White Shoes and The Couples Company (Foto: Reza Fauzi)
White Shoes and The Couples Company (Foto: Reza Fauzi)

Film 2020 dan White Shoes & The Couples Company yang Tak Ada Habisnya

Hiburan indonesia musik film dokumenter white shoes & the couples company Musik Indie
Agustinus Shindu Alpito • 24 Januari 2022 08:08
Rasanya kita semua sepakat bahwa segala yang dilakukan sekstet pop asal Jakarta, White Shoes & The Couples Company (WSATCC) tak pernah mengecewakan. Band yang dibentuk oleh para seniman jebolan Institut Kesenian Jakarta ini punya pendekatan artistik yang selalu memikat. Bukan saja soal musikalitas, tapi juga visual, penampilan di atas panggung, dan segala tetek-bengek yang mereka lakukan.
 
WSATCC membuka tahun ini dengan sebuah film bertajuk 2020. Mengusung konsep hibrida antara fiksi, dokumenter, dan video performance, film ini jadi perpanjangan kreatif dari album dengan judul sama yang dirilis pada akhir 2020.
 
Film 2020 disutradarai oleh kawan lama mereka, Dibyokusumo Hadipamenang. Garis besar film ini adalah sosok fiksi tanpa nama yang diperankan Asamara Abigail yang hanyut dalam fantasi saat membuka lembar demi lembar buku dari album 2020. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Album 2020 memang dirilis dalam beberapa versi. Salah satunya versi eksklusif yang berisi CD dengan buku berisi interpretasi masing-masing track dalam bentuk sinopsis imajiner. Asmara Abigail yang tampak menikmati sore di teras rumah tenggelam dalam buku itu. Imajinasi Asmara Abigail lantas divisualkan dengan penampilan WSATCC membawakan tiap track dari album 2020. 
 
Hal yang menarik adalah tiap lagu juga divisualkan dengan dokumentasi kehidupan sehari-hari di Jakarta yang banal. Deret ikan hias dalam plastik, supir bajaj yang sedang menunggu penumpang, daerah Senen yang ruwet, dan pemandangan biasa lain dari Jakarta akan ditemui di sepanjang film ini. Visual yang jujur tentang Jakarta ini jadi kekuatan tersendiri dalam film 2020. Terlebih, album 2020 memang memuat catatan WSATCC dalam merespons kota Jakarta yang menjadi rumah mereka selama puluhan tahun dengan segala keadaannya. Melihat potret Jakarta dengan segala kekacauannya ditemani iringan latar lagu-lagu dari album 2020 seperti menumbuhkan rasa yang janggal. Perasaan benci tapi rindu yang sulit diungkapkan.  
 
Aprilia Apsari, vokalis WSATCC, dalam sesi tanya-jawab setelah pemutaran perdana 2020 di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 20 Februari 2022, mengatakan bahwa cerita utama dari film ini adalah para pendengar WSATCC.
 
"Kalian yang jadi ceritanya, kalian yang tonton, kalian dengar lagunya, dan itu soundtrack hidup kalian," kata Sari.
 
Sementara bagi Dibyo sang sutradara, menggarap film bersama WSATCC adalah tantangan menarik karena masing-masing personel punya kadar estetika dan kesadaran berkesenian yang tinggi.
 
"Dalam proses pembuatan film ini, semua (yang terlibat) punya hak yang sama, semua terjadi organik. Suatu tantangan besar. Gue memosisikan diri gue bukan sebagai klien dan eksekutor. Serunya di situ. Ini enggak melulu pakai pragmatis nalar. Quote Indra Ameng yang paling gue ingat, 'Yang penting rasanya.' Lebih mudah mengerjakan proyek yang hanya berdasarkan nalar dan pragmatis dibanting yang mengutamakan 'rasa,'" kata Dibyo.
 
Film 2020 tayang di bioskop mulai 1 Februari 2022.
 
 
(ASA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif