Fourtwnty (Foto: Antara Foto/Fathurrozak Jek)
Fourtwnty (Foto: Antara Foto/Fathurrozak Jek)

Fourtwnty: Kami Tidak Mengangkat Isu Sosial Palsu!

Hiburan indonesia musik Fourtwnty
Medcom • 23 Oktober 2021 10:00
Banyak orang menafsirkan musik sebagai hal yang berbeda-beda. Ada yang menganggapnya sebagai sekadar hiburan. Ada yang menggunakan musik sebagai media terapi. Ada juga yang memakai musik sebagai alat untuk bercerita, berlantun, beropini, dan mengkritik. Hampir bisa dikatakan tiada seorang pun yang bisa hidup tanpa adanya musik.
 
Musik merupakan sebuah karya seni yang dinikmati dan diapresiasi lewat telinga manusia. Sebuah suara berisi harmoni, irama, melodi yang terstruktur menjadi bunyi, masuk menggetarkan gendang telinga hingga setelah proses tertentu dapat mengirimkan sinyal ke otak. Hal itulah yang menyebabkan musik sangat-sangat memengaruhi emosi pendengarnya. Sebuah lagu dapat membuat orang yang mendengar menjadi sangat terlarut akan kesedihan atau kemarahan yang sedang dirasa, namun bisa juga membuat seseorang bangkit melawan emosinya tersebut menjadi bahagia.
 
Tentunya selera musik berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang suka lagu ballad, ada juga yang tidak menyukainya karena terlalu "menye-menye." Ada yang suka lagu metal atau hardcore karena berisi luapan amarah yang keras, ada juga yang tidak dapat menikmatinya karena berisik. Bebegitupun pada aliran musik yang lainnya. Di antara beberapa perbedaan preferensi musik di setiap kalangan, sebuah karya seni ini dapat menembus banyak pendengar jika dipadukan dengan syair yang tepat dan relate dengan perasaan banyak masyarakat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bercerita dari masyarakat, disajikan untuk masyarakat. Itulah yang menjadi ciri khas musik dari Fourtwnty. Band folk indie ini mengatakan bahwa pada setiap lagu mereka selalu mengangkat isu-isu sosial yang ada di sekitar. Dalam single-nya yang berjudul "Nematomorpha" (2020) mereka membuktikan bahwa terlepas dari bagaimana unsur serta jenis musiknya, lirik yang kuat dan relate bisa menyatukan para pendengar. Pada lagu tersebut, band yang identik dengan nyanyian merdu dengan alunan gitar yang mendayu-dayu serta bunyi-bunyian bernuansa alam ini, sedikit keluar dari zona nyamannya dengan menyajikan unsur musik reggae yang cukup kuat. Aliran musik yang identik dengan santai di pantai ini tentunya memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan musik folk ala Fourtwnty biasanya, namun tetap bisa diterima oleh para pendengar dan bahkan cukup masif.
 
Dalam wawancara yang kami lakukan di daerah Kemang Timur, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu, Ari Lesmana (vokalis Fourtwnty) mengungkapkan bahwa lagu "Nematomorpha" berangkat dari kebosanan dan ingin mencoba hal baru.
 
Fourtwnty: Kami Tidak Mengangkat Isu Sosial Palsu!
(Fourtwnty tampil di depan rumah panggung kuno khas Melayu di Kampung Bandar Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru, Riau, pada 2017. Foto: Antara Foto/FB Anggoro)
 

“Ya, awalnya bosan saja dan ingin mencoba hal baru tanpa menghilangkan unsur Fourtwnty-nya. jadinya agak berbeda. Tapi tetap lah kita kuatnya di lirik dan nuansa-nuansa begitu. Ternyata berhasil juga, ya. Maksudnya di luar ekspektasi begitu ternyata banyak juga yang mendengar,” ucap Ari. “Waktu itu aku di Makassar ada pengamen bilang bahwa dia suka kali lagu itu,” tambahnya.
 
Additional player Fourtwnty, Primandana Ridho turut bersuara. “Sebenarnya, Fourtwnty khasnya bukan selalu di musik. Bagaimanapun Fourtwnty kan sering mengangkat isu-isu sosial. Seperti di "Nematomorpha" itu tentang teman-teman yang toxic kan. Jadi kenapa masih bisa dinikmati teman-teman? Karena kami tidak mengangkat isu-isu sosial yang palsu,” tandasnya.
 
Sang gitaris, Nuwi menyebutkan bahwa memang isu-isu seperti ini banyak dan sering terjdi dalam lingkaran pergaulan anak-anak muda. “Jadi penyampai pesan saja begitu, kan musisi itu penyair. Ya jadi menyampaikan pesan. Mungkin ada orang yang satu rasa jadi merasa relate,” ucapnya.
 
Band bentukkan Roby personel band Geisha ini memang sangat dekat dengan masyarakat sampai-sampai mereka memanggil para penggemar dengan nama Society. Peran Society dalam perjalanan karier Fourtwnty sangat besar. Dapat dikatakan, eksistensi band ini tidak dapat seperti sekarang tanpa adanya dukungan para Society. Mereka menganggap penggemar seperti teman, bahkan keluarga. Hampir setiap kota yang yang didatangi untuk konser, Fourtwnty seringkali menyisihkan waktu untuk nongkrong bersama para penggemar dan berbincang-bincang.
 
“Ya, selagi masih bisa ketemu, ketemu. Kangen juga sih sudah lama enggak seperti ini (dikarenakan oleh pandemi),” Kata Ari.
 
“Dulu tuh sampai pernah diusir dari hotel karena kami terlalu ramai,” Ari melanjutkan sambil tertawa.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif