Ballads of the Cliche (Foto: Metrotvnews/Shindu)
Ballads of the Cliche (Foto: Metrotvnews/Shindu)

Ballads of the Cliche, Bermusik untuk Senang-Senang

Hiburan ballads of the cliche
Agustinus Shindu Alpito • 16 Juni 2016 20:06
medcom.id, Jakarta: Persahabatan selama 20 tahun dan bermusik bersama selama 17 tahun adalah fondasi yang kuat untuk rumah bernama Ballads of the Cliche.
 
Nama Ballads of the Cliche tidak bisa dipisahkan dari semaraknya era indie pop di awal 2000-an. Singel mereka yang berjudul About a Boy sempat jadi lagu wajib dalam daftar putar mereka yang menggemari musik indie lokal. Lagu yang sama juga menjadi soundtrack dari film Catatan Akhir Sekolah (2005), sebuah film yang ikut memengaruhi para pelajar untuk membuat film dokumenter aktivitas mereka di sekolah.
 
Satu dekade setelah hit About a Boy, Ballads of the Cliche masih aktif dan terus berkarya. Kabar terbaru, mereka merilis album penuh kedua bertajuk Paintings.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Memakan waktu produksi tujuh tahun, Paintings adalah cermin persahabatan sekaligus rekam jejak kehidupan para personel Ballads of the Cliche.
 

 
Beberapa waktu lalu, Metrotvnews.com mendapat kesempatan untuk menemui Ballads of the Cliche. Pertemuan kami dilakukan malam hari, mengingat seluruh personel band ini adalah para pekerja kantoran.
 
Mereka adalah Bobby Alvianto (vokalis), Frederick Rheinhard Tobing (gitaris elektrik), Kurniawan Bambang (gitaris akustik), dan Ferry Hardianto (drummer). Turut hadir pula pemain tambahan, yaitu keyboardist Dave Leonard, bassist Madava Nanda Rasika Sangga, dan penyanyi latar Kushandari Arfanidewi. Sayangnya, pertemuan itu tanpa saksofonis Zennis Arrochman, personel Ballads of the Cliche itu tengah disibukkan urusan pekerjaan.
 
Dalam perbincangan yang penuh tawa, Ballads of the Cliche menceritakan kisah di balik Paintings dan konsistensi mereka selama ini yang menganggap musik sebagai sarana untuk bersenang-senang. (VIDEO INTERVIEW BALLADS OF THE CLICHE)
 
“Dalam album Paintings banyak warna, dari aransemen. yang menyanyi juga banyak karena kami semua menyumbangkan vokal di album ini. Hampir semua terlibat (dalam proses pembuatan lagu), kaya warna. Karena direkam dalam rentang tujuh tahun. masing-masing personel punya cerita selama tujuh tahun itu. Album ini bisa dibilang merepresentasikan warna apa saja yang terjadi,” kata Bobby.
 
Lewat Paintings, Ballads of the Cliche seperti lahir kembali ke industri musik. Mengingat iklim yang ada pada saat ini jauh beda dibanding awal kehadiran mereka. Begitu juga dengan penggemar, mau tidak mau Ballads of the Cliche menghadapi regenerasi pendengar musik mereka.
 
“Yang pasti kami seperti mulai dari nol, untuk teman-teman (pendengar) yang baru misal anak-anak SMA kami kenalan lagi. Untungnya dari beberapa penampilan kami, sambutannya menyenangkan,” kata Erick.
 
Bobby menambahkan, mereka tidak khawatir soal regenerasi penggemar. Karena Ballads of the Cliche mengusung musik yang mudah dicerna. (BALLADS OF THE CLICHE DI STUDIO: TAKKAN KEMANA-MANA)
 
“Musik kami kan simpel, jadi lebih gampang untuk dicerna, enggak neko-neko. Kami sering mengistilahkan musik kami seperti Kahitna, musik yang disukai semua orang,” seloroh Bobby disusul tawa rekan-rekannya. (BALLADS OF THE CLICHE DI STUDIO: HOME)
 
Ballads of the Cliche, Bermusik untuk Senang-Senang
 
Terlibat dalam perbincangan dengan para personel Ballads of the Cliche seperti masuk ke dalam lingkar pertemanan yang kokoh. Mereka saling melempar canda tanpa henti, semakin menegaskan bahwa ikatan yang terjalin dalam band ini lebih dari sekadar musik.
 
Ballads of the Cliche bukanlah band yang muluk dalam menulis lagu. Mereka membuat lagu berdasarkan apa yang mereka alami sehari-hari.
 
“Dalam album baru kami berbicara macam-macam, soal percintaan, pekerjaan. Tentang menembak tiga kali tetap ditolak, ada yang pacarnya akhirnya menikah dengan laki-laki lain,” kata Erick sembari tertawa.
 
“Kami enggak suka lirik yang fake, jadi ya cerita dari lagu-lagu soal kami semua,” sambung Bobby menimpali.
 

Tanpa Beban
 
Kesibukkan seluruh personel Ballads of the Cliche sebagai pekerja kantoran membuat band ini lebih efektif berjalan di akhir pekan. Uniknya, selama bertahun-tahun metode “pemusik akhir pekan” itu berjalan dan bahkan bisa melahirkan album.
 
“Kami punya kesibukan lain, kami adalah para pekerja di kala weekdays dan pemusik di kala weekend. Kami butuh cari waktu untuk menyelaraskan waktu antar personel untuk membuat materi baru dan rekaman,” kata Bobby yang sehari-hari bekerja di salah satu bank swasta.
 
Salah satu kunci mengapa Ballads of the Cliche mampu bertahan sejauh ini, tidak lepas dari kesamaan visi antar para personel.
 
“Yang membuat kami bertahan, kami enggak punya ambisi berlebihan. Kami menjalani ini sebagai hobi. Jadi tidak ada istilah tidak puas dengan apa yang kami lakukan bersama-sama,” tukas Bobby.
 
Ballads of the Cliche, Bermusik untuk Senang-Senang
 
Mendengar jawaban sang vokalis, Erick yang sehari-hari bekerja sebagai pemimpin redaksi majalah remaja Provoke! menimpali, “Memang kami satu visi soal itu, kami tidak ada tendensi untuk jadi rockstar atau sukses di musik. Kami pengin imbangi hidup saja, dalam keseharian kami pusing karena deadline terus kami masuk studio sama-sama dan tertawa lagi.”
 
Beda dari dua rekannya, Ferry menganggap ada tiga hal yang membuat mereka bertahan selama ini, “Menurut saya ada tiga F, yaitu Fans, Friends, dan Family. Misal ada teman-teman kita di Jogja yang tanya di media sosial bertanya kapan Ballads main lagi, itu membuat kami semangat untuk terus jalan. kemudian keluarga kami juga mendukung.”
 
Ballads of the Cliche, Bermusik untuk Senang-Senang
 
Soal “penggemar,” Bobby punya sebuah teori jenaka yang menurutnya relevan menggambarkan Ballads of the Cliche. Pria berkacamata itu merasa bahwa Ballads of the Cliche adalah grup yang tidak memiliki penggemar, melainkan “simpatisan.” Yaitu mereka yang tertarik pada Ballads of the Cliche lantaran merasa “tersentuh” atas perjuangan grup ini sekian lama di industri musik.
 
Lain dulu, lain sekarang. Jika saat merilis album debut Ballads masih berada dalam iklim di mana media sosial belum memegang pengaruh, lain dengan saat ini. Hal itu pula yang mereka akui sebagai tantangan Ballads of the Cliche saat ini, berpartisipasi aktif dalam kehidupan media sosial.
 
“Kalau masalah soal waktu itu cerita lama. Tantangan sekarang adalah bagaimana meningkatkan followers, kami belum punya Instagram dan saat mau rilis album Paintings baru mikir bikin Instagram dan kami bingung kontennya akan diisi apa,” kenang Erick.
 
Ballads of the Cliche, Bermusik untuk Senang-Senang
 
Tanpa terasa pertemuan kami selama sekitar dua jam berakhir. Sebelum menutup sesi wawancara, Bobby sempat melontarkan guyon yang kembali menegaskan bahwa Ballads of the Cliche adalah rumah untuk bersenang-senang.
 
"Kalau skill kita tinggi mungkin sudah gabung ke band Krakatau, tapi sekarang kami anggap saja bukan Gunung Krakatau, tapi Gunung Salak, lebih sering didaki," kata Bobby disusul gelak tawa seluruh personel.
 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif