Meneladani Perjuangan Ginan "Jeruji" Melawan Stigma

Elang Riki Yanuar 24 Juni 2018 10:04 WIB
indonesia musik
Meneladani Perjuangan Ginan
Ginan Jeruji (Foto: via jeruji4warlock.com)
Jakarta: Divonis mengidap penyakit HIV/AIDS bagi sebagian orang adalah selangkah menuju kematian. Namun, bagi Ginan Koesmayadi, HIV--seperti yang pernah dia ucapkan-- tak lebih dari sebuah virus. Sebagai penyakit, ia memang bisa mematikan, tapi tak berarti mengubur impian Ginan memulai petualangan baru.

Pergumulan Ginan dengan dunia narkoba membawanya pada konsekuensi yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Dia menjadi pencandu narkoba selama tujuh tahun. Ketika hendak bertekad lepas dari kecanduan narkoba, satu kenyataan pahit harus dia terima: positif mengidap HIV.

"Sempat merasa marah dengan Tuhan. Di saat saya mau berhenti, justru diberi cobaan berat. Tapi, saya coba berpikir positif. Jadi pengidap HIV bukan berarti dunia jadi kiamat," kata Ginan saat berbincang dengan Andy Noya di acara Kick Andy.


Bagi penyintas HIV seperti Ginan, mereka harus menghadapi 'serangan' bertubi-tubi. Dari dalam diri, virus terus menjalar dalam tubuh mereka. Sedangkan dari luar diri, mereka harus menghadapi stigma dan diskriminasi dari lingkungan, bahkan dari keluarga sendiri. Ginan mengalami hal itu. Apalagi, awal-awal tahun 2000 saat dia divonis mengidap HIV, kesadaran dan pengetahuan orang terhadap virus mematikan itu masih tergolong rendah.

"Saya sadar, stigma terdiri dari banyak lapisan. Saya tidak bisa menyalahkan orang lain karena stigma memang mengakar begitu kuat. Saya tak mungkin memaksakan dunia menjadi bebas stigma sesuai ukuran saya," tulis Ginan dalam bukunya yang berjudul Melampaui Mimpi.

Tapi, seperti yang Ginan tulis dalam bukunya, "Di titik terendah, seseorang tak punya pilihan lain kecuali berjuang untuk menanjak ke atas. Memperbaiki hidupnya sendiri."


Ginan Koesmayadi (Foto: instagram)

Ginan mulai bangkit. Dia tak mau lagi menyerah pada keadaan. Juga tak mau terus mengutuk masa lalu. Ginan sadar, dia tidak sendiri. Karena itu, bersama teman-temannya yang juga terinfeksi HIV/AIDS, Ginan mendirikan wadah yang diberi nama Rumah Cemara pada 2003. Rumah Cemara adalah tempat para Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) dan pengguna narkoba untuk melawan stigma dan diskriminasi terhadap mereka. Hidup kedua Ginan seolah dimulai dari sini.

Lewat Rumah Cemara, Ginan tidak berjalan dari titik nol untuk dirinya sendiri, tapi untuk banyak orang yang senasib dengannya. Rumah cemara menjadi tempat para ODHA dan mantan pengguna narkoba terus percaya ada ribuan kesempatan baru untuk memulai hidup lebih baik.

"Gambaran buram keluarga yang menuturi masa tumbuh kembang saya perlahan-lahan pupus, mulai terganti dengan wajah orang-orang yang terlihat di Rumah Cemara. Hati saya teduh dan sejuk seperti menghirup keharuman hutan cemara. Saya percaya, sesungguhnya, keluarga dapat saya temukan di mana saja," kata Ginan.

Banyak hal yang dilakukan Ginan bersama Rumah Cemara. Selain terus aktif berkampanye tentang bahaya narkoba dan pencegahan HIV, Ginan dan para anggota Rumah Cemara mengekspesikan diri ke dalam berbagai hal seperti seni, musik dan olahraga.

Nama Rumah Cemara sempat mencuri perhatian ketika mewakili Indonesia di ajang pertandingan sepakbola Homeless World Cup pada 2011 di Paris. Indonesia masuk peringkat enam dari 72 tim yang berasal dari 48 negara. Hebatnya, Ginan juga menjadi pemain terbaik di ajang itu, mengikuti prestasi Indonesia yang terpilih sebagai pendatang baru terbaik.


Tim Rumah Cemara di Homeless World Cup 2011 (Foto: ist)

Sejak saat itu, Ginan dan Rumah Cemara semakin popular. Tentu saja, popularitas bukan tujuan utama mereka. Tapi bagaimana kampanye mereka bisa semakin meluas dan upaya mengikis stigma terhadap ODHA dan mantan pengguna narkoba terus berjalan.



Bersinergi Bersama Jeruji

Musik adalah salah satu cara Ginan mengekspresikan diri. Ginan meyakini, musik mampu menjadi alat untuk menuangkan imajinasi, menceritakan sesuatu, dan memprovokasi pemikiran. Musik metal menjadi pilihan Ginan ketika membentuk band bernama Mood Altering. Nama Ginan semakin menjulang ketika didapuk menjadi vokalis Jeruji, band hardcore punk yang sangat disegani di Bandung.

Tugas Ginan tidak mudah. Dia harus menggantikan posisi pendiri sekaligus vokalis Jeruji, Aldonny Supriadi alias Themfuck yang memutuskan hijrah. Tak dapat dipungkiri, peran Donny di Jeruji begitu sentral.

Para personel Jeruji bukanlah orang asing bagi Ginan. Jeruji dan Rumah Cemara kerap terlibat dalam beberapa kolaborasi. Karena itulah, Ginan rela melepas tawaran untuk tinggal di luar negeri demi bergabung dengan Jeruji pada 2015.

"Menjadi vokalis Jeruji sama sekali tak terlintas sebelumnya. Saya bersyukur sampai diberi keajaiban mengisi kekosongan vokal (di Jeruji)," ujar Ginan yang dikutip dari situs resmi Jeruji.


Ginan bersama Jeruji (Foto: via jeruji4warlock.com)

Perlahan tapi pasti, Ginan mulai menyatu dan diterima penggemar Jeruji. Kehadiran Ginan di Jeruji memberikan warna baru. Dia bahkan menulis banyak lirik di album terbaru Jeruji yang berjudul Stay True.

Bersama Jeruji, Ginan seperti mendapat semangat tambahan. Begitu juga sebaliknya. Nama besar Jeruji di dunia musik membuat kampanye Ginan bersama Rumah Cemara sebelumnya semakin menggelegar. Sinergi mereka menghasilkan sikap, "Jangan membeli apapun dari kami kalau kalian masih membenci perbedaan."

Gaung perlawanan dan perjuangan Ginan semakin keras. Tahun lalu, Ginan bersama Jeruji melakukan tur Eropa sekaligus dalam rangka perayaan 20 tahun mereka berdiri.

Namun, kebersamaan Ginan dan Jeruji tak berlangsung lama. Ginan menghembuskan nafas terakhirnya pada Kamis, 21 Juni 2018 malam akibat penyakit jantung. Kepergian Ginan tentu tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi Jeruji, tapi juga para penyintas HIV dan banyak orang.




Nyatanya, Ginan bertahan hampir dua dekade sejak dokter memvonisnya mengidap penyakit yang belum ditemukan obatnya itu. Semangat Ginan untuk terus bertahan hidup tentu bukan hanya menjadi contoh bagi para penyintas HIV, tapi juga bagi kita semua. Tidak hanya meneladani semangatnya bertahan hidup, Ginan juga memberikan inspirasi pentingnya bermanfaat bagi hidup orang banyak.

"Ada banyak hal yang tak dapat saya lihat di depan sana, tetapi mata hati selalu dapat melihat segalanya dengan keyakinan dan intuisi. Saya memulai perjalanan saya seperti unta dalam Thus Spoke Zarathustra. Tetapi saya tahu, tak ada yang boleh membuat saya menyerah dan berhenti. Saya harus berhasil melewati proses metamorfosis ini hingga rampung."

Jasad Ginan memang sudah tak ada lagi. Tapi semangatnya melawan stigma dan diskriminasi akan terus abadi. Selamat memulai perjalanan baru Ginan.





 



(ELG)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id