Dalam wawancara dengan YouTuber musik asal Inggris, Bradley Hall, yang dipublikasikan pada akhir 2024, Matt mengungkapkan bahwa biaya tur terus membengkak, bahkan bagi band sebesar Avenged Sevenfold. Honor kru, kebutuhan transportasi, bahan bakar, hingga perjalanan antarkota dan negara membuat perhitungan finansial sebuah tur semakin rumit.
“Truk makin banyak, sopir makin banyak, bensin makin mahal, perjalanan juga tambah jauh. Makanya sekarang kita udah lihat banyak band yang batalin tur mereka,” ujar Matt dalam wawancara tersebut.
Ia juga menyoroti kenaikan harga tiket konser yang justru membuat penjualan mengalami penurunan. Menurut Matt, penggemar mulai jenuh dengan harga pertunjukan yang semakin mahal, sementara inflasi dan biaya produksi terus menambah beban penyelenggaraan tur.
“Jadi, ini salah satu hal yang bikin tur itu sekarang susah banget buat band-band. Rasanya hampir nggak mungkin. Ditambah lagi, penjualan tiket lagi turun drastis sekarang. Orang-orang udah pada jenuh sama harga tiket yang makin mahal dan inflasi, jadi semuanya saling bertumpuk jadi masalah,” ungkapnya.
Matt bahkan menyinggung harga tiket konser Taylor Swift yang menurutnya bisa mencapai ribuan dolar AS. Ia juga menjelaskan bahwa berkurangnya pendapatan dari penjualan album fisik membuat dukungan label terhadap biaya tur tidak lagi sebesar sebelumnya.
“Kita juga harus sadar, kalau sekarang nggak ada lagi CD yang masuk ke label rekaman, berarti nggak ada lagi dukungan untuk tur. Mereka nggak lagi mendapatkan uang sebanyak itu. Jadi, bisa dibilang situasinya sekarang cukup sulit dan cukup memprihatinkan,” tuturnya.
Indonesia Jadi Pasar Penting Avenged Sevenfold
Bagi Matt, pertumbuhan pendengar di negara seperti Indonesia memperlihatkan pentingnya membuka pasar di luar wilayah yang secara tradisional menjadi pusat industri musik Barat. Ia menilai perkembangan layanan streaming turut mengubah cara band menjangkau pendengar dan membangun basis penggemar global.“Menurutku, kalau kita terus mendatangi tempat-tempat baru dan membuka pasar di sana, seolah-olah menancapkan bendera, maka kalau kita bisa bikin seluruh dunia streaming musik kita, itu bakal menutupi celah yang dulu ada di era ’90-an dan awal 2000-an. Waktu itu, label rekaman dan industri musik nggak peduli sama tempat-tempat ini (Indonesia) karena dianggap nggak menghasilkan uang,” kata Matt.
Pernyataan tersebut memberi konteks menarik menjelang konser Avenged Sevenfold di Jakarta. Indonesia bukan sekadar tempat untuk menambah tanggal dalam kalender tur Asia, melainkan pasar dengan basis pendengar yang menurut Matt telah tumbuh signifikan. Namun, pengakuan itu tidak serta-merta berarti setiap konser di Indonesia pasti menguntungkan. Matt justru menggambarkan industri tur sebagai bisnis yang perhitungannya semakin sulit.