Mengapa Lagu Ciptaan Eross “Sheila on 7” Kerap Menunjukan Inferioritas dalam Percintaan?

Agustinus Shindu Alpito 14 Maret 2018 11:52 WIB
indonesia musik
Mengapa Lagu Ciptaan Eross “Sheila on 7” Kerap Menunjukan Inferioritas dalam Percintaan?
Eross Candra (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
Jakarta: Jika kita amati, lagu-lagu hit Sheila on 7 banyak yang mengambil sudut pandang laki-laki pemalu dan rendah diri dalam urusan cinta. Mulai dari PeDe, Jadikan Aku Pacarmu, Hari Bersamanya,  Pemuja Rahasia, Radio, Berhenti Berharap, Pria Kesepian, Pejantan Tangguh, Seberapa Pantas, Itu Aku sampai singel terbaru Film Favorit. Tentu masih banyak lagi lagu-lagu serupa dalam katalog album band asal Yogyakarta itu.

Adalah Eross Candra, gitaris yang bertanggung jawab pada jamaknya lagu-lagu tentang sosok inferioritas dalam percintaan di katalog album Sheila on 7. Beberapa di antaranya disampaikan Eross dengan cara lugas dan sederhana, lirik PeDe misalnya. Kalimat pertama lagu itu langsung berbunyi:

Aku memang belum punya mobil yang bisa teduhkanmu dari hujan,
tapi aku punya lagu yang menghangatkanmu setiap saat.
Aku memang nggak funky,
tapi bukan gembel yang hidup tanpa usaha
.”


Hal serupa berlanjut, termasuk di album ketiga Sheila on 7, 07 Des. Salah satu lagu yang cukup mewakili sosok inferior pada 07 Des adalah Pria Kesepian. Eross menggambarkan seorang yang “jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta” sebagai sosok utama dalam lagu.  Sosok itupun nampaknya payah dalam urusan cinta, hal itu terbukti pada lirik: 

Ku t’lah berjanji, akan selalu menjagamu.
Tapi kau selalu pergi bersama kekasih barumu.


Kemudian pada bagian chorus terlihat jelas sosok inferior pada lagu ini adalah seorang yang pasrah dan mencoba berdamai dengan situasi buruk yang ada,

“Menikmati pedihnya cinta, pria kesepian.
Menikmati dinginnya hati, pria kesepian."


Pada album keempat, Pejantan Tangguh, cukup banyak lagu sosok inferior. Salah satunya adalah Pemuja Rahasia. Judul itu sudah cukup jelas menggambarkan lagu ini berkisah tentang apa. Penggalan lirik yang menunjukan sisi inferior itu sebagai berikut:

Akulah orang yang selalu menaruh bunga dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu.
Akulah orang yang kan s'lalu mengawasimu,
menikmati indahmu dari sisi gelapku
.”

Dan biarkan aku jadi pemujamu,
jangan pernah hiraukan perasaan hatiku.
Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang,
aku takkan sampai hati bila menyentuhmu.
” 

Penggalan dua bait Pemuja Rahasia di atas jelas menunjukan sisi inferior, bahkan lebih terdengar sebagai seorang pria lemah yang gemar menguntit. Sampai-sampai memutuskan untuk menjadi pemuja rahasia dibanding memberanikan diri mewujudkan impian hidup bersama yang dicintai. 





Konsistensi Eross menulis lagu berlirik sosok inferior terus terjaga hingga saat ini. Singel terbaru Film Favorit - lagu yang dirilis 19 tahun setelah PeDe - pun tetap mengandung unsur inferioritas. Bagian chorus lagu itu berbunyi:

Sama seperti di film favoritmu, semua cara akan kucoba.
Walau peran yang aku mainkan, bukan pemeran utamanya."
 

Eross masih tetap menggambarkan sosok utama pada lagu seorang yang rendah diri dan merasa tak pantas menjadi "pemeran utama" dalam pengandaian upaya menaklukan sosok yang diincar.





Pada awal Maret 2018, Medcom.id mencoba menemui Eross di sebuah hotel bintang lima yang terletak di kawasan Jakarta Pusat. Dengan tenang Eross menjawab pertanyaan demi pertanyaan, sekaligus menceritakan sisi gelapnya.

“Karena pada dasarnya saya lebih suka mengejar daripada dikejar. Kalau cowok harus memperjuangkan apa yang dia pilih, harus fight, kalau jadi cowok kalau mau nge-gas jangan separuh, gas pol sekalian,” jelas Eross di awal perbincangan kami.

Eross menyadari bahwa lagu-lagu dengan lirik sosok inferior tidak berbanding lurus pada efek yang dirasakan pendengarnya. Justru lirik inferior bila dikemas dengan tepat mampu menghasilkan efek semangat bagi pendengarnya.

“Setiap orang punya sisi itu, sisi tidak percaya diri. Terkadang ketika kita mendengarkan lagu-lagu yang merasa tidak percaya diri, justru efek energinya berbalik. Efeknya memberi kekuatan. Liriknya menggambarkan kamu, tetapi vibe-nya memberi kekuatan kamu. Itu ramuan yang saya berikan, seperti lagu Seberapa Pantas itu yang sebenarnya tentang keputusasaan, tetapi vibe-nya memberi semangat.”

Kemampuan Eross membuat lagu dengan lirik seperti itu tidak lahir begitu saja. Eross kecil adalah seorang pendiam yang meredam letupan-letupan emosi di kepalanya dan ragam perasaan di hatinya. Dia menghadapi masalah besar di usia kecil. Perlahan, masalah-masalah yang dialami Eross mengendap dalam pikirannya dan membentuknya jadi pribadi yang tertutup. Sosok inferior yang ada pada lagu-lagu ciptaannya adalah refleksi dirinya.

“Waktu aku kecil, sebelum SD, papa-mama cerai. Dulu aku tidak dikasih tahu mereka sudah berpisah. Lalu aku menata puzzle sendiri mengapa mereka tidak bersama. Aku jadi orang tertutup karena aku merasa berbeda dari anak-anak lain yang ke sekolah diantar bapaknya dan makan bersama keluarga. Dalam hidup aku tidak ada peristiwa seperti itu.”

“Ketika aku punya anak, aku selalu mengenang bagaimana waktu kecil dulu, berusaha membayangkan kenangan bersama orangtua. Tetapi aku tidak punya memori tentang itu. Itu mungkin kenapa aku secara seni suara diberi kelebihan, mungkin karena itu, aku orangnya nahan banget. Dipendam banget. Secara psikologis berpengaruh di aku. Ketika aku ada penyaluran dengan gitar, aku punya energi yang besar banget dan emosiku kemudian tertata lewat musik,” kisah Eross.

Menulis lagu-lagu dengan lirik sosok inferior bisa jadi sarana bagi Eross untuk berdamai dengan masa lalu, juga upaya untuk menjadi "pejantan" yang lebih tangguh. Di samping itu, karya-karya lagu sosok inferior yang ditulis Eross sukses menemani jutaan orang di luar sana yang mengalami kejadian serupa, merasa lemah di hadapan yang didamba.

“Gitar itu menjadi jembatan bagi aku untuk menjadi orang seharusnya. Ketika aku bermain gitar, aku mewakili masa kegelapan aku dulu. Persoalan yang enggak semua orang mengalami. Aku bisa bikin lagu Melompat lebih Tinggi yang riang dan Berhenti Berharap yang dark. Karena aku punya sisi gelap itu.”

Semua orang tentu memiliki masalahnya masing-masing, tetapi tidak semua mampu menyalurkannya pada hal-hal positif seperti yang dilakukan Eross. Persona Eross hari ini tentu berbeda dengan Eross puluhan tahun lalu, tetapi bukan berarti dia melupakan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Sisi gelap itu akan terus bersama Eross dan menjadi tambang inspirasi yang mungkin tak akan ada habisnya untuk digali. Eross adalah pemenang atas masa lalunya, dia mampu beranjak dari lubang hitam getir masa lalu dan mengeksplorasi hal-hal lain di luar itu.

“Kehidupan saya sekarang jauh lebih baik. Ekspresi saya juga sedikit bergeser, seperti album solo gitar saya (Forbidden Knowledge, 2016). Album itu tidak akan ada kalau aku tidak se-settle sekarang. Semua mewakili zamannya. Tetapi dark side yang aku punya akan selalu mengikuti aku meski tidak se-menghantui dulu.”

Di akhir perbincangan, Eross menceritakan salah satu lagu yang berjasa besar menemani masa-masa gelapnya ketika kecil, lagu itu adalah Across the Universe milik The Beatles. Eross menyebut Across the Universe memberinya kekuatan magis untuk menghadapi persoalan yang ada sewaktu kecil. Hingga saat ini, sesekali Eross masih memutar lagu itu.

"Lagu itu (Across the Universe) yang memberi aku kekuatan, membuat merasa tenang dan memberi efek perasaan, 'Ah, aku sendirian juga enggak apa-apa,'" tutup Eross.



 



(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360