Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito
Foto: Metrotvnews.com / Agustinus Shindu Alpito

Seniman Jepang dan Belanda Ikut Garap Opera Tari Gandari

Agustinus Shindu Alpito • 04 Desember 2014 18:36
medcom.id, Jakarta: Berangkat dari salah satu tokoh Mahabharata, Goenawan Mohammad membuat sebuah puisi berjudul "Gandari". Puisi itu ternyata mampu menginspirasi seniman lain, yaitu Tony Prabowo, seorang musisi kontemporer yang ingin mengembangkan "Gandari" ke dalam sebuah pagelaran opera.
 
Gayung bersambut, Tony mendapat dukungan dari Yudi Ahmad Tajudin, sutradara teater asal Yogyakarta, dan Akiko Kitamura, koreografer asal Jepang dan sejumlah lembaga lain seperti Yayasan Taut Seni, Djarum Foundation, dan Kedutaan Kerajaan Belanda untuk Indonesia dan Asia Center Japan Foundation. Bahkan, kerjasama semakin meluas dengan terlibatnya sejumlah musisi Belanda untuk menggarap musik dalam opera ini.
 
"Ide pembuatan opera tari ini sejak 2011 akhir. Saya dari awal memang terpikat dengan Akiko dan Yudi. Kemudian pada 2012 ketemu dengan Yayasan Taut Seni dan ngobrol untuk merealisasikan rencana ini," kata Tony dalam jumpa pers di kawasan Kuningan, Jakarta, pada Kamis (4/12/2014).

Sementara Tony memegang peranan penting dalam komposisi musik yang diperolehnya ketika menghayati puisi "Gandari", Yudi yang berperan sebagai sutradara dalam opera ini harus menyiapkan konsep kolaborasi. Pasalnya, Yudi harus mampu menjembatani seniman yang berasal dari Jepang dan Belanda.
 
Akhirnya, tiga orang penari asal Solo dipilih untuk memainkan opera ini, mereka adalah Danang Pamungkas, Rianto, dan Kana Ote. Ketiganya lantas terbang ke Jepang untuk mendapat pelatihan dari Akiko sekaligus menyempurnakan gerak tari bersama tiga penari lain asal Jepang.
 
Di belahan benua lain, sekitar 30 pemain orkestra terus berlatih komposisi ciptaan Tony. Pertunjukan ini telah disiapkan sejak pertengahan tahun ini memang.
 
Mengenai sosok Gandari, Yudi mencoba menginterpretasi secara luas sehingga lebih cair untuk diserap dari berbagai bentuk kesenian dalam opera ini.
 
"Yang saya suka, Mas Gun (Goenawan) menempatkan Gandari bukan sebagai prototipe moral, tetapi lebih kepada subjek yang punya pikiran dan perasaan. Gandari dilihat sebagai perempuan, ibu yang bisa mengambil sikap melawan dengan caranya sendiri," kata Yudi.
 
Walau proyek ini melibatkan seniman yang secara kultur cukup jauh dari budaya Mahabharata, Yudi mengaku tidak mengalami persoalan berarti. Gandari yang diterjemahkan dalam pagelaran kali ini lebih kepada relevansi sosok perempuan sebagai ibu yang universal.
 
Opera Tari Gandari digelar pada 12 dan 13 Desember 2014 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Tiket dijual dalam tiga kategori, VIP Rp350 ribu, Kelas I Rp150 ribu, dan Kelas II Rp150 ribu, dan dapat dipesan melalui https://www.tamanismailmarzuki.co.id, https://www.rajakarcis.com, dan https://www.blibli.com.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AWP)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan