial media, sehingga pengunjung dapat bebas mengunggah fotonya di akun media sosial mereka masing-masing.
 
Pengunjung juga dapat menikmati suara alat musik khas Indonesia dengan `Melodi Alunan Daerah`. Berbagai macam alat musik Nusantara dihadirkan secara digital dengan bentuk touch screen. Pengunjung dapat bermain dan mengaransemen musiknya sendiri ataupun belajar memainkan lagu-lagu daerah.
 
Selasar santai merupakan ruangan dimana pengunjung dapat bersantai menikmati GIK. Di dalam selasar santai terdapat delapan komputer tablet yang dapat bebas dipakai pengunjung untuk mengakses informasi yang ada di galeri melalui www.indonesiakaya.com. Di dalam selasar santai juga terdapat beberapa permainan, seperti congklak digital.
 
`Arungi Indonesia` adalah sebuah permainan yang menawarkan sensasi terbang diatas Indonesia. Pengunjung dapat melewati beberapa obyek-obyek penting dan ternama di Indonesia untuk
 
mendapatkan pengetahuan tentang obyek tersebut. Di GIK juga terdapat Area peraga, yang merupakan area untuk pengrajin. Di sini, pengrajin dapat memperagakan proses pembuatan berbagai kerajinan khas Indonesia.
 
GIK juga dilengkapi auditorium berkapasitas 150 orang, dilengkapi panggung seluas 13x3m dengan tiga buah screen dan tiga proyektor, sound system audio power mencapai 5000 watt, serta empat lampu moving LED di atas panggung dan tata lampu LED 36 buah yang mampu menghasilkan efek dramatis. Seniman dan pelaku panggung dapat memakai tempat ini secara gratis. Setiap pelaku seni memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan auditorium, baik untuk latihan maupun pertunjukan. Pengunjung juga dapat menonton pertunjukan secara cuma-cuma. Reservasi dapat dilakukan melalui indonesiakaya.com, atau dengan langsung datang sebelum pertunjukan dimulai.
 
Saat tidak ada pertunjukan, pengunjung dapat menikmati tarian daerah dengan `Fantasi Tari Indonesia`. Beberapa tarian khas Nusantara yang dikemas virtual membuat pengunjung dapat seakan-akan menari bersama dengan mereka.
 
"Ruang publik seperti inilah yang dibutuhkan karena sangat membantu, terutama bagi komunitas kreatif, untuk menciptakan ide-ide baru. Kami sangat mendukung upaya apapun untuk menciptakan dan mengembangkan lebih banyak lagi orang-orang kreatif di masyarakat Indonesia, khususnya kalangan anak muda," ujar Mari Elka Pangestu.
 
Dengan adanya GIK, diharapkan budaya sebagai identitas bangsa dapat kembali menjadi bagian yang lekat di hati generasi mendatang. Mencintai budaya adalah wujud rasa bangga dan cinta terhadap Indonesia, karena yang menyatukan bangsa adalah budaya.
 
Cinta Budaya, Cinta Indonesia.(Adv)
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AND)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan