<i>Rapper-rapper </i> yang juga Suka Bikin <i>Baper</i>
Foto: FB Adit Sam R
JAKARTA -  Jumlah pelaku Maluku hip hop termasuk besar. Budayawan Maluku Rudi Fofid tergerak untuk mencari tahu seberapa besar mereka.  Ternyata, ada lebih 500 nama dengan akar Maluku yang berkiprah sebagai rapper.

Melalui Facebook, Rudi mengumpulkan nama-nama pelaku Maluku Hip Hop. Mulai dari beberapa nama yang ia kenal, sampai akhirnya warga dunia maya, terutama mereka yang dekat dengan pelaku hip hop ikut melengkapi. Selama sepekan di akhir April 2018 ini, nama-nama yang masuk mencapai 513, dan terus bertambah.

“Saya meminta anak-anak hip hop Maluku dan Maluku Utara yang saya kenal untuk mengirim nama-nama anggota grup dan yang mereka kenal di kota masing-masing termasuk Papua, Sulawesi, Jawa dan Belanda,” ujar Rudi Fofid kepada Medcom.id.


Hip hop Maluku cukup unik. Mereka asyik memakai bahasa daerah. Temanya pun sangat lokal. Selain mengangkat kritik sosial, mereka kerap mengagungkan keindahan alam; gunung, laut, dan kemesraan hidup bersaudara (‘pela gandong’).

Maluku pernah dibakar konflik sosial pada 1999—2003 sehingga tema-tema persaudaraan yang diangkat atau diselipkan dalam karya mereka menjadi angin segar. Mempercepat padam sisa bara konflik, melenturkan saraf-saraf yang tegang, dan menambah suasana Maluku -- yang jauh-jauh hari ke belakang memang sudah sejuk-- semakin asyik. Ini kontribusi penting anak-anak Maluku hip hop. Sadar atau tidak.


Rudi Fofid: Foto FB Woorden worden Zinnen

Saya bincang santai dengan Rudi Fofid soal hip hop Maluku. Saya juga minta sedikit cerita dari Hayaka Nendissa, salah satu pendiri Molukka Hip hop Community (MHC). Sepertinya menarik. Yang menjadi awal catatan saya adalah  bahwa rapper Maluku dan Maluku Utara kerap mengusung tema rindu yang dalam akan kampung halaman. Di luar itu, hip hop tetap hip hop. Temanya beragam.

Pada awal-awal masa booming,  rapper Maluku ramai mengutuk konflik sosial secara lantang. Di lain sisi, mereka menyampaikan ajakan untuk baku sayang dengan nada yang manis. “Kalau tema budaya enggak ada matinya,” kata Hayaka.

 Saya bicara dulu dengan Opa, panggilan akrab Rudi Fofid. Setelah itu dengan Hayaka.




Kenapa Rudi tertarik mengumpulkan nama rapper Maluku dan Maluku Utara?
Anak-anak muda dengan inisiatif sendiri tanpa campur tangan dana negara, mereka telah mengubah hip hop yang penuh cacian menjadi penuh pesan suci. Dari f**k menjadi peace.  Bahkan dengan studio rumahan, dalam usia belasan tahun, mereka ikut berpikir tentang kemajuan suatu bangsa, dan komunitas masyarakat.

Anak-anak muda telah memasuki banyak isu.  Korupsi, kerusakan lingkungan, perang, pendidikan, dan kesehatan, semuanya dipikir juga oleh para rapper.  Mereka menggunakan musik hip hop untuk ikut berpolitik membangun daerah dan negara.

Apa motivasi lain?
Hal lain, tidak semua musisi mengurus arsip musik secara telaten.  Banyak artis terkenal, tidak punya data tentang karya mereka.  Jadi mumpung teknologi makin maju, kita bisa membuat pencatatan yang lebih utuh anak-anak rap. Opa (sebutan akrab Rudi Fofid) ingin mengabadikan anak-anak hip hop sebagai satu angkatan baru yang progresif.

Semua punya karya?
Semua punya.  Di daftar ini, tidak lebih dari 10 yang solo rap.  Selebihnya dalam grup dan komunitas.  Jadi lagu-lagu mereka secara grup, ada semua. Semua merekam karya.  Ini memang dikumpulkan belakangan. Opa nanti sensus satu demi satu.


Foto poster: FB Pierre Ajawaila

Ini berarti kumpulan nama individu ya bukan grup?
Ya dirinci. Individu membentuk grup, grup membentuk komunitas.  Jadi rapper ya bukan nama grup rapper.  

Ya rapper.  Ada anak-anak yang pindah-pindah grup. Jadi mulai dari individu saja dulu.

Yang Anda tahu, bagaimana perkembangan hip hop Maluku?
Pada mulanya hip hop di Maluku tidak berkembang sebab anak-anak muda lebih suka mendengar atau menjadi konsumen.

Konflik Maluku telah membuat anak-anak muda banyak kuliah di Jawa, dan memilih jurusan IT atau desain grafis.  Ini dua pilihan favorit.  Di Jawa, mereka bergaul dengan teknologi, juga dengan perkembangan rap di Jawa.  Dengan bekal pergaulan itu, mereka kemudian mulai berpikir tentang Maluku.  

Sepuluh tahun lalu, Juli 2008, muncul Molukka Hip hop Community (MHC) yang terdiri dari hampir 10 grup anak muda di Ambon, Jakarta, Jogja, Salatiga.  Merekalah yang meramaikan hip hop, dan setelah itu terjadi booming.  "Gak laki kalau enggak rap."



Kenapa hip hop lebih banyak mempengaruhi anak Maluku dibandingkan dengan genre lain yang tren juga di Jawa seperti metal dan rock. Apa orang Maluku merasa secara musikalitas lebih punya kedekatan dengan kultur dan ekspresi dalam hip hop ketimbang pada genre lain?

Anak-anak Maluku yang menggeluti hip hop kebanyakan adalah anak-anak yang bebas, ekspresif. Sangat personal, bahkan individual. 

Meskipun orang Maluku dikenal dengan relasi-relasi sosial yang baik, namun dalam kreativitas, ada kecenderungan ekspresi individual yang dominan.  Kalau di paduan suara, vokal grup, tuntutan harmoni membuat individualitas tidak menonjol.  Nah, hip hop memberi lebih untuk anak-anak muda yakni kebebasan individual.

Ada ekspresi yang senada pada musisi Maluku ketika mengangkat tema kampung halaman. Selalu berisi pesan cinta dan pujian yang dalam tentang keindahan alam Maluku, juga kekerabatan.

Istilahnya musisi Maluku kalau sudah bahas kampung halaman itu bikin baper (melankolis) orang Maluku. Kita sering temui penggalan lirik, ‘air mata tumpah’ atau ‘air mata malele’ (meleleh) di lagu Maluku. Diksi itu cukup sering dipakai di lagu pop Maluku dari zaman ke zaman, dan sekarang anak-anak hip hop juga sering pakai.

Orang Maluku itu punya dua sisi ekstrem.  Mereka secara fisik,  seperti alam Maluku, batu karang. Seperti batang sagu.  Alot, makanya cocok untuk hal keras. Bela diri.  Ingat, juara dunia tinju Indonesia, dimulai dari Maluku. 

Kekuatan fisik ini yang kemudian dimanfaatkan Belanda juga untuk tentara KNIL dan Marsose (lebih kejam dari KNIL). 

Sekarang, bisa lihat pada sejumlah preman, penagih,  anggota keamanan.  Fisik orang Maluku dimanfaatkan oleh orang lain. 

Tapi ekstrem kedua adalah  bahwa orang Maluku juga lembut, dan melankolis.  Bicaralah tentang apa saja yang menggugah perasaan seperti persahabatan, persaudaraan, keindahan, kemesraan,  kenangan manis, cinta mama, cinta saudara,  cinta tanah, gunung, laut. Maka kelembutan itulah yang membuat air mata tumpah.  Diksi air mata tumpah sangat ramai di dalam lirik Maluku. 

Di Maluku khususnya Ambon seberapa sering komunitas hip hop gelar panggung (pertunjukan)?
Di Ambon, komunitas-komunitas ini berkolaborasi dengan komunitas sastra, teater, pecinta alam, mahasiswa, pelajar dan sering membuat panggung hip hop dan lomba.

Glenn Fredly pernah membuat beberapa kali pangguung hip hop di Ambon dan Jakarta.
BKKBN secara nasional selalu melibatkan rapper untuk kampanye KB di Maluku. Anak-anak rap Maluku juga berkolaborasi dengan musisi di Belanda

Soal kaitan dengan Ambon kota musik. Apa ada insiatif pemerintah daerah memajukan Maluku Hip Hop ini?
Justru Pemkot Ambon tahun ini menyediakan dana untuk panggung-panggung di sudut kota.  Salah satu panggung disediakan untuk hip hop sepanjang malam. Malam Minggu. Ambon sebagai ibukota provinsi.

Secara mandiri, kafe-kafe di berbagai kota juga menyediakan waktu dan tempat untuk hip hop.  Di Papua, Ternate, Tidore, Tual, dan lain-lain.

Buat Maluku sendiri apa warna yang para hip hop ini sumbangkan untuk daerah?
Ada dua hal. Satu, para rapper menggunakan hip hop untuk memperteguh identitas kemalukuan melebihi batas administrasi (provinsi Maluku-Maluku Utara).  Ada diksi yang mereka sebut berkali-kali dalam lagu berbeda:  "Utara, Lease sampai Tenggara jauh."  Padahal mereka anak zaman now. Mereka tidak tersegregasi menurut batas administrasi tersebut. 




HAYAKA NENDISSA

Bagaimana perkembangan hip hop Maluku?
Setahu saya, hip hop Maluku ada dari zaman Iwa K. Tetapi belum sampai meledak. Hanya ada beberapa rapper, awalnya. Sekitar tahun 1997. Setelah era itu selesai, kemudian hip hop mulai menurun, dan masuk ke masa kerusuhan. Musik pop daerah lebih dominan.

Setelah 2007, hip hop mulai bergeliat. Kami membentuk komunitas dan mengeluarkan karya MHC Anthem. Akhirnya teman di Jogja, Salatiga ikut bergabung. MHC tambah berkembang.
Pada 2012 kami sempat garap album Beta Maluku, projek dari Glenn Fredly.

Dari 2010 banyak komunitas hip hop mulai muncul. Bukan Cuma MHC. Ada banyak. Kami hanya memberi pengaruh kepada adik-adik kami di Ambon, akhirnya mereka tertarik menjadi pelaku hip hop. Hip hop ramai (booming) karena mereka itu.  Istilahnya, kami sebagai pemantik saja.

Kalau Bung, bagaimana proses kreatif di awal-awal terjun di hip hop?
Sebelum MHC, kami baku kirim data via internet. Saya dan Morika Tetelepta. Dia di Jakarta  saya di Bandung. Morika yang mixing. Kami pakai aplikasi Cool Edit Recording. Setelah itu jadi Adobe Audition. 

Sepertinya hip hop lebih tren di anak muda Maluku dibandingkan dengan genre lain?
Sebenarnya yang main di genre lain juga banyak. Tetapi kalau bicara hip hop, mungkin banyak yang suka karena hip hop lebih tajam di lirik.  Di hip hop, orang bebas berekspresi dan mengatakan banyak hal dalam satu lagu. Di musik lain kan agak rumit.

Hip hop mungkin mudah dipahami. Semua pesan tersampaikan. Kalau musik lain,  banyak pakai metafora. Kalau hip hop, mau langsung ke maksud (to the point) bisa saja.


Hayaka Nendissa (merah).(Foto: FB Adit Sam R)

Tema yang dominan di pelaku hip hop Maluku?
Masih dominan tentang budaya Maluku. Dari awal tren sampai sekarang itu tema besar yang masih terus diangkat.

Tema tentang persaudaraan, ‘pela gandong’, itu menurut saya juga tema kebudayaan sih, bukan khusus tentang perdamaian. Akarnya budaya.

Tema budaya enggak ada matinya. Dulu banyak yang bikin lirik kritik ke pemerintah atau mengangkat tema sosial. Sekarang memang sudah banyak yang angkat tema cinta, pergaulan. Tetapi, menurut saya tema budaya enggak bakal mati. Peradaban memang bergerak maju, tetapi budaya itu identitas.  Makanya banyak tema tentang kampung halaman itu karena merupakan identitas.

Bagaimana pergerakan hip hop di Maluku?
Hip hop bergerak sendiri. Bikin panggung sendiri. Menyewa tempat di daerah wisata. Kami tuangkan ekspresi di situ. Sekarang kami bergabung (pementasan) dengan Ambon Bergerak. Bersinergi dengan teman lain.



Suasana penonton di salah satu acara di Ambon. (Foto: FB Adit Sam R)

Berharap dengan perhatian pemerintah tidak? Toh, ada pencanangan Ambon kota musik.
Kita enggak bisa selalu mengharapkan pemerintah karena di luar juga seni berkembang karena investor.  Mungkin karena Ambon/Maluku daerah konflik banyak yang enggak berani.

Susah juga cari sponsor. Misal dapat sponsor perusahaan rokok. Yang cair berapa sih? paling Rp5 juta. Habis untuk sewa panggung dan peralatan suara. Anak-anak hanya dapat tempat ekspresi saja. Enggak dibayar.

Kalau mau menyalahkan pemerintah,  yang disalahkan itu bukan soal ruang- ruang yang minim. Tetapi kebijakan pemerintah untuk membuka peluang menarik investor.

Waktu itu juga, dua lagu (Dansa dan Hena Masa Waya) dari Album Beta Maluku (MHC) masuk nominasi Anugerah Musik Indonesia Award 2012 bukan karena perintah kan?! Kita buat dengan Glenn Fredly.




Grup rapper cilik Maluku, Satu Manumata unjuk kebolehan di sebuah acara.

Jadi tanpa pemerintah, tanpa pencanangan Ambon Kota Musik pun, kami tetap berkarya. Kami bisa buat sendiri.  Enggak akan bergantung. Kedepan saya berharap motor-motor penggeraknya tetap berkarya. Baik di sini saja atau sampai berkembang ke luar. Yang penting jangan berhenti.

Biar cuma begitu-begitu saja juga enggak apa-apa asal jangan mati. Tetapi kalau harapan kan tentu lebih dari itu. Saya berharap Molukka Hip Hop lebih berkembang.



(FIT)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id