(Foto: Dok.MI/ Antara Foto/ Akbar Nugroho Gumay)
(Foto: Dok.MI/ Antara Foto/ Akbar Nugroho Gumay)

Titik Cerah Pengarsipan Musik Indonesia

Hiburan arsip musik
Agustinus Shindu Alpito • 02 Juni 2016 10:15
medcom.id, Jakarta: Tanggal 1 Juni sangat istimewa bagi bangsa ini. Selain diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila, di dunia musik juga menjadi momen bersejarah.
 
Pemerintah melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) meresmikan program "Kerja Sama Pengarsipan dan Pendataan Hasil Industri Rekaman di Indonesia" bersama Irama Nusantara pada 1 Juni.
 
Ini adalah momentum penting bagi sejarah seni Indonesia, di mana pemerintah akhirnya memberikan dan menunjukkan secara langsung kepeduliaannya dalam hal pengarsipan dan pendataan musik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Seperti kita ketahui bersama, belum ada lembaga di negara ini yang secara benar mengurus pengarsipan musik, bahkan Arsip Nasional Republik Indonesia. Itu artinya, selama ini kita tidak memiliki sumber referensi resmi perjalanan industri rekaman Indonesia.
 
Irama Nusantara melakukan kegiatan pendataan dan pengarsipan musik Indonesia secara independen dan swadaya sejak 2011.
 
Meski jauh dari sorotan publik, secara berkala Irama Nusantara mampu mengarsipkan sekitar 100 album musik setiap bulan. Saat ini, lebih dari seribu album telah diarsipkan dalam bentuk digital, dan bisa diakses publik melalui laman www.iramanusantara.org.
 
Pada Oktober 2015, Metrotvnews.com pernah menulis rangkaian artikel bertema "Menelusuri Jejak Musik Indonesia."
 
Salah satu judul artikel yang kami publikasi adalah Harapan Nihil Kepada Pemerintah untuk Pengarsipan Musik.
 
Kami mencoba menelusuri arsip musik Indonesia ke Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI). Namun, ternyata ANRI mengaku tidak memiliki tanggung jawab untuk mengarsipkan musik Indonesia.
 
"Itu bukan tugas pokok ANRI (mengarsipkan musik). Kami mengarsipkan dokumen negara, berupa file kertas, film, dokumen negara, micro film, film lama yang kami dapat dari PPFN (Perum Produksi Film Negara) dan TVRI," kata bagian Subdit Layanan Arsip ANRI, saat dihubungi Metrotvnews.com pada Oktober 2015.
 
Titik Cerah Pengarsipan Musik Indonesia
Museum Arsip Nasional Republik Indonesia (Foto: Dok.MI/Antara/Muhammad Adimaja)
 
Lepas tangan lembaga pengarsipan negara tentu bagaikan tamparan keras. Bagaimana tidak, musik yang terekam dalam berbagai medium dari berbagai zaman adalah produk budaya dan memiliki muatan sejarah dan kultur yang bernilai tinggi.
 
Membicarakan masa depan musik Indonesia tentu tidak bisa lepas dari memelajari, meninjau, dan menghargai sejarah masa lalu.
 

Titik Cerah
 
Dalam jumpa pers yang digelar di Rolling Stone Cafe, Jakarta Selatan, Rabu (1/6/2016), Triawan Munaf selaku Kepala Bekraf menegaskan bahwa pengarsipan dan pendataan musik Indonesia adalah bagian dari tanggung jawab pemerintah.
 
"Kerja sama ini penting. Indonesia lemah di bidang pengarsipan," kata Triawan.
 
"Jika bangsa ini punya arsip musik yang baik, bukan saja berguna untuk peneliti dan musisi, tetapi juga untuk turis. Indonesia punya perjalanan musik yang panjang," ucap dia menambahkan.
 
Sebagai salah satu langkah awal, kolaborasi antara Bekraf dan Irama Nusantara akan terwujud dalam program Gerakan 78. Program ini merupakan upaya untuk mengarsipkan dan mendigitalisasikan materi musik dari piringan hitam berbahan shellac (78 RPM).
 
Titik Cerah Pengarsipan Musik Indonesia
Seorang pegawai Museum Lokananta memperlihatkan piringan hitam dan plat pressing berukuran 10" (7/5). (Foto: Dok.MI/Dzulfikri P. Malawi)
 
Menyelamatkan materi dalam piringan hitam shellac harus segera dilakukan, karena bahan piringan hitam tersebut sangat rentan rusak. Shellac digunakan sebagai medium rekam industri musik periode 1920-an hingga 1950-an.
 
"Plat-plat dari era tersebut (shellac) menemukannya saja susah, apalagi dalam kondisi yang baik. Bahannya juga bukan vinil, mudah sekali pecah. Ditambah keadaan cuaca Indonesia serta metode penyimpanan yang sederhana. Situasi ini tidak memungkinkan piringan hitam berumur panjang," kata David Tarigan, salah satu inisiator Irama Nusantara.
 
Beruntung, David memiliki relasi dengan keluarga almarhum Haryadi Suadi, kolektor shellac dan vinil di Bandung.
 
Gerakan 78 akan mengarsipkan koleksi shellac album Indonesia milik Haryadi yang berjumlah ratusan. Selain itu, shellac milik Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia juga menjadi target pengarsipan Gerakan 78.
 
Langkah pengarsipan musik juga dilakukan Bekraf dan Irama Nusantara dengan menyambangi Radio Republik Indonesia (RRI) di seluruh daerah. RRI merupakan lumbung penting yang menyimpan sejarah perjalanan musik Indonesia. Mengingat pada zaman dahulu, radio memegang peranan penting dalam industri musik.
 
Titik Cerah Pengarsipan Musik Indonesia
Kepala Bekraf Triawan Munaf menunjukkan piagam kerjasama dengan Irama Nusantara (Foto: Metrotvnews.com/ Agustinus Shindu Alpito)
 
Selain Irama Nusantara, pengarsipan musik Indonesia secara swadaya juga dilakukan oleh Arsip Jazz Indonesia. Dikelola oleh Alfred D. Ticoalu dan Roullandi N. Siregar, Arsip Jazz Indonesia fokus mengumpulkan, mendata, mendigitalisasikan, serta mengarsipkan album serta literatur musik jazz Indonesia.
 

Hak Cipta dan Komersialisasi
 
Wacana pengarsipan tidak berhenti pada pendataan dan digitalisasi saja. Kemungkinan lain seperti mengelola arsip musik untuk bisa kembali dijual kepada penggemar musik bergulir.
 
David menegaskan bahwa Irama Nusantara bukan lembaga yang mengincar profit dari pengarsipan musik. Tetapi, bukan tidak mungkin terjadi komersialisasi ketika ada pihak yang tertarik memanfaatkan kembali karya musik lawas, setelah melihat katalog arsip musik yang ada.
 
Imam Haryanto dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional menegaskan bahwa pihaknya siap untuk mendulang royalti ketika ada pihak-pihak yang menggunakan musik Indonesia tempo dulu. Asalkan, pihak keluarga dari musisi mulai peduli untuk mendaftarkan diri ke lembaga kolektif yang ada.
 
Soal hak cipta, Imam menjamin apa yang dilakukan Irama Nusantara tidak melanggar hukum. Alasan utamanya adalah, Irama Nusantara bukan menggunakan musik untuk komersial. Sebaliknya, dengan adanya katalog dan arsip musik yang lengkap, urusan hak cipta, dan royalti menjadi jelas.
 
Titik Cerah Pengarsipan Musik Indonesia
Lokananta merupakan salah satu tujuan wisata di Kota Solo yang memiliki koleksi lengkap arsip catatan sejarah industri musik Indonesia dan sebanyak 50 ribu keping piringan hitam musik, termasuk berbagai rekaman pidato Presiden Soekarno. (Foto: Dok.MI/ Antara /Maulana Surya).
 

"Karya Sam Bimbo banyak diakui orang di Malaysia. Tetapi kita tidak bisa klaim karena kita tidak memiliki dokumentasi dan arsip. Saya berharap dengan adanya Irama Nusantara, untuk membuat database selengkap-lengkapnya. Ini kita sedang melakukan proses verifikasi. Dokumentasi seperti ini sangat diperlukan," kata Imam.
 
Bekraf juga melihat pengarsipan merupakan bagian dari awal membangun ekosistem industri musik yang baik. Dalam artian, menguntungkan para musisi dan pencipta lagu karena bisa mengurus royalti dengan mekanisme yang sudah diterapkan pemerintah. Di samping itu, diharapkan efek jangka panjang dari kepedulian terhadap royalti, hak cipta, dan pengarsipan akan membawa dampak signifikan terhadap perekonomian.
 
"Kenyataannya, kontribusi musik pada GDP Indonesia belum sampai 1 persen. Sedangkan fesyen dan kuliner sudah mencapai 31 persen. Memang ada pergeseran industri. Kita tidak bisa tertinggal. Kita harus membereskan urusan legal," kata Triawan.
 
Triawan bahkan mengakui bahwa bobroknya ekosistem industri musik selama ini adalah hasil dari ketidakpedulian pemerintah.
 
"Semua memang kesalahan pemerintah. Pemerintah hanya bisa menciptakan ekosistemnya. Kesalahan pemerintah tidak cepat tanggap terhadap perkembangan musik," lanjut ayah dari penyanyi Sherina Munaf itu.
 
Musik Indonesia memang memiliki potensi menjanjikan. Tidak jarang produk musik negeri ini dilirik pasar Barat. Namun, dengan tidak adanya dokumentasi dan arsip yang baik, celah-celah komersialisasi itu justru dimanfaatkan pihak tak bertanggungjawab. Lebih-lebih, dilakukan oleh asing.
 
Hal itu nyata terjadi pada rekaman album Guruh Gipsy (1977) yang dibajak label asal Jerman.
 
Dengan melengkapi katalog sejarah musik Indonesia dan melindunginya dengan payung hukum yang jelas, tentu kita semua berharap bahwa karya musik, berapapun usianya, akan mendapat penghargaan yang layak. Mampu memberikan manfaat bagi penciptanya, dan juga memberi hiburan dan informasi bagi generasi sekarang dan akan datang.
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif