Memasuki tahun ke-11 penyelenggaraan, Synchronize Fest kembali mengangkat tagline legendaris mereka, “It’s not just a festival, it’s a movement”. Slogan tersebut pertama kali digaungkan sejak gelaran perdana dan kini kembali dihadirkan sebagai bagian dari refleksi perjalanan festival selama satu dekade terakhir.
Kembalinya tagline tersebut bukan sekadar nostalgia. Setelah melewati 10 tahun perjalanan, Synchronize Fest ingin melihat kembali berbagai langkah yang telah mereka tempuh, sekaligus mengevaluasi bagaimana festival ini dapat terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan dinamika musik Indonesia.
Director Synchronize Fest, David Karto, mengatakan keputusan untuk mengembalikan tema tersebut menjadi momentum bagi pihaknya untuk melakukan kilas balik sekaligus belajar dari perjalanan Synchronize Fest selama satu dekade.
“Kenapa tahun ini kita mengembalikan tema ‘It’s not just a festival, it’s a movement’. Setelah perayaan satu dekade, kita merasa harus kilas balik dan mengingat semua pergerakan kita,” tutur David Karto saat ditemui Medcom.id di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 30 September 2026.
“Kita mau belajar kembali untuk menyempurnakan 10 tahun ke belakang atau 10 perayaan ke belakang. Dan kita merasa dengan situasi yang ada dan semua perkembangan yang ada, kita pikir bersama kayaknya sudah saatnya kita kembalikan lagi bahwa ‘It’s not just a festival, it’s a movement’ kita angkat kembali,” lanjutnya.
Regenerasi Penonton dan Semangat Persatuan
Perjalanan Synchronize Fest selama satu dekade juga turut menghadirkan perubahan dari sisi penonton. Festival yang awalnya tumbuh bersama generasi tertentu kini mulai banyak diisi oleh pendengar dari generasi yang lebih muda.
Direction of Communication Synchronize Fest, Aldila Karina, melihat perubahan tersebut sebagai salah satu alasan penting untuk kembali mengangkat semangat yang dibawa Synchronize Fest sejak awal berdiri.
“Saat ini Synchronize Festival didominasi dengan generasi yang jauh lebih muda, di mana mereka kala itu di tahun 2016 itu belum pernah datang ke Synchronize Festival. Sehingga kami membawa tema tersebut sebagai pengingat dan meneruskan message dari kenapa festival ini dibuat. Ini bukan menjadi hal pengulang, tapi justru ini menjadi sebuah penanda, pengingat untuk generasi muda bahwa ini ada alasan kenapa festival ini sejak awal dimulai,” tutur Aldila.
Menurut Aldila, Synchronize Fest sejak awal lahir dari keresahan terhadap festival musik yang kala itu masih kerap memisahkan penonton maupun musisi berdasarkan genre. Karena itu, Synchronize Fest mencoba menghadirkan ruang yang mempertemukan berbagai jenis musik dalam satu panggung.
“Secara khusus sebenarnya salah satu alasan kenapa Synchronize Festival awalnya dulu kami menghadirkan festival ini adalah, kami memiliki kegelisahan di mana ketika dulu festival kan selalu berbicara tentang genre gitu ya,” lanjutnya.
Synchronize Fest kemudian mencoba mempertemukan berbagai genre tersebut dalam satu perayaan. Bagi Aldila, semangat tersebut kini semakin relevan ketika musik juga dapat menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat dari latar belakang yang berbeda.
“Kami satukan semua genrenya di Synchronize, itu sebabnya namanya Synchronize Festival. Sekarang di saat semua sudah bersatu, friksi sosial selalu ada dan kita jadikan Synchronize Festival sebagai perayaan persatuan gitu. Sehingga tidak ada lagi klasifikasi ‘lu levelnya musisi komersil’ ataupun ‘lu bawah tanah’, semua menyatu di Synchronize Festival,” tutupnya.
Hadirkan Pertunjukan Spesial
Selain membawa kembali semangat yang menjadi identitasnya, Synchronize Fest 2026 juga menghadirkan sejumlah pertunjukan khusus. Beberapa musisi akan tampil dengan konsep dan setlist yang dirancang secara spesial, sehingga penampilannya tidak sekadar mengulang format pertunjukan reguler.Salah satunya adalah Konser Musikal Senja Teduh Pelita yang mempertemukan Maliq & D’Essentials dengan Jakarta Movin. Perunggu juga akan membawakan materi dari album Dalam Dinamika, sementara Project Pop menghadirkan pertunjukan khusus untuk merayakan 30 tahun perjalanan mereka.
Synchronize Fest 2026 juga memberikan ruang bagi sejumlah kolektif musik yang turut menjadi bagian dari perkembangan berbagai skena di Indonesia. Sejumlah kolektif akar rumput akan hadir melalui pertunjukan khusus yang mempertemukan musisi dari lintas generasi.
Dari skena reggae, hadir Reggae Gang yang mempertemukan Day Afternoon, Dhyo Haw, Momonon, Sejedewe, Uncle Djink & Fahmi Aziz, serta Varid Putra Mbah Surip.
Sementara itu, skena emo akan diwakili melalui Emo Revival yang menghadirkan Alone At Last, Friends of Mine, Killed By Butterfly (2006 Era), Killing Me Inside Re:Union, Side-B (Thirteen 2009 Era), serta The Side Project.
Tak hanya pertunjukan kolaboratif dan reuni, Synchronize Fest 2026 tetap menghadirkan sederet musisi populer dari berbagai generasi. Mereka akan mengisi panggung festival dengan beragam warna musik, mulai dari pop, rock, indie, hingga musik dangdut dan elektronik.
Beberapa nama yang akan tampil di antaranya Afgan, Efek Rumah Kaca, For Revenge, Monkey to Millionaire, Potret, Rumahsakit, Sal Priadi, The Changcuters, The Jansen, The Panturas, The Upstairs, Alkateri: Expanded Session, Ayu Ting Ting, Bernadya, Hindia, .Feast, Rizky Febian & Mahalini, Souljah, Wali, Duo Maia, Endank Soekamti, The Adams, J-Rocks, Nadhif Basalamah, Vierratale, dan masih banyak lainnya.
Melalui rangkaian pertunjukan tersebut, Synchronize Fest 2026 tidak hanya menjadi ruang untuk menikmati musik, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan musik Indonesia. Berbagai generasi, genre, dan skena kembali dipertemukan dalam satu perayaan yang membawa semangat bahwa musik dapat menjadi ruang bersama.