Iwan Fals (Foto: Musica Studios)
Iwan Fals (Foto: Musica Studios)

Iwan Fals - Pun Aku (Catatan dari Album Terbaru Iwan Fals)

Medcom • 03 September 2021 09:31
Artikel di bawah ini ditulis pegiat musik Adib Hidayat, yang secara khusus dipilih oleh manajemen Iwan Fals membuat catatan untuk album Pun Aku.
 

Album Pun Aku bertutur tentang Iwan Fals. Album yang rampung di tahun 2021 menjadi refleksi akan dirinya, buah dari pemikiran dan respon pada dunia yang dijalani. Iwan Fals berinteraksi dengan banyak seniman muda yang memiliki kesadaran tinggi untuk hidup bersama dan berdampingan.
 
“Saya sudah banyak menulis lagu tentang orang seperti 'Bento', 'Si Budi' dan 'Oemar Bakri': Lantas untuk keluarga menulis lagu tentang 'Galang Rambu Anarki', 'Cikal','Raya', 'Rosana' atau tokoh besar seperti 'Willy', 'Bung Hatta' dan banyak lagi. Mungkin saatnya saya menulis album untuk diri sendiri, jadilah album Pun Aku ini,” kata Iwan Fals yang mempercayakan urusan produksi musik pada Rambu Cikal dan Lafa Pratomo.

Album Pun Aku ini begitu personal. Diawali dengan lagu “Pun” ditutup dengan lagu “Aku.” Orang-orang yang terlibat di album baru Pun Aku ini berasal dari sahabat dan kerabat dekat. Orang-orang di sebelah jantung, istilah yang dipakai Rambu Cikal di pelibatan mereka di
proses kreatif produksi musik album ini.
 
Raya Rambu Rabbani, anak bungsu Iwan Fals ikut mengisi drum di album ini. Satu gitar tua warna hitam pekat yang dimiliki sejak mereka masih kontrak rumah di Bintaro kembali dibersihkan dan dipakai untuk rekaman.
 
“Iwan Fals itu tonggak penanda zaman," begitu kata produser musik album ini Lafa Pratomo, yang juga memproduseri Pun Aku. la bersama Rambu Cikal menjadi dua peletak dasar pondasi dan akar yang menentukan konsep, meracik bunyi, meramu nada dan memilih siapa saja yang punya senyawa kuat untuk mengisi vokal tamu serta musisi yang terlibat di materi album berisi dua belas lagu ini.
 
“Ada lagu 'Bunga Kayu' dari tahun 1995 yang saya tulis saat gelisah menunggu Galang (Rambu Anarki -anak sulungnya—) pulang ke rumah atau lagu 'Sebuah Genteng' yang saya tulis tahun 2014 saat Presiden baru terpilih. Sisanya lagu-lagu baru tercipta di tahun 2020 dan ada dari beberapa penulis lagu lain,” kata Iwan Fals menjelaskan penulisan lagu-lagu di Pun Aku.
 
Iwan Fals sering menjadi produser musik untuk lagu dan album dalam karirnya. Namun selalu ada periode zaman kala ia mengajak produser dan penata musik terpilih yang latar belakangnya beragam. Mulai dengan nama Willy Soemantri, Bagoes AA, lan Antono, Billy J. Budiardjo dan sekarang Rambu Cikal bersama Lafa Pratomo menambah daftar itu. Ini yang membuat album
Pun Aku menjadi istimewa dalam katalog album Iwan Fals.
 
Tujuh lagu diciptakan Iwan Fals: "Selamat”, “Sebuah Genteng”, “Bunga Kayu”, “Kabar Aroma Tanah", “Penghibur Hati”, “Untukmu”, dan “Merah Putih”. Tiga lagu lain masing-masing diciptakan oleh Lafa Pratomo (“Pun”), Dimas Wijaksana dari Mr. Sonjaya/Syarikat Idola
Remaja (“Kata Siapa Cinta Itu Menyakitkan” (KSCIM)), dan Enda dari Ungu (“Patah”). Dua lagu sisanya ditulis bersama oleh Iwan Fals dengan Sandrayati Fay, “16/01” serta Rambu Cikal, “Aku.”
 
Lagu “16/01” yang ditulis dan dibawakan bersama Sandrayati Fay dipilih menjadi single pertama. Iwan Fals dan Sandrayati Fay berceloteh dan bernyanyi merespon
kondisi yang saat ini. Kala pandemi datang dan imbasnya berasa ke setiap rumah, kelompok
masyarakat yang masih terbelah karena perbedaan politik, tentang ketidakadilan dan tentu saja masih tentang cinta.
 
Lagu “Merah Putih” yang menjadi single kedua rilis bertepatan pada 17 Agustus 2021, sekaligus
memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke-76. Lagu yang dipersembahkan untuk Indonesia, menjadi pengingat bahwa kita adalah negara kuat, kita pasti bisa.
 
“Merah putih darah dan tulangku. Takkan luntur diterkam
waktu..."

 
Lalu, doa dan harapan paling tulus dan hangat untuk orang terdekat Iwan Fals saat merayakan hari jadi men-jadi tema lirik lagu “Selamat” yang terpilih menjadi single ketiga di album Pun Aku ini.
 
Lagu ini terasa megah dengan aransemen string Aldi Nada Permana. Musik video digarap apik dengan mengambil sudut-sudut pribadi di kediaman Iwan Fals. Tawa bahagia keluarga Iwan Fals, Rosana, Rambu Cikal dan Raya Rambu Rabbani di ruang keluarga membuka album lama yang lusuh. Foto mendiang Galang Rambu Anarki tergantung di dinding, seolah menatap keluarga
ini.
 
“Dunia sekedar mampir. Gemerlapnya menyilaukan. Toh akhirnya kan menyingkir. Menjadi lukisan, menjadi nyanyian. Menjadi puisi, menjadi cerita. Dan lalu semua sirna...”
 
Kehadiran banyak nama penyanyi perempuan yang datang dari generasi dan genre berbeda berhasil memikat di setiap lagu, menjadikan album ini begitu segar dan renyah dengan hidangan menu vokal yang menjadi signature masing-masing musisi tamu.
 
Simak saja “Sebuah Genteng” yang punya asupan country lezat terasa pas dengan hadirnya NonaRia. Danilla bisa mengajak Iwan Fals menyatu secara magis, misterius dan gelap dalam “Penghibur Hati” yang berhasil diracik pas oleh para produser.
 
Resapi lagu “Untukmu”. Simak bagaimana Iwan Fals bisa melebur dalam dunia Nadin Amizah yang teduh. Lagu ini mengingatkan Iwan Fals dahulu kala saat diajak orang tua makan di daerah Gondangdia, Jakarta Pusat. Iwan Fals kecil mempertanyakan kenapa dilahirkan? Kenapa
dia ada di dunia ini? Di lagu ini ada lirik, ” Lawanku, temanku, saudaraku, keluargaku...pun aku”.
 
Frasa Pun Aku kemudian disepakati menjadi kemasan utuh judul album ini.
 
Kehadiran alunan bunyi harpa yang dimainkan Maya Hasan dan vokal Rara Sekar di lagu “Bunga Kayu” berhasil membuat lagu lama yang ditulis Iwan Fals puluhan tahun lalu menjadi salah satu lagu favorit. Komposisi yang bisa menjadi terapi musik lewat pilihan frekuensi notasi nada yang mengawang dan kontemplatif.
 
Sementara “Kabar Aroma Tanah” yang ditulis Iwan Fals di Jonggol saat usai turun hujan terasa khidmat dengan balutan akustik gitar dengan sound yang mengingatkan Iwan Fals di periode album Belum Ada Judul (1992).
 
Warna pop dengan takaran produksi yang pas dituang- kan Iwan Fals di dua lagu lain di album ini yaitu “Kata Siapa Cinta Itu Menyakitkan (KSCIM)” yang ditulis Dimas Wijaksana dari Mr. Sonjaya / Syarikat Idola Remaja dan “Patah” yang ditulis Enda dari Ungu dan juga melibatkan Pay Burman sebagai produser musik.
 
Indrawati Widjaja dari Musica Studio's berharap album ini bisa diterima dengan baik oleh penggemar Iwan Fals. “Semua proses kreatif kami serahkan ke Rambu Cikal, Lafa Pratomo dan Iwan Fals. Semoga album ini bisa menjadi teman yang diterima dengan baik di musik
Indonesia di saat semua serba sulit ini.”
 
Bagi Rambu Cikal, dia berharap orang yang mendengar album ini akan ingat Iwan Fals dengan gitarnya: menjadi samurai, lirik yang tajam, melekat tak terpisahkan. Satu kesatuan zat yang utuh.
 
Album ini lahir saat pandemi menerjang bumi. Poses rekaman dilakukan di berbagai lokasi dengan perbedaan jarak dan waktu. Menguras emosi dan hati. “Saya berharap album ini bisa menjadi bekal menghadapi kenyataan yang ada. Menjadi obat, pengingat, refleksi dan suplemen hidup bagi kita umat manusia yang tengah mendapat cobaan berat hampir dua tahun ini karena pandemi. Kita bersama menghadapi ini, kalian tidak sendirian,” ungkap Iwan Fals.
 
Pun Aku akan menjadi penanda zaman, perekam suatu era ketika umat manusia bersatu dalam satu frekuensi duka, lara, kehilangan dan kesedihan. Namun lewat lagu dan lirik yang tertuang di Pun Aku, Iwan Fals mengajak kita untuk terus menghidupkan harapan. Mengingat
dan rasa syukur dan berdoa kepada Tuhan telah diberikan kesehatan. Menyalakan api semangat hidup untuk terus bergerak.
 
Pun Aku yang menjadi album ke-42 Iwan Fals akan rilis resmi pada 3 September 2021 lewat Musica Studio's, bertepatan dengan perayaan usia ke-60 Iwan Fals.
 
“Tinggalkan yang kemarin jangan disimpan. Maafkan dan lupakan.”
 
Jakarta, 27 Agustus 2021
Adib Hidayat
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA