Foto: Bewitched Park / avemov.com
Foto: Bewitched Park / avemov.com

Sapaan Hangat Belasan Karya Seni di Galeri Apik

K. Yudha Wirakusuma • 18 Februari 2015 05:12
medcom.id, Jakarta: Tak ada denyut kemeriahan dan kemewahan berlebihan yang tersirat di Jalan Radio Dalam Raya 30, Jakarta Selatan. Belasan karya seni seperti menyapa kita saat sorot mata masuk ke dalam ruangan, tersebut.
 
Ada senyum ramah yang menyambut kita saat melangkahkan kaki ke Galeri tersebut. Kita kemudian seperti dimanjakan dengan goresan kanvas karya seni buah tangan seniman Indonesia.
 
Karya seni yang dipamerkan diantaranya karya asli maestro Basoeki Abdullah, Sudjana Kerton, Le Mayeur, Theo Meier, Lee Man Foong, Widayat, Yarno, Teguh Oestenrik, Chen Liu dan Eddie Hara yang tidak diperjualbelikan.

Pameran bertajuk "Are you a dealer or broker?" Joint Exhibition ini telah dibuka sejak, Sabtu 14 Februari lalu. Pameran tersebut juga dihadiri dan resmi dibuka oleh Ketua Umum Mitra Seni Indonesia, Ken Subagiyo.
 
"Ada sekitar 11 karya yang dipamerkan. Seluruhnya koleksi tetap Galeri Apik dan tidak diperjualbelikan," kata Direktur Galeri Apik, Rahmat, mengawali pembicaraan, saat ditemui di Jakarta, Selasa (17/2/2015).
 
Sapaan Hangat Belasan Karya Seni di Galeri Apik
foto: Rahmat di Galeri Apik
 
Dari deretan lukisan yang dipamerkan, ada juga karya lama Yarno, seniman kelahiran Pagar Alam, Sumsel. Karya tersebut diperebutkan kolektor dunia hingga terjual dengan harga lebih dari Rp300 juta, dalam waktu dua tahun.
 
Karya-karya Yarno dianggap sesuai disandingkan dengan karya seniman ternama Tanah Air lainnya, karena dinilai sebagai seniman avant garde dengan keunikan teknik surrealisme tersendiri.
 
"Artinya, Yarno melalui objek karyanya mampu mendahului trend untuk periode lebih awal dibandingkan saat masa dia berkarya," papar Rahmat.
 
Eksibisi kali ini, lanjutnya, mengusung misi yang tidak jauh beda dengan pameran sebelumnya, yakni untuk menyamakan persepsi antara kolektor, seniman, art dealer, broker, dan galeri untuk kemajuan seni tanah air di mata dunia ke depannya.
 
"Diharapkan bisa menjadi booster guna perbaikan infrastruktur dunia seni di Indonesia," tandasnya.
 
Galeri Apik juga mengangkat fenomena distribusi karya seni di Tanah Air, tantangan dan kekurangannya. Seperti keberadaan dealer dan broker yang sekilas memiliki peran serupa. Perbedaannya soal aset milik saja. Dealer punya aset, sedangkan broker tanpa aset, tanpa galery dan cenderung freelance individual," paparnya.
 
Seorang broker, bisa juga menjual karya seni tanpa harus memiliki dulu. Fungsinya hanya menjembatani. Bahkan praktek selama ini, dengan berbekal image soft copy dari foto karya seni di dalam smartphone, bisa langsung dipakai bertransaksi, mencari marjin atau mark up, dimana terkadang image ini disebarluaskan setelah diakui sebagai karya seni miliknya tanpa memandang perlu pentingnya, transparasi asal usul serta bagaimana memperolehnya.
 
"Banyak kasus menimpa kolektor akibat kelalaian broker yang tidak jeli," paparnya.
 
Dia mengatakan bukan berarti dealer tidak mempunyai kekurangan. Banyak juga kata dia, dealer nakal yang menyandera karya kolektor agar bisa diakui sebagai aset miliknya, alih-alih membantu menjualkan, justru mempersulit kolektor saat ingin mengambil barang yang dipinjamkan.
 
"Keselamatan karya seni milik kolektor yang terlanjur lama disandera juga seringkali luput dari pengawasan, sehingga rentan mengalami kerusakan dan cacat," paparnya.
 
Rahmat menyayangkan tidak ada ketegasan pemerintah, penegak hukum, dan asosiasi seni rupa untuk segera menyelesaikan persoalan lukisan palsu. Hal tersebut menyebabkan setiap tahun ada saja kokektor yang dirugikan karena membeli lukisan palsu.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(AWP)




TERKAIT

BERITA LAINNYA